Website Berita dan Opini
Indeks

MUNAQOSAH: Ketika Mahasiswa Menyadari Bahwa Penguji Selalu Membaca Halaman yang Tidak Pernah Dibaca Mahasiswa

Munaqosah:
Selebrasi mahasiswa IAI PERSIS Bandung yang sudah mengikuti sidang Munaqosah, Kamis 29 Juli 2026
(Foto WA grup keluarga besar KPI)

 

Oleh Nurdin Qusyaeri 

Kemarin, tepatnya Rabu, 29 Juli 2026, kampus IAI PERSIS Bandung mendadak berubah menjadi arena yang lebih menegangkan daripada final Persib melawan Borneo FC dan Piala Dunia.

Sejak pagi hingga menjelang magrib, para mahasiswa dari Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT), Pendidikan Agama Islam (PAI), Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), Ekonomi Syariah, dan Ilmu Hadis bergantian memasuki ruang munaqosah.

Mereka masuk dengan wajah penuh optimisme.

Keluar dengan dua kemungkinan:

“Alhamdulillah… lulus!”

Atau…

“Alhamdulillah… revisinya cuma sedikit…”

Padahal kata “sedikit” dalam dunia akademik itu elastis.

Bisa berarti dua halaman, loh! Bisa juga dua bab.

Hidup ternyata persis seperti menyusun skripsi. Semuanya diawali dengan fenomena.

Kalau tidak ada fenomena, dosen pembimbing akan bertanya, “Emangnya yang mau kamu teliti apa?”

Begitu juga hidup.

Kalau tidak ada masalah, mungkin kita tidak akan pernah belajar menjadi dewasa.

Lalu menyusun latar belakang.

Aneh memang.

Semakin panjang latar belakang, biasanya semakin besar masalahnya.

Persis seperti curhat.

Kalau curhat sudah satu jam, berarti masalahnya bukan lagi “sedang baik-baik saja.”

Masuk ke rumusan masalah.

Di skripsi, rata-rata hanya tiga pertanyaan.

Di kehidupan?

Jumlahnya tak terbatas.

“Kapan lulus?”

“Kapan kerja?

“Dah punya calon?”

“Kapan menikah?”

“Kapan punya rumah?”

“Kapan punya cucu?”

Sampai akhirnya…

“Kapan istirahat ditanya-tanya?”

Kemudian menyusun tujuan penelitian.

Di proposal semuanya tampak indah.

Setelah penelitian?

Tujuannya tetap, jalannya yang muter-muter seperti “kolecer”.

Bahkan ada mahasiswa yang lebih sering mencari tanda tangan dosen daripada mencari data penelitian.

Ada juga yang saat ketemu dosen, pak mau bimbingan, bisa gak?

Udah bab berapa? Jawab dosen.

Baca Juga:  Refleksi untuk Wisudawan dan Wisudawati IAI PERSIS Bandung ke-XXVI Tahun 2025

Belum pak, mau konsul dulu ini itu-nya..

Euhhh itumah baru bab niat atuh!

Bab berikutnya adalah landasan teori.

Di kampus kita sibuk mengutip para ahli.

Di kehidupan, justru pengalamanlah yang menjadi profesor.

Tidak semua teori mampu menjelaskan kenyataan.

Tetapi kenyataan hampir selalu berhasil mengoreksi teori.

Lalu masuk ke analisis.

Ini bagian paling menguras tenaga.

Karena ternyata data bukan untuk dikumpulkan. Melainkan untuk dipahami.

Sama seperti hidup. Bukan soal berapa banyak pengalaman yang kita miliki.

Tetapi seberapa bijak kita memaknainya.

Setelah itu lahirlah temuan penelitian. Kalau bahasa akademiknya “novelty”.

Kalau bahasa mahasiswa…

“Alhamdulillah… akhirnya ketemu juga.”

Kemudian ditanya, “Apa kontribusi penelitian Anda?”

Pertanyaan yang diam-diam juga akan ditanyakan kehidupan.

Bukan, “IPK kamu berapa?”

Tetapi, “Apa manfaatmu untuk umat?”

Dan akhirnya tibalah kesimpulan.

Mahasiswa merasa perjuangan selesai.

Padahal…

Belum.

Masih ada bab yang tidak pernah ditulis dalam skripsi. Namanya Sidang Munaqosah.

Di sinilah semua teori diuji.

Di sinilah mahasiswa menemukan satu hukum akademik yang berlaku universal.

Penguji selalu berhasil menemukan kalimat yang bahkan penulisnya sendiri sudah lupa pernah menulisnya.

Penguji membuka halaman 87.

“Saudara, maksud kalimat ini apa?”

Mahasiswa langsung membuka halaman yang sama.

Dalam hati bergumam,

“Lho… Duh (sambil tepak jidat) kapan saya nulis ini ya?”

Ada juga momen paling sakral.

Penguji bertanya,

“Coba jelaskan dengan bahasa Anda sendiri.”

Padahal sejak awal skripsi itu memang ditulis dengan bahasa sendiri.

Hanya saja… setelah direvisi pembimbing lima belas kali, bahasanya sudah menjadi bahasa bersama.

Yang paling menghibur adalah ketika penguji berkata,

“Tenang saja… saya hanya ingin berdiskusi.”

Kalimat yang secara ilmiah mampu meningkatkan detak jantung hingga dua kali lipat.

Baca Juga:  Rekonstruksi Kelembagaan: Cerita Kita, Sulit Dicerna Bagi yang Malas Berubah!

Namun, di balik semua tawa dan ketegangan itu, munaqosah mengajarkan satu pelajaran penting.

Hidup tidak cukup hanya memiliki jawaban.

Kita juga harus siap mempertanggungjawabkannya.

Karena setelah lulus dari ruang sidang, masih ada sidang kehidupan.

Pengujinya bukan lagi dosen.

Melainkan waktu.

Masyarakat.

Keluarga.

Amanah.

Dan tentu saja, Allah Swt.

Selamat kepada seluruh mahasiswa KPI, IAT, PAI, PIAUD, Ekonomi Syariah, dan Ilmu Hadis IAI PERSIS Bandung yang hari ini telah berjuang di ruang munaqosah.

Apa dan berapapun hasil angka-nya, hari kemarin kalian telah membuktikan satu hal:

Skripsi memang punya halaman terakhir. Tetapi belajar tidak pernah memiliki kata tamat.

Alhamdulillah kalian hari kemarin lulus dari sidang akademik.

Dan moga kelak, lulus pula dalam sidang kehidupan. Aamiin.

Kepada kalian yang telah lulus:

“Selamat datang di dunia nyata. Setelah sidang munaqosah selesai, ternyata bab berikutnya bukan Epilog… melainkan ‘Revisi’. Dan begitulah hidup.”

Wallahu ‘alam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *