Website Berita dan Opini
Indeks

Palestina, Deritamu adalah Deritaku Juga

Palestina, diritamu adalah deritaku

 

Oleh Nurdin Qusyaeri

Sebuah luka menganga di jantung dunia. Gaza, tanah para syuhada, kembali menjadi saksi bisu kebrutalan yang tak terperi.

 

467 hari..

Bukan sekadar hitungan waktu biasa. Itu adalah deretan malam-malam penuh isak tangis. Malam ketika seorang ibu menggenggam tubuh kecil anaknya yang tak lagi bernapas, sembari berbisik lirih, “Sayang… bangunlah… perang sudah selesai.”

Namun anak itu tak bangun. Tak akan pernah bangun.

Di atas reruntuhan rumah yang dulu penuh tawa, kini hanya suara desingan peluru yang berbicara. 47.000 nyawa telah melayang. Angka yang beku. Tapi di balik angka itu, ada senyum yang direnggut, ada janji yang tak pernah sampai, ada masa depan yang dihancurkan sebelum sempat mekar.

Gaza berdarah.

Tapi dunia memilih menutup mata.

Ada yang berkata, “Kami prihatin.” Ada yang berseru, “Kami berduka.”

Namun, apakah mereka yang tertidur di balik debu peduli pada kata-kata kosong? Apakah tangisan seorang anak yang kehilangan ayahnya terobati dengan sekadar kalimat belasungkawa?

Tidak! Gaza tak butuh simpati. Gaza butuh kita. Butuh aksi nyata.

Namun, saudara-saudaraku…

Di tengah kelamnya ujian, secercah cahaya harapan akhirnya terbit. Pada 15 Januari 2024, sebuah perjanjian gencatan senjata telah resmi ditandatangani. Dan, jika Allah mengizinkan, akan diberlakukan penuh pada 19 Januari 2025.

Sejenak, dunia bernafas lega. Gaza menyambut kabar ini dengan linangan air mata. Tapi kali ini bukan air mata duka. Melainkan air mata haru.

Para ibu yang selama ini menggigil ketakutan setiap mendengar suara dentuman bom, kini berani tersenyum tipis. Anak-anak yang selama ini hanya mengenal kata “perang” mulai bertanya, “Ibu, apa artinya damai?”

Namun, di balik kabar ini, ada luka yang tak serta merta sembuh.

Baca Juga:  Pancasila sebagai Jembatan Terwujudnya Islam Rahmatan Lil 'Aalamin

Gencatan senjata bukan berarti luka Gaza terobati.

Ribuan rumah sudah hancur. 800 masjid roboh. Puluhan ribu orang cacat permanen. Dan yang paling memilukan, ada saudara-saudara kita yang kehilangan seluruh keluarganya.

Gencatan senjata ini adalah awal.

Awal untuk bangkit.

Awal untuk menyembuhkan.

Awal bagi kita untuk lebih peduli.

Maka wahai saudaraku…

Sambutlah berita ini dengan gembira. Bukan sekadar di hati, tapi dengan aksi nyata. Karena saudara-saudara kita di Palestina kini menanti uluran tangan kita lebih dari sebelumnya.

Apa yang bisa kita lakukan?

1. Doa yang Tulus dan Berkelanjutan

Jangan pernah remehkan kekuatan doa. Panjatkan qunut nazilah di setiap shalat kita. Doakan agar Allah benar-benar meneguhkan perdamaian ini, melindungi warga Gaza, dan memberi kekuatan bagi mereka yang masih berjuang.

“Ya Allah, kuatkan hati mereka yang tertindas. Angkat penderitaan saudara-saudara kami di Palestina. Tegakkan keadilan-Mu di atas bumi ini.”

2. Donasi dan Bantuan Kemanusiaan

Jangan biarkan kabar gencatan senjata membuat kita lengah. Luka Gaza belum sembuh. Mereka masih membutuhkan makanan, obat-obatan, selimut, tempat tinggal, dan peralatan medis.

Mungkin, di antara donasi yang kita berikan, ada sekotak susu yang menyelamatkan seorang bayi dari kelaparan.

Mungkin, di antara bantuan yang kita kirimkan, ada selimut yang menghangatkan tubuh seorang anak di tengah malam yang dingin.

3. Gunakan Suara Kita – Jihad dengan Media Sosial

Di era digital ini, perjuangan tidak hanya di medan perang. Twitter, Instagram, Facebook, Threads, dan lainnya adalah senjata kita. Jangan biarkan kebenaran terkubur oleh propaganda.

Sebarkan kabar kemenangan ini. Ceritakan pada dunia bahwa rakyat Palestina bukan teroris, mereka adalah korban. Mereka adalah manusia yang ingin hidup dengan damai, sama seperti kita.

Baca Juga:  Amnesti dan Abolisi untuk Korupsi sebagai Preseden Buruk dan Pengkhianatan Komitmen

4. Boikot Produk Pendukung Penjajahan

Hentikan dukungan pada perusahaan yang secara terang-terangan membiayai penjajahan.

Ini adalah jihad ekonomi. Setiap rupiah yang kita belanjakan pada produk yang mendukung penjajah, adalah peluru yang melukai tubuh saudara kita.

Saudaraku,

Gencatan senjata ini adalah momen bagi kita untuk bertanya pada diri sendiri:

Apakah kita akan berhenti peduli hanya karena bom telah berhenti berbunyi?

Apakah kita hanya akan menjadi penonton yang lega setelah menyaksikan sebuah episode horor berakhir?

Atau…

Apakah kita akan menjadi bagian dari perubahan nyata?

Menjadi tangan yang menghapus air mata, menjadi suara yang terus menggaungkan keadilan, menjadi umat yang benar-benar bersaudara dalam iman dan kemanusiaan?

Palestina menanti kita.

Jangan biarkan mereka bangkit sendirian.

Karena, wahai saudaraku…

Derita Palestina adalah derita kita juga. Wallahu’alam

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *