
Oleh Noor Waidah Arifin*
Hari Senin… Ya, hari Senin. Bulan September datang dengan kabar berita yang mengharuskan Bella meluncur ke daerah Kawali karena ada hal yang sangat urgen. Seharusnya bulan September menjadi bulan ceria, tetapi kali ini justru menjadi bulan penderitaan.
Suaminya berkata, “Bella, kita berangkat hari Selasa ke Kawali.”
Namun Bella sangat membencinya, karena sakit telah membuat tubuhnya lemah dan tak berdaya. Bella pun berkata kepada suaminya, “Pak, kalau boleh Bella diizinkan, bagaimana kalau kita ke Kawali hari Sabtu saja? Kebetulan hari Sabtu Bella libur kuliah.”
Suaminya menjawab tegas, “Tidak. Tetap tidak bisa ditawar-tawar.”
Apa boleh dikata, kalaulah seorang roisy memberi mandat, maka harus ditaati dan tunduk patuh.
Ketika Sakit Datang Tanpa Diduga
Hari Rabu, sepulang dari Kawali, tiba-tiba tubuh Bella menggigil kedinginan. Beberapa saat kemudian badannya terasa sangat panas. Bella pun tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tubuhnya lemah, lesu, dan air matanya menetes di pipi, terasa lebih panas daripada demamnya sendiri.
Bella hanya terbaring seorang diri di kamar belakang—dikhawatirkan panasnya akan menular kepada yang lain. Hanya satu yang setia menemani: ponselnya.
Bella sangat membenci sakit, karena sakit membuatnya sadar bahwa orang-orang yang dikira peduli, ternyata tidak benar-benar peduli.
Hikmah Sakit dalam Islam
Menderita sakit memang tidak menyenangkan bagi siapa pun. Namun, bagi seorang muslim, sakit memiliki hikmah yang dalam jika mau direnungi.
Memang benar, rasa sakit sering membuat seseorang menyerah pada penyakitnya, mudah mengeluh, bahkan putus asa. Padahal dalam Islam, sakit bukan selalu musibah, melainkan juga bisa menjadi berkah bagi mereka yang mampu mengambil hikmah darinya.
Menurut Arif Mujahir (2020) dalam kitabnya, Rasulullah SAW mengajarkan agar umat Islam senantiasa bersikap qana’ah — menerima dengan ikhlas keadaan, baik saat miskin maupun ketika sakit.
Lima Hikmah Sakit dalam Islam
1. Menjauhkan dari Api Neraka
Sakit dapat menjadi penyelamat dari siksa api neraka. Rasulullah SAW bersabda:
“Sakit demam itu menjauhkan setiap orang mukmin dari api neraka.” (HR. Al-Bazzar)
Dengan demikian, setiap rasa sakit yang dirasakan seorang mukmin bisa menjadi jalan keselamatan di akhirat.
2. Sumber Kebaikan
Sakit juga bisa menjadi sumber kebaikan bagi seorang muslim yang bersabar. Rasulullah SAW bersabda:
“Sungguh, semua urusan seorang mukmin adalah kebaikan, dan hal itu tidak terjadi kecuali bagi orang beriman. Jika ia mendapat kegembiraan, ia bersyukur, dan itu kebaikan baginya. Jika ia mendapat kesusahan, ia bersabar, dan itu pun kebaikan baginya.” (HR. Muslim)
Setiap ujian, termasuk sakit, bisa menjadi ladang pahala bagi mereka yang mampu bersyukur dan bersabar.
3. Menghapus Dosa
Sakit juga dapat menjadi penghapus dosa. Rasulullah SAW bersabda:
“Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, kesedihan, bahkan kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengannya dosa-dosanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Setiap rasa sakit yang dialami seorang mukmin adalah bentuk kasih sayang Allah untuk membersihkan dosa-dosa hamba-Nya.
4. Mengingat Allah SWT
Sakit mengajarkan manusia untuk kembali mengingat Allah SWT. Kadang, manusia hanya datang kepada-Nya saat kesusahan. Allah SWT berfirman:
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul kepada umat-umat sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan menimpakan kesengsaraan dan kemelaratan supaya mereka memohon kepada Allah dengan tunduk merendahkan diri.” (QS. Al-An’am: 42)
Sakit membuat kita sadar betapa lemahnya manusia tanpa pertolongan Allah.
5. Menumbuhkan Sikap Optimis
Sakit dapat membuat seseorang lebih optimis dan semangat menjalani hidup. Dengan terus mengingat Allah, seseorang akan berjuang untuk sembuh, bertahan, dan memperbaiki kualitas hidupnya.
Sakit bisa menjadi momentum untuk memperkuat iman, menata kembali prioritas hidup, dan memperdalam rasa syukur.
Kesimpulan
Itulah lima hikmah sakit dalam Islam yang bisa direnungkan oleh setiap muslim.
Sakit bukan selalu bentuk musibah, tetapi bisa juga menjadi rezeki spiritual dari Allah SWT yang patut disyukuri. Di balik rasa sakit, ada kesempatan untuk menghapus dosa, memperkuat iman, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
*Penulis: Mahasiswi KPI IAI Persis Bandung
Editor: San






