Mantan RI 1, Wakil Menteri, Mantan Menteri, dan Misteri Utusan Tiga Lapis

Edisi: diplomasi rasa tumpeng

 

Oleh Nurdin Qusyaeri

Ketika Presiden Prabowo mengumumkan delegasi ke Vatikan untuk menghadiri pemakaman Paus Fransiskus, netizen Indonesia sempat mengira ini tim khusus dari Keuskupan Taman Mini.

Tapi ternyata isinya variasi politis dengan bumbu tak terduga: Presiden ke-7 RI: Joko Widodo, Wakil Menteri Keuangan: Thomas Djiwandono, Menteri HAM: Natalius Pigai, dan Ketua Panitia Kedatangan Paus 2024: Ignasius Jonan

Duh ini-mah bukan sembarang utusan, ini tumpeng politik tiga lapis: mantan presiden, wakil menteri, dan aktivis human rights.

Lapis 1: Jokowi sang Mantan, tapi Bukan Biasa

Seperti disebut sebelumnya, Jokowi bukan tamu biasa dalam urusan Paus Fransiskus.

Dia tuan rumah saat Paus mendarat di Jakarta September lalu. Jadi, kalau Prabowo mau utusan yang bukan cuma formal, tapi juga punya emosional ties, maka Jokowi adalah plot twist paling logis.

Tapi tetap, banyak yang nyinyir.

“Prabowo tak kirim wapresnya, malah kirim ‘atasan’ langsungnya.”

Padahal mungkin… ini justru cara halus Prabowo bilang:

“Yang punya relasi yang layak hadir, bukan yang cuma baru dilantik kemarin sore.”

Lapis 2: Thomas Djiwandono, Diplomasi Berdarah Biru

Ini anak muda dari trah politik Orde Baru.

Masih muda, tampan, dan—katanya—punya lidah yang fasih dalam diplomasi.

Mengapa ikut serta?

Ada yang bilang ini bagian dari pengkaderan diplomatik gaya baru ala Prabowo.

Ada pula yang curiga: jangan-jangan ini misi awal menuju kursi Menlu masa depan?

Bisa jadi… karena dalam dunia politik Indonesia,

undangan pemakaman bisa jadi soft-launching karier.

Lapis 3: Natalius Pigai & Ignasius Jonan, Simbol-simbol Sinyal

Pigai bukan sekadar aktivis HAM. Dia suara keras dari wilayah timur,

suara yang kerap berseberangan dengan kekuasaan.

Baca Juga:  Sindiran, Nasi Bungkus, dan Residen yang Baperan

Munculnya dia dalam tim ini bukan kebetulan—ini pesan.

Dan Jonan? Mantan Menteri Perhubungan, mantan Dirut PLN, dan ketua panitia penyambutan Paus 2024.

Dia adalah figur teknokrat yang punya rekam jejak beresin yang berantakan.

Keduanya tampak seperti mewakili:

“Kami bukan hanya kirim pejabat. Kami kirim yang punya koneksi, kontribusi, dan kredibilitas.”

Jadi, kalau kita lihat dari sisi PR dan simbolik, Prabowo sedang bicara dengan bahasa politik 3 dimensi:

  1. Hormat pada tokoh spiritual dunia
  2. Jaga kesinambungan antar rezim
  3. Tes pasar diplomatik

Dan Gibran?

Masih menunggu telpon.

Mungkin dari Roma, mungkin dari SCBD.

Yang pasti, belum dari Vatikan. He he.

Jangan lupa seruput kopi Arabika Manglayangnya, akhi…

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *