Puasa dan Tubuh: Biopolitik Ramadhan

Ketika Negara, Agama, Kapitalisme, dan Media Memperebutkan Daging Kita

Puasa dan Tubuh: Biopolitik Ramadhan
Ilustrasi dibuat Meta AI

 

Oleh Nurdin Qusyaeri

 

Muqaddimah: Tubuh yang Tidak Pernah Netral

Hari kedelapan. Tubuh mulai menunjukkan tanda-tanda adaptasi total. Lapar tidak lagi terasa sebagai siksaan, tapi sebagai irama baru. Perut tidak lagi memberontak, ia pasrah. Tapi pertanyaannya: apakah tubuh ini benar-benar milik kita?

Setiap hari, kita menerima begitu saja bahwa tubuh ini adalah “milik pribadi”. Kita bisa melakukan apa saja dengannya: memberi makan, membiarkan lapar, menggerakkan ke kiri-kanan, memakaikan pakaian. Tapi benarkah tubuh ini sepenuhnya di bawah kendali kita?

Coba renungkan: ketika azan subuh berkumandang, kita harus berhenti makan. Ketika azan maghrib tiba, kita boleh makan lagi. Di siang hari, kita dilarang merokok, dilarang berhubungan suami-istri, dilarang marah berlebihan. Siapa yang mengatur semua ini? Agama.

Tapi tidak hanya agama. Negara juga ikut campur: menetapkan hari libur, mengatur cuti bersama, bahkan mengeluarkan imbauan tentang harga sembako. Media sosial ikut campur: menampilkan iklan makanan, menyebarkan resep buka puasa, menciptakan tren “buka bersama”. Kapitalisme ikut campur: menjual takjil, mendorong konsumsi, menciptakan kebutuhan palsu.

Tubuh kita, di bulan Ramadhan, menjadi medan pertempuran berbagai kekuatan. Agama ingin tubuh kita patuh. Negara ingin tubuh kita produktif. Kapitalisme ingin tubuh kita konsumtif. Media ingin tubuh kita terlihat. Dan kita, di tengah semua itu, kadang bingung: sebenarnya tubuh ini milik siapa?

Inilah yang disebut filsuf Prancis Michel Foucault sebagai biopolitik—pengelolaan kehidupan, pengaturan tubuh, dan kontrol atas populasi oleh kekuasaan. Dan di bulan Ramadhan, kita mengalami biopolitik dalam bentuk yang paling intens.

Mari kita selami.

Landasan Dalil: Tubuh dalam Islam

Al-Qur’an tentang Amanah Tubuh

Allah SWT berfirman:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (QS. Al-Isra’: 70)

Ayat ini menegaskan bahwa manusia dimuliakan. Kemuliaan itu melekat pada diri kita, termasuk pada tubuh kita. Tubuh bukan sekadar daging dan tulang, tapi amanah dari Allah yang harus dijaga, dirawat, dan digunakan sesuai kehendak-Nya.

Sabda Rasulullah SAW:

إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ

“Sesungguhnya Tuhanmu memiliki hak atas dirimu, dirimu sendiri memiliki hak atas dirimu, dan keluargamu memiliki hak atas dirimu. Maka berikanlah setiap pemilik hak haknya.” (HR. Bukhari)

Hadis ini menarik karena menyebut “hak diri sendiri atas dirimu”. Tubuh kita punya hak: hak untuk istirahat, hak untuk makan, hak untuk sehat. Islam tidak mengajarkan penyiksaan tubuh seperti dalam tradisi asketisme ekstrem. Tapi Islam juga mengajarkan pengendalian tubuh, bukan pemujaannya.

Tubuh yang Akan Dimintai Pertanggungjawaban

Dalam Islam, tubuh bukan sekadar alat, tapi juga subjek yang akan dimintai pertanggungjawaban. Rasulullah SAW bersabda:

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ

“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya, untuk apa ia habiskan; tentang ilmunya, sejauh mana ia amalkan; tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan ke mana ia belanjakan; dan tentang tubuhnya, untuk apa ia gunakan.” (HR. Tirmidzi)

Tubuh kita akan ditanya: untuk apa kau gunakan matamu? Untuk apa kau gunakan telingamu? Untuk apa kau gunakan tangan dan kakimu? Untuk apa kau gunakan seluruh energi yang telah Kami berikan?

Ini perspektif yang sangat berbeda dari pandangan materialis yang melihat tubuh hanya sebagai mesin biologis. Dalam Islam, tubuh adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban.

Biopolitik dalam Tubuh yang Puasa

Michel Foucault dan Pengaturan Kehidupan

Michel Foucault, dalam kuliah-kuliahnya di College de France, menjelaskan bahwa kekuasaan modern tidak lagi bekerja dengan cara “membunuh” (kekuasaan feodal yang menghukum mati), tapi dengan cara “mengatur kehidupan”. Kekuasaan meresap ke dalam relung-relung paling intim tubuh kita: kesehatan, seksualitas, kebersihan, bahkan cara kita makan dan tidur.

Di bulan Ramadhan, kita melihat biopolitik bekerja dengan sempurna.

Agama mengatur kapan kita boleh memasukkan makanan ke tubuh (sebelum subuh, setelah maghrib). Agama mengatur aktivitas apa yang boleh dilakukan tubuh di siang hari (bekerja, ibadah) dan apa yang tidak boleh (makan, minum, hubungan suami-istri). Agama bahkan mengatur apa yang keluar dari tubuh—darah haid membatalkan puasa, muntah disengaja membatalkan puasa, air mani membatalkan puasa. Tubuh dikontrol ketat.

Negara ikut campur. Kementerian Agama menerbitkan imbauan. Pemerintah daerah mengatur pasar. Perusahaan swasta menyesuaikan jam kerja. Birokrasi tetap berjalan, meski para pegawainya menahan lapar. Negara butuh tubuh-tubuh ini tetap produktif, tetap menjadi mesin ekonomi yang bekerja.

Kapitalisme memanfaatkan momen. Menjelang berbuka, iklan makanan bertubi-tubi. Pusat perbelanjaan memperpanjang jam buka. Penjual takjil menjamur di mana-mana. Tubuh yang seharian “dikontrol” oleh agama, di malam hari “dilepaskan” oleh pasar—dengan iming-iming kenikmatan konsumsi. Kapitalisme tahu persis: setelah menahan diri seharian, manusia akan cenderung “balas dendam” saat berbuka. Maka ia menyiapkan segala macam godaan.

Baca Juga:  Anak-Anak Puasa: Ketika Kecil Dipaksa, Besar Terbiasa, Lalu Merindu

Media sosial merekam semua itu. Tubuh yang berpuasa difoto, tubuh yang berbuka divideo, tubuh yang tarawih dijadikan konten. Media sosial tidak hanya merepresentasikan tubuh, tapi juga membentuknya. Orang kini berpuasa agar bisa di-posting. Orang memilih menu sahur agar fotogenik. Orang memilih lokasi buka puasa agar instagramable. Tubuh tidak lagi mengikuti logika ibadah, tapi mengikuti logika algoritma.

Foucault mungkin akan tersenyum getir melihat semua ini. Ia meramalkan bahwa di masa depan, kekuasaan tidak perlu lagi menggunakan penjara dan algojo. Cukup dengan algoritma, cukup dengan iklan, cukup dengan aturan-aturan lembut yang meresap ke kesadaran. Tubuh akan mengawasi dirinya sendiri.

Tubuh dalam Pusaran Kekuasaan

Jalaluddin Rakhmat: Tubuh dalam Komunikasi Antarpribadi

Jalaluddin Rakhmat dalam Psikologi Komunikasi menjelaskan bahwa tubuh adalah medium komunikasi yang sangat kuat. Bahasa tubuh, ekspresi wajah, gerakan tangan—semua menyampaikan pesan yang kadang lebih jujur daripada kata-kata.

Di bulan Ramadhan, tubuh “berbicara” dengan cara yang berbeda:

  • Orang yang puasa berjalan lebih lambat—itu pesan: “Saya sedang menahan energi.”
  • Orang yang puasa lebih mudah tersinggung—itu pesan: “Saya sedang dalam kondisi fisiologis yang rapuh.”
  • Orang yang puasa lebih banyak tersenyum saat jelang berbuka—itu pesan: “Saya bahagia karena sebentar lagi makan.”

Tapi media sosial menangkap tubuh ini dengan cara yang berbeda. Tubuh yang puasa difoto, divideo, diunggah. Ia menjadi tanda yang bisa dimanipulasi. Seseorang bisa berpose “saleh” dengan peci dan sarung, padahal hatinya kosong. Seseorang bisa mengunggah foto “sahur sederhana”, padahal makannya mewah.

Hamka: Tubuh dan Martabat Manusia

Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar dan Falsafah Hidup banyak membahas tentang martabat manusia. Beliau mengingatkan bahwa tubuh ini bukan sekadar materi, tapi memiliki martabat karena ia adalah ciptaan Tuhan yang dimuliakan.

Hamka menulis: “Jangan kau hinakan tubuhmu dengan maksiat. Jangan kau jadikan ia budak nafsu. Jangan kau biarkan ia diperbudak oleh siapa pun selain Allah. Karena tubuhmu adalah amanah, dan amanah harus dijaga.”

Dalam konteks biopolitik, pesan Hamka ini sangat relevan. Di tengah berbagai kekuasaan yang ingin menguasai tubuh kita, kita harus ingat bahwa pemilik sejati tubuh ini adalah Allah. Agama, negara, kapitalisme, media—semua boleh punya kepentingan, tapi yang paling berhak menentukan arah tubuh ini adalah kita, sebagai hamba Allah yang bertanggung jawab.

Kuntowijoyo: Tubuh dan Struktur Sosial

Kutowijoyo, sejarawan dan budayawan Muslim, mengajarkan kita untuk melihat realitas secara struktural. Tubuh tidak hanya dikendalikan oleh kekuasaan individu, tapi juga oleh struktur sosial yang lebih besar.

Kemiskinan, misalnya, membuat tubuh orang miskin berbeda pengalamannya dengan tubuh orang kaya. Orang miskin berpuasa mungkin karena tidak punya makanan, sementara orang kaya berpuasa karena ibadah. Tapi di hadapan Allah, keduanya sama-sama menahan lapar. Bedanya, yang satu dapat pahala, yang satu dapat pahala juga—tapi dengan tingkat kesulitan yang berbeda.

Kuntowijoyo mungkin akan mengingatkan: “Jangan hanya sibuk dengan kesalehan individual, lupa pada struktur yang menindas. Puasa seharusnya membuka mata kita pada penderitaan orang lain, termasuk penderitaan fisik akibat kemiskinan dan ketidakadilan.”

A. Hassan: Tubuh dan Tanggung Jawab Individual

Berbeda dengan Kuntowijoyo yang struktural, A. Hassan, ulama Persis yang terkenal ahli debat, lebih menekankan tanggung jawab individual. Dalam gaya khasnya yang tegas, ia akan berkata:

“Jangan salahkan struktur terus. Struktur itu dibuat oleh manusia. Kalau manusianya tidak berubah, struktur tidak akan berubah. Mulailah dari dirimu sendiri. Kendalikan tubuhmu. Kendalikan nafsumu. Baru setelah itu, urus struktur.”

Tentang puasa, A. Hassan mungkin akan menegaskan: “Puasa itu latihan mengendalikan tubuh. Kalau tubuh bisa dikendalikan, nafsu bisa dikendalikan. Kalau nafsu bisa dikendalikan, masyarakat bisa berubah. Semuanya berawal dari tubuhmu sendiri.”

Agus Salim: Tubuh Diplomat dan Representasi

Agus Salim, diplomat ulung, menunjukkan bagaimana tubuh bisa menjadi alat diplomasi. Beliau fasih berbahasa asing, berpakaian rapi, bergaul dengan siapa saja—tapi tidak pernah kehilangan identitas sebagai Muslim.

Di bulan Ramadhan, Agus Salim mungkin akan mengingatkan: “Tubuhmu adalah duta agamamu. Jika kamu puasa tapi marah-marah, orang akan bilang Islam mengajarkan kemarahan. Jika kamu puasa tapi korupsi, orang akan bilang Islam mengajarkan korupsi. Jagalah tubuhmu, karena ia sedang dilihat dunia.”

Ini relevan di era di mana Islam sering dituduh negatif. Puasa seharusnya menjadi momen untuk menunjukkan bahwa Islam membawa kedamaian, kesabaran, dan keadilan—bukan kemarahan dan kebencian.

M. Natsir: Tubuh Umat dan Kedaulatan

M. Natsir, sang muballigh negarawan, selalu menekankan bahwa umat Islam tidak bisa hidup hanya dengan ritual individual. Ada dimensi kolektif yang harus diperjuangkan. Tubuh umat—fisik, ekonomi, politik—harus diperkuat.

Dalam pidatonya, Natsir sering mengingatkan: “Jangan hanya sibuk dengan puasa dan shalat, sementara tubuh umat lemah, ekonomi umat dikuasai asing, politik umat tidak berdaya.”

Di bulan Ramadhan, kita melihat ironi: secara spiritual kita naik, tapi secara konsumtif kita juga naik. Pengeluaran membengkak. Hutang menumpuk. Tubuh umat secara ekonomi justru melemah. Natsir mungkin akan mengkritik: “Puasa kalian hanya menghasilkan lapar, tidak menghasilkan kemandirian!”

Baca Juga:  Lapar yang Mencerahkan: Ketika Perut Kosong, Mata Hati Terbuka

Abu Nawas: Humor Tubuh yang Dibingungkan

Abu Nawas, seperti biasa, punya cerita. Suatu hari ia ditanya: “Abu Nawas, puasa itu berat ya?”

Ia menjawab: “Berat atau tidak, tergantung siapa yang mengatur tubuhmu. Kalau tubuhmu diatur Tuhan, berat jadi ringan. Kalau tubuhmu diatur nafsu, ringan jadi berat. Tapi kalau tubuhmu diatur istri, itu lain cerita. Bisa berat, bisa ringan, tergantung masakannya.”

Semua tertawa. Tapi Abu Nawas melanjutkan: “Serius, lihatlah orang-orang di bulan Ramadhan. Pagi-pagi mereka diatur Tuhan (harus puasa). Siang-siang mereka diatur bos (harus kerja). Sore-sore mereka diatur pasar (harus beli takjil). Malam-malam mereka diatur media sosial (harus posting). Tubuh mereka capek, bingung, dan akhirnya lupa: sebenarnya mereka ini puasa atau sedang dijajah?”

Politik Tubuh di Bulan Ramadhan

Tubuh yang Dijajah Banyak Pihak

Bayangkan tubuh kita di bulan Ramadhan seperti rumah kos yang disewa banyak pihak:

  • Agama menyewa kamar depan: “Ini untuk ibadah, jangan diganggu dari subuh sampai maghrib.”
  • Negara menyewa kamar tengah: “Ini untuk kerja, harus produktif meskipun puasa.”
  • Kapitalisme menyewa kamar belakang: “Ini untuk konsumsi, beli takjil, beli baju baru, beli kue lebaran.”
  • Media sosial menyewa seluruh dinding: “Ini untuk konten, foto semua aktivitasmu.”
  • Keluarga menyewa dapur: “Ini untuk masak bersama, jangan lupa sahur dan buka bersama.”
  • Tetangga menyewa teras: “Ini untuk silaturahmi, jangan lupa bagi-bagi makanan.”

Tubuh kita kebingungan: sebenarnya saya ini milik siapa? Saya harus nurut yang mana?

Kembali pada Pemilik Sejati

Di sinilah pentingnya kesadaran bahwa tubuh ini pada akhirnya milik Allah. Semua kekuasaan lain—agama (dalam bentuk institusi), negara, kapitalisme, media—halah bersifat sementara dan relatif. Yang mutlak dan abadi hanya Allah.

Maka, di tengah hiruk-pikuk biopolitik Ramadhan, kita harus bisa memilih: kita ikuti aturan agama karena itu perintah Allah, kita penuhi tugas negara karena itu kewajiban sebagai warga, kita konsumsi secukupnya karena itu kebutuhan, kita tampil di media karena itu sunnatullah. Tapi semua harus dalam bingkai kesadaran bahwa yang paling berhak atas tubuh kita adalah Allah.

Imam Al-Ghazali berkata: “Tubuh itu seperti kendaraan, ruh itu penumpangnya. Kendaraan harus dirawat, tapi jangan sampai penumpang lupa tujuan hanya karena sibuk merawat kendaraan.”

Refleksi di Hari Kedelapan: Tubuh Siapa Aku?

Hari kedelapan. Malam telah larut. Diskusi tentang biopolitik ini perlahan menghilang, berganti dengan keheningan kamar. Tubuhku terbaring, lelah setelah seharian menahan lapar dan haus.

Aku bertanya pada tubuhku: “Hei, tadi mereka ribut soal kamu. Negara, agama, kapitalisme, media—semua ngaku punya hak atas kamu. Menurutmu, siapa yang benar?”

Tubuhku diam. Mungkin karena lelah, mungkin karena bingung harus jawab apa.

Tapi kemudian, dari lubuk hati yang paling dalam, aku mendengar bisikannya: “Aku ini pinjaman. Tidak ada yang benar-benar memiliki aku. Agama mengatur aku, negara memakai aku, pasar memanfaatkan aku, media menampilkan aku. Tapi pemilik sejatiku adalah Yang Meminjamkan. Dan Dia hanya minta satu: aku digunakan dengan baik. Tidak disia-siakan, tidak dianiaya, tidak diperbudak.”

Aku tersenyum. Tubuhku ternyata lebih bijak dari para filsuf.

Maka di hari kedelapan ini, aku berjanji pada tubuhku: “Aku akan menjagamu, tapi tidak memujamu. Akan memberimu makan, tapi tidak menjadikanmu budak makanan. Akan merawatmu, tapi tidak melupakan tujuan akhir. Karena suatu hari, kau akan kembali ke tanah. Dan yang akan dihisab bukan hanya ruh, tapi juga kau—tubuhku—atas apa yang kau perbuat di dunia.”

Tubuhku diam. Mungkin setuju, mungkin sudah tidur.

Pamungkas: Antara Kontrol dan Cinta

Pada akhirnya, tubuh kita adalah medan pertarungan. Tapi ia juga bisa menjadi taman ibadah. Tergantung siapa yang menanam, siapa yang merawat, dan untuk siapa ia berbunga.

Agama ingin tubuh kita patuh. Negara ingin tubuh kita produktif. Kapitalisme ingin tubuh kita konsumtif. Media ingin tubuh kita tampil. Tapi di atas semua itu, ada satu kehendak yang lebih lembut sekaligus lebih kuat: kehendak Tuhan.

Ketika kita berpuasa karena cinta kepada-Nya, tubuh tidak lagi merasa diatur. Ia merasa diayomi. Ia tidak merasa dipaksa, tapi dirindu. Ia tidak merasa dikontrol, tapi dicintai.

Maka, di tengah hiruk-pikuk biopolitik Ramadhan, marilah kita kembalikan tubuh ini kepada Pemiliknya. Gunakan ia untuk beribadah, untuk berkarya, untuk berbagi. Tapi jangan biarkan ia diperbudak oleh siapa pun—termasuk oleh nafsu kita sendiri.

Karena pada akhirnya, tubuh yang paling bahagia adalah tubuh yang tahu diri: ia pinjaman, ia sementara, dan ia akan kembali.

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Referensi:

  • Al-Qur’an dan Terjemahannya
  • Hadits Riwayat Bukhari, Muslim, Tirmidzi
  • Imam Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin
  • Michel Foucault, The History of Sexuality, Society Must Be Defended
  • Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Komunikasi
  • Hamka, Tafsir Al-Azhar, Falsafah Hidup
  • Kuntowijoyo, Muslim Tanpa Masjid
  • A. Hassan, Soal-Jawab
  • Agus Salim, berbagai pidato dan memoar
  • M. Natsir, Fikih Dakwah
  • Cerita-cerita Abu Nawas dari tradisi lisan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *