Website Berita dan Opini
Indeks

Senja, Kopi, dan Stoikisme dalam Pilkada Serentak 2024

Kopi, Senja, dan Stoikisme dalam Pilkada Serentak 2024
Foto Detik.com: Herdiat Sunarya saat berpelukan sedih dengan kerabatnya

 

Oleh Nurdin Qusyaeri

Senja turun perlahan di langit Bandung. Hujan yang sempat mengguyur sejak siang menyisakan udara dingin dan wangi tanah basah. Di sebuah warung kopi sederhana di sudut kota Ciganitri, seorang pria paruh baya duduk termenung. Bajunya rapi, jas hitam menggantung di sandaran kursi, dan di hadapannya, secangkir kopi kiriman seorang sahabat dari Gunung Puntang, Kabupaten Bandung, mengepul hangat.

Dia adalah Zain, dosen di sebuah perguruan tinggi Islam swasta yang baru saja selesai memberi kuliah. Di sela mengoreksi tugas mahasiswa, ia menyempatkan waktu untuk bertemu seorang sahabat lama. Malam itu, sahabatnya, Akbar, baru saja mengalami kenyataan pahit yang tak terduga.

Akbar adalah salah satu kandidat Pilkada serentak 2024 yang diperkirakan menang telak. Semua survei—bahkan yang paling netral sekalipun—menempatkannya di posisi puncak dengan elektabilitas 76%.

Namun hasil akhir berbicara lain. Ia kalah tipis, dan lebih menyakitkan, kekalahan itu diiringi berbagai tuduhan kecurangan yang tak dapat dibuktikan.

“Zain,” suara Akbar terdengar berat, seperti terbebani dunia. “Aku sudah melakukan segalanya. Jual sawah, jual mobil, bahkan rumah. Aku gadaikan SK istriku, juga mertuaku. Tapi hasilnya…” Ia berhenti sejenak, matanya menatap kosong pada cangkir kopi yang tak disentuhnya. “Aku kalah. Habis semuanya.”

Zain menghela napas panjang. Ia tahu betapa terpukulnya Akbar. Kekalahan bukan hanya soal angka di kertas, tetapi juga tentang harapan yang runtuh. Di matanya, Akbar bukan sekadar kalah, melainkan terjebak di antara kehancuran materi dan luka batin.

“Akbar,” ujar Zain perlahan, “kau tahu tentang Stoikisme?”

Akbar menggeleng lemah. “Filsafat kuno itu? Apa hubungannya dengan kekalahan ini?”

Zain tersenyum kecil. “Stoikisme mengajarkan kita untuk memisahkan apa yang bisa kita kendalikan dan apa yang tidak. Survei, dukungan, bahkan materi yang kau keluarkan, itu adalah usaha. Tapi hasil akhirnya, Akbar, itu di luar kendalimu. Kita hanya bisa menerima.”

Baca Juga:  Jejak Luka, Jejak Cinta

Akbar mendengus kecil. “Menerima? Kau tak tahu bagaimana rasanya kehilangan segalanya, Zain. Aku telah mengorbankan hidupku untuk ini.”

Zain menatap sahabatnya dalam-dalam. “Aku tahu, Akbar. Tapi ingat, Marcus Aurelius, seorang kaisar Romawi, pernah berkata, ‘Jika dunia ini chaos, tetaplah fokus pada dirimu.’ Kau sudah melakukan yang terbaik, tapi kau juga harus ingat bahwa hidup tidak berakhir di sini.”

“Tapi bagaimana caranya, Zain? Aku bahkan tidak punya rumah untuk kembali.”

Zain menyesap kopinya sebelum menjawab. “Dalam Islam, kita mengenal konsep tawakal, Akbar. Tawakal berarti menyerahkan hal-hal yang di luar kendali kepada Allah, sementara ikhtiar adalah bagian yang sudah kau lakukan. Sekarang waktunya ikhlas. Ikhlas menerima bahwa ini bagian dari rencana Allah yang lebih besar, meski kau belum memahaminya sekarang.”

“Tapi aku kehilangan segalanya,” Akbar mengulang, suaranya nyaris pecah.

“Bukan segalanya, Akbar,” sahut Zain lembut. “Kau masih punya dirimu sendiri, keluargamu, dan waktu untuk memulai lagi. Hidup ini memang berat, tapi seperti kata Seneca, ‘Hidup ini pendek, dan terlalu singkat untuk dihabiskan dengan menyimpan amarah atau rasa kecewa.’”

Akbar terdiam, perlahan mulai mencerna kata-kata Zain. Ia tahu, di balik nasihat itu tersimpan kebenaran.

“Lalu apa yang harus kulakukan sekarang?” tanya Akbar, lebih kepada dirinya sendiri.

“Bangun kembali, Akbar,” jawab Zain. “Jika kau merasa dunia ini tidak adil, jadikan ini pelajaran. Kau mungkin kehilangan harta, tetapi bukan semangatmu. Kau mungkin kalah, tetapi bukan berarti gagal. Kirim karangan bunga kepada pemenang, tunjukkan kebesaran jiwamu, dan mulai lagi dari nol. Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang sabar dan terus berusaha.”

Akbar tersenyum tipis, meski matanya masih menyiratkan luka. Ia tahu Zain benar. Tapi tiba-tiba ia berkata, “Tapi, Zain…”

Baca Juga:  Mengatasi Klaim Kemenangan Pasca Pilkada: Edukasi dan Kesabaran sebagai Kunci Berdemokrasi

“Apa?!” Farhan menjawab sambil menatapnya.

“Tolong bayarkan segelas kopi ku. Uangku habis dikeluarkan buat nyalon Pilkada.” he he.

Zain terdiam sejenak, lalu meledak dalam tawa. “Ha-ha. Siap… lapan anam. Kalau untuk bayar kopi, dosen masih sanggup. Tapi untuk modal kampanye dan bayar utang kalah Pilkada, dosen nyerah dech!” jawabnya sambil terus tertawa.

Malam itu di warung kopi kecil, meski pahit kekalahan masih membayangi, tawa dua sahabat perlahan menghangatkan dinginnya malam.

Di antara canda dan nasihat, harapan baru mulai tumbuh. Akbar tahu, perjalanan hidupnya belum selesai—ia hanya perlu melangkah lagi, dengan hati yanglebih tenang dan keyakinan yang lebih kuat. Wallahu ‘alam

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *