
Bandung, DARAS.ID — Corps Muballigh Bandung (CMB) resmi melantik kepengurusan periode 2025–2030 sekaligus menggelar Rapat Kerja (Raker) pada Rabu, 4 Februari 2026, bertempat di Pusdai Jawa Barat, Kota Bandung.
Kegiatan ini dirangkaikan dengan silaturahmi keluarga besar CMB dan tausiyah kebangsaan.
Pelantikan pengurus CMB periode 2025–2030 dipimpin langsung oleh Ketua Umum terpilih, Asep Saeful Muhtadi, yang menegaskan komitmennya untuk membawa CMB lebih kokoh, inklusif, dan berdampak nyata bagi umat serta peradaban.
Dalam sambutannya, Prof. Asep menyampaikan bahwa keterlibatannya di CMB telah berlangsung cukup panjang dan penuh makna.
“Saya menikmati ber-CMB sekitar 20 tahun. Saya hari ini diberi amanah, saya terima dengan lapang dada. Saya punya pasukan yang kokoh, sehingga saya optimistis CMB ke depan bisa berjalan sesuai harapan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa arah dan format CMB lima tahun ke depan telah disiapkan secara sistematis dan akan dibahas secara serius dalam agenda rapat kerja.
“CMB ke depan akan diformat sesuai harapan semua. Agenda raker ini disiapkan untuk lima tahun ke depan. Saya juga dekat dengan orang-orang CMB dari berbagai sektor dan ormas lain, sehingga kedekatan dan kebersamaan di CMB ini harus terus dirawat,” katanya.
Prof. Asep juga memohon doa dan dukungan seluruh keluarga besar CMB agar amanah kepemimpinan dapat dijalankan sebaik-baiknya.
“Mohon doa agar saya dapat menjalankan amanah ini sesuai harapan semuanya,” tutupnya.

Tausiyah Kritis: Dakwah dan Tantangan Peradaban
Acara semakin bermakna dengan tausiyah dari Ganjar Kurnia, Rektor Universitas Padjadjaran periode 2007–2015. Dalam tausiyahnya, Prof. Ganjar mengajak seluruh muballigh melakukan refleksi mendalam terhadap kontribusi dakwah dalam membangun peradaban.
“Jangan-jangan, ada atau tidak ada CMB, umat akan tetap seperti ini. Dari tahun 1970-an sampai sekarang, apa kontribusi kita terhadap peradaban?” ujarnya kritis.
Menurutnya, pertanyaan tersebut bukan hanya ditujukan kepada CMB, tetapi juga kepada seluruh gerakan dakwah dan keumatan. Ia menyoroti berbagai persoalan bangsa, termasuk kasus korupsi yang melibatkan institusi keagamaan dan pejabat publik.
“Kementerian agama terkena kasus korupsi sampai hattrick. Jawa Barat juga banyak pejabat yang bermasalah. Sebetulnya di mana posisi kita? Jangan-jangan kehidupan muballigh tidak berkorelasi dengan realitas sosial,” tegasnya.
Prof. Ganjar menekankan pentingnya mengkaji ulang dakwah, baik dari sisi konten maupun metodologi.
“Apakah dakwah kita sudah mengarah pada perbaikan peradaban? Bagaimana ubudiyah tercermin dalam muamalah? Dakwah harus sampai mengubah perilaku,” katanya.
Ia mendorong CMB untuk menyusun kurikulum dakwah yang jelas, berbasis tujuan, serta memiliki grand strategy yang terukur. Selain itu, isu ukhuwah juga menjadi sorotan utama.
“Ukhuwah harus jadi perhatian. Perlu memperbanyak pertemuan dengan yang lain. Sekarang ada kecenderungan membuka masalah di media, podcast, dan sejenisnya, lalu saling menjelekkan,” ujarnya.
Menutup tausiyahnya, Prof. Ganjar mengingatkan pentingnya evaluasi berkelanjutan terhadap setiap program yang dijalankan.
“Semua ini harus dirumuskan dengan evaluasi. Jangan sampai kita datang tidak menggenapkan, pergi tidak mengganjilkan,” pungkasnya.
Pelantikan dan Raker CMB 2025–2030 mengusung tema “Mengokohkan Barisan Muballigh, Meneguhkan Peran Peradaban”, sebagai penegasan komitmen CMB untuk memperkuat dakwah yang tidak hanya normatif, tetapi juga transformatif dan relevan dengan tantangan zaman.
(Noer/Noer)






