Perguruan Tinggi Islam PERSIS: Antara Ideologi, Jihad Intelektual, dan Arah Transformasi

Perguruan Tinggi Islam Persis: Anatar Ideologi, Jihad Intelektual, dan Arah Transformasi
Foto ABR: Desain Universitas Islam PERSIS Bandung

Oleh Prof. Dr. Dody S. Truna, MA.*

Dalam sejarah gerakan Islam di Indonesia, Persatuan Islam (Persis) dikenal sebagai jam’iyyah yang tidak hanya berdakwah di atas mimbar, tetapi juga di ruang intelektual. Gagasan mendirikan perguruan tinggi Islam di lingkungan Persis bukanlah langkah pragmatis, melainkan manifestasi dari kesadaran ideologis, bahwa jihad intelektual adalah kelanjutan dari jihad dakwah.

Perguruan tinggi menjadi wadah sistematis untuk menjaga, mengembangkan, dan mewariskan nilai-nilai tajdid—pembaruan dan purifikasi Islam—melalui pendidikan tinggi yang berkarakter Qur’ani dan Sunnah.

Persis sejak awal berdiri memikul misi besar yaitu menegakkan syariat Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Maka, pendirian lembaga pendidikan, termasuk perguruan tinggi, adalah bagian dari strategi peradaban.

Di tengah arus ilmu pengetahuan sekuler dan dominasi pandangan dunia yang kerap menjauh dari nilai-nilai wahyu, kehadiran perguruan tinggi Islam Persis merupakan bentuk perlawanan ideologis yang konstruktif. Ia hadir sebagai “institusionalisasi pemikiran Persis” di ranah akademik—sebuah laboratorium dakwah ilmiah di mana iman dan ilmu bertemu.

Dalam konteks ini, Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Persis memiliki dua peran besar. Pertama, sebagai pelanjut jihad jam’iyyah—yakni meneguhkan warisan perjuangan Persis di bidang pemikiran dan pendidikan.

Kedua, sebagai pendukung jihad jam’iyyah—yakni menjadi ruang kaderisasi ideologis, tempat tumbuhnya intelektual Muslim yang konsisten dengan nilai-nilai al-Qur’an dan as-Sunnah. Kampus bukan hanya tempat belajar, tetapi juga madrasah ruhiyah dan ma’had dakwah bagi generasi penerus yang akan melanjutkan perjuangan jam’iyyah di masa depan.

Namun, pertanyaan strategis kini mengemuka, ke mana arah perguruan tinggi Persis akan dikembangkan? Apakah tetap berorientasi pada Islamic Studies di bawah Kementerian Agama, atau bergeser menjadi perguruan tinggi umum (PTU) yang lebih luas di bawah kementerian lain?

Baca Juga:  Kemana Sehabis Mu'allimin: Refleksi Kritis untuk Generasi PERSIS

Selanjutnya, bahwa arah paling konsisten dengan identitas jam’iyyah adalah memperkuat eksistensi Institut Agama Islam Persis (IAI Persis) sebagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI).

Karena secara ideologis, IAI Persis adalah perwujudan nyata dari semangat gerakan islah—pembaharuan dan purifikasi—yang menjadi napas Persis sejak awal. Secara kelembagaan, IAI Persis juga memiliki posisi yang kuat di bawah supervisi Kementerian Agama.

Karena itu, peningkatan status IAI Persis menjadi Universitas Islam (UI) Persis Bandung merupakan langkah yang lebih realistis dan strategis ketimbang bergabung atau melebur ke dalam Universitas Persatuan Islam (UNIPI) yang berada di bawah kementerian berbeda. Dengan status universitas keagamaan Islam, Persis dapat memperluas peran keilmuan tanpa meninggalkan akar ideologisnya.

Lebih jauh, transformasi ini memungkinkan sinergi baru antara dua Lembaga yaitu IAI Persis sebagai pusat kajian keislaman yang fokus pada ilmu-ilmu agama dan dakwah, serta UNIPI sebagai pusat kajian umum yang mengembangkan ilmu-ilmu sosial, sains, dan teknologi.

Keduanya bisa berjalan berdampingan dalam satu ekosistem pendidikan tinggi Persis yang komplementer—bukan saling meniadakan, tetapi saling memperkuat.

Gagasan ini merefleksikan pandangan yang matang dan realistis bahwa kekuatan Persis terletak pada kejelasan ideologi dan konsistensi gerakannya.

Transformasi IAI Persis menjadi universitas Islam bukan semata urusan administratif, melainkan langkah ideologis untuk memastikan bahwa jihad Persis tetap hidup di dunia akademik.

Arah pengembangan perguruan tinggi Persis bukan sekadar tentang status, melainkan tentang jati diri. Ketika dunia semakin cair oleh modernitas dan relativisme, keberadaan universitas Islam Persis menjadi penting sebagai mercusuar yang menuntun generasi muda pada ilmu yang berlandaskan iman, dan iman yang melahirkan ilmu.

Maka, sebagaimana ditegaskan dalam refleksi tersebut, perjuangan Persis di bidang pendidikan tinggi adalah bentuk jihad yang tidak berhenti di ruang masjid, tetapi berlanjut di ruang kuliah, laboratorium, dan forum akademik.

Baca Juga:  Revisi di Ujung Malam, Semangat di Tengah Badai

Sebab di sanalah peradaban Islam dibangun—bukan hanya dengan semangat dakwah, tetapi juga dengan kekuatan ilmu pengetahuan yang terarah dan bernilai ibadah.

*Penulis adalah Guru Besar Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung, ketua STAIPI Bandung masa jihad 2001-2005

** Disampaikan dalam forum FGD Senat IAI PERSIS Bandung, pada 11 September 2025 di Hotel Asrilia Bandung 

Editor: ABR.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *