
Oleh Nurdin Qusyaeri
Pada artikel sebelumnya, saya telah membahas bagaimana Lailatul Qadar menjadi malam perubahan takdir. Kali ini, kita akan menyelami lebih dalam doa khusus yang diajarkan Rasulullah SAW di malam mulia ini.
Mengapa beliau mengajarkan kalimat ‘Allahumma innaka ‘afuwwun…’ dan bukan sekadar ‘Astaghfirullah’? Apa rahasia di balik kata ‘afwun yang tidak dimiliki oleh istighfar biasa? Mari kita bedah bersama.”
Malam yang Mengubah Segalanya
Malam ini, di penghujung Ramadhan, langit berbisik. Di antara malam-malam ganjil yang tersisa, ada satu malam yang lebih bertenaga dari seribu bulan. Satu malam yang digambarkan Al-Qur’an sebagai malam yang penuh kedamaian hingga terbit fajar. Satu malam di mana para malaikat turun silih berganti membawa rahmat dan ketetapan. Satu malam yang oleh para ulama disebut sebagai titik balik takdir.
Sayyidah Aisyah RA, istri Rasulullah yang cerdas dan penuh perhatian, pernah bertanya tentang amalan yang paling utama di malam Lailatul Qadar. Beliau bertanya:
“Wahai Rasulullah, jika aku mengetahui suatu malam adalah Lailatul Qadar, apa yang harus aku baca?”
Rasulullah SAW menjawab dengan sebuah doa yang sangat masyhur:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan menyukai permintaan maaf, maka maafkanlah aku.”
Dalam riwayat lain, ada tambahan kata karīmun (Yang Maha Mulia), sehingga bacaannya menjadi: Allahumma innaka ‘afuwwun karīmun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni. Imam At-Tirmidzi, An-Nasai, dan Ibnu Majah meriwayatkan hadis ini dengan derajat yang shahih .
Doa ini pendek, tapi sangat dalam. Ia mengajarkan bahwa esensi Lailatul Qadar bukanlah sekadar mengejar pahala berlipat, tapi mengejar ampunan. Karena dengan ampunan, masa lalu yang kelam bisa terhapus. Dengan ampunan, lembaran baru bisa dimulai. Dengan ampunan, takdir bisa berubah arah.
Mengapa ‘Afwun, Bukan Ghafur atau Istighfar?
Yang menarik dari redaksi doa ini adalah pilihan kata ‘Afuwun, bukan Ghafur, dan bukan pula perintah untuk memperbanyak istighfar. Mengapa demikian?
A. Makna ‘Afwun: Menghapus Tanpa Jejak
Imam Al-Ghazali, seperti dikutip oleh M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah, menjelaskan perbedaan mendasar antara al-‘Afuw dan al-Ghafur .
Al-‘Afuw berasal dari akar kata yang berarti menghapus, mencabut akar sesuatu, membinasakan, atau melenyapkan. Ketika Allah memaafkan dengan sifat Al-‘Afuw, maka dosa-dosa itu dihapus total, tidak menyisakan bekas apa pun.
Ibarat menghapus tulisan di papan tulis hingga bersih, tidak ada coretan tersisa. Bahkan catatan malaikat pun diperintahkan untuk dihapus, dan dosa itu seolah-olah tidak pernah terjadi .
Al-Ghafur, di sisi lain, berasal dari kata ghafara yang berarti menutup. Dosa yang ditutup itu pada hakikatnya masih ada, namun tidak terlihat. Ibarat noda yang ditutup dengan cat baru, noda itu masih ada di bawah lapisan cat, hanya tidak tampak oleh mata .
Dengan kata lain, orang yang mendapat maghfirah (ampunan) dosanya ditutup sehingga tidak dipermalukan di akhirat. Tapi orang yang mendapat ‘afwu (maaf) dosanya dihapus total, seolah tidak pernah berbuat dosa sama sekali.
B. Tiga Aspek ‘Afwu Menurut Ibnu Al-Jauzi
Dalam kitab Minhaju Al-Qashidin, Imam Ibnu Al-Jauzi menjelaskan bahwa makna ‘afwu dalam doa ini meliputi tiga aspek :
1. ‘Afwun fi al-Abdân (ampunan pada badan) – berupa perlindungan dan kesembuhan badan dari segala penyakit, serta keberkahan dalam kesehatan dan harta.
2. ‘Afwun fi al-Adyân (ampunan pada agama) – berupa kemudahan dalam melakukan kebajikan, ibadah, dan segala amalan akhirat. Dalam konteks Lailatul Qadar, kemudahan meraih malam mulia dengan rangkaian ibadahnya.
3. ‘Afwun mina al-Dayyân (ampunan dari Allah) – dimaafkannya segala dosa sehingga dijauhkan dari siksa akhirat.
Jika Allah telah memaafkan kita dengan sifat ‘Afuw-Nya, maka sebagaimana dikatakan Ibnul Qayyim, segala kebutuhan kita akan datang tanpa kita minta .
C. Istighfar: Permohonan Ampunan dengan Lisan
Sementara itu, istighfar (استغفار) adalah permohonan ampunan yang diucapkan dengan lisan. Ia berasal dari kata ghafara yang sama dengan akar Ghafur. Istighfar adalah pintu menuju ampunan, namun ia masih dalam tataran permohonan, belum tentu dikabulkan.
Al-Hasan Al-Bashri, seorang sufi kenamaan, ketika ditanya mengapa istighfar menjadi solusi atas berbagai masalah, menjawab dengan mengutip Surah Nuh ayat 10-12 :
“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12)
Istighfar adalah sarana, sedangkan ‘afwu adalah tujuan. Di malam Lailatul Qadar, kita tidak hanya diminta untuk beristighfar (memohon), tapi langsung menuju pada hakikat ampunan yang menghapus total.
Perbandingan Makna
Aspek ‘Afwun Ghafur Istighfar
Makna dasar:
‘Afwun= Menghapus, melenyapkan; Ghafur= Menutup; Istighfar= Memohon ampunan
Akibat pada dosa:
‘Afwun= Dihapus total, tak berbekas;
Ghafur= Ditutup, masih ada;
Istighfar= Permohonan, belum tentu dikabulkan.
Ibarat:
‘Afwun= Menghapus tulisan sampai bersih;
Ghafur= Menutup noda dengan cat baru;
Istighfar= Meminta penghapusan
Tingkat:
‘Afwun= Puncak ampunan;
Ghafur= Level menengah;
Istighfar= Sarana menuju ampunan
Hikmah di Balik Pilihan Kata
Mengapa Rasulullah SAW mengajarkan doa dengan kata ‘afwun di malam Lailatul Qadar?
Pertama, Lailatul Qadar adalah malam perubahan takdir. Kita sedang memohon agar Allah tidak hanya menutupi masa lalu kita, tapi menghapusnya total sehingga kita bisa memulai lembaran baru yang benar-benar bersih. Ibarat kertas yang baru, tanpa coretan, tanpa noda.
Kedua, kata ‘afwun juga mengandung makna “kelebihan” atau “berlimpah”. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 219, kata al-‘afwa diartikan sebagai kelebihan dari kebutuhan pokok yang bisa disedekahkan .
Di malam Lailatul Qadar, kita memohon kelebihan rahmat yang melimpah ruah, bukan sekadar secukupnya.
Ketiga, pengulangan kata dalam doa ini—’afuwwun, al-‘afwa, fa’fu—menunjukkan penekanan pada satu hal: permohonan maaf total. Tiga bentuk kata yang sama dalam satu kalimat pendek adalah isyarat betapa kita sangat membutuhkan penghapusan dosa secara menyeluruh .
Ibnul Qayyim mengatakan, “Jika Allah memberikan ampunan kepada kita, maka segala kebutuhan kita akan datang tanpa kita minta.”
Ini adalah janji bahwa ‘afwu bukan hanya soal dosa yang dihapus, tapi juga pintu rezeki, kebahagiaan, dan kemudahan yang terbuka lebar .
Tiga Makna Lailatul Qadar
Para mufasir menyebutkan tiga makna Lailatul Qadar, dan ketiganya berkaitan erat dengan doa ‘afwun ini:
Pertama, qadr artinya kemuliaan derajat dan kedudukan yang tinggi di sisi Allah. Al-Fakhrurazi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kemuliaan ini datang dari dua sisi: fā’il (pelaku) dan fi’il (perbuatan). Orang yang melakukan ibadah pada malam ini akan menjadi mulia, dan ketaatan yang dilakukan juga bernilai tinggi.
Inilah yang kita raih dengan memohon ‘afwu—kemuliaan setelah dihapuskan dosa.
Kedua, qadr berarti sempit. Disebut Lailatul Qadar karena bumi menjadi sempit oleh turunnya malaikat yang memenuhi setiap sudut. Dalam Tafsir Mizan (20:331) dijelaskan bahwa pada malam itu, tidak ada ruang tersisa untuk setan.
Dengan ‘afwu, kita juga dibersihkan dari segala pengaruh setan yang membuat hati terasa sempit.
Ketiga, qadr berarti ketentuan Ilahi. Inilah malam ketika Allah menentukan takdir semua peristiwa dalam setahun. “Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah” (QS. Ad-Dukhan: 4-5).
Mengikuti Sayyid Husain Fadhlullah, marilah kita perbaiki takdir kita pada malam perubahan takdir ini dengan doa dan amal saleh.
Jadi, Lailatul Qadar adalah malam mengubah qadar. Inilah lailatul bada, malam al-bada. Ubahlah takdirmu dengan doa dan amal salehmu, dengan ora et labora—berdoa dan bekerja.
Refleksi: Memohon yang Terbaik
Di malam-malam yang tersisa ini, mari kita perbanyak doa singkat namun sarat makna ini. Jangan hanya membaca tanpa menghayati. Rasakan setiap kata: ‘Afuwwun—Allah Maha Menghapus; tuhibbul ‘afwa—Dia mencintai permintaan maaf; fa’fu ‘anni—maka maafkanlah aku, hapuskan dosa-dosaku tanpa bekas.
Selain itu, jangan lupa untuk memperbanyak istighfar di waktu-waktu lainnya. Al-Hasan Al-Bashri mengajarkan bahwa istighfar adalah kunci solusi atas berbagai masalah: paceklik, kemiskinan, bahkan kesulitan mendapatkan keturunan . Tapi di malam istimewa ini, kita naik ke level yang lebih tinggi: memohon ‘afwu langsung dari Allah.
Perbanyak juga sedekah, karena sedekah menolak bencana dan mengantarkan doa ke hadirat Allah. Allah berfirman:
“Kepada Allah naik doa-doa yang baik dan amal saleh yang mengangkatnya.” (QS. Fathir: 10)
Jangan sampai kita termasuk dalam golongan yang disebut Rasulullah:
“Sungguh sangat terhina dan rendah seseorang yang datang kepadanya Ramadhan kemudian bulan tersebut berlalu sebelum diampuni dosa-dosanya.” (HR. Tirmidzi)
Maka, di malam-malam yang mulia ini, mari kita sampaikan doa-doa kita dengan penuh ketulusan. Mohonkan ampunan dari dosa-dosa yang mengubah kenikmatan (tughayyirun ni’am), dan dosa-dosa yang menurunkan bencana (tunzilun niqam).
Karena hanya dengan ‘afwu-Nya, kita bisa keluar dari malam ini sebagai pribadi yang baru, dengan lembaran hidup yang bersih, dan masa depan yang lebih cerah.
Allāhumma innaka ‘afuwwun karīmun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annā.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Referensi
- Al-Qur’an dan Terjemahannya
- Hadits Riwayat At-Tirmidzi, Ibnu Majah, An-Nasai
- Imam Al-Ghazali, dalam Al-Maqasid Al-Asna, dikutip dalam Tafsir Al-Mishbah
- M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah
- Imam Ibnu Al-Jauzi, Minhaju Al-QashidinAl-Hasan Al-Bashri, dalam Bustanul Khatib
- Sayyid Muhammad Husain Thabathaba’i, Tafsir Al-Mizan
- Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah, Min Wahyil Qur’an.
- Jalaluddin Rakhmat, “Ubahlah Takdirmu pada Malam Qadar”, dalam Jalan Rahmat: Mengetuk Pintu Tuhan.






