
Oleh Muhammad Ghazi Sungkar
Theater INTUISI, sebuah karya seni teaterikal yang melibatkan 32 anggota Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Institut Agama Islam Persatuan Islam (IAIPI) Bandung, berhasil mencuri perhatian publik.
Pertunjukan ini diselenggarakan untuk memeriahkan Launching Unit Pelaksana Teknis (UPT) Seni Budaya dan Olahraga IAIPI pada Rabu, 18 Desember 2024, bertempat di Auditorium Bandung Creative Hub.
Sebagai pertunjukan teater pertama di lingkup IAIPI, INTUISI menjadi pionir yang tidak hanya memadukan seni, tetapi juga menyuarakan keresahan.
Karya ini lahir dari refleksi terhadap kondisi aktivis mahasiswa yang mulai kehilangan idealisme mereka sebagai agen perubahan dan kontrol sosial.
Fenomena pragmatisme yang melanda tubuh mahasiswa inilah yang menjadi inspirasi di balik lahirnya INTUISI sebagai medium perenungan dan pengingat akan peran strategis mahasiswa di tengah masyarakat.
Diproduksi di bawah kepemimpinan Fauzan Malikul Rohman, Humas HMJ KPI 2024-2025, teater ini diarahkan oleh Ghozi Sungkar selaku sutradara, dengan bantuan Fauzi Mulki Rohim sebagai asisten sutradara.
Teater INTUISI memadukan berbagai elemen seni, seperti musik, puisi, serta visualisasi melalui layar dan efek cahaya yang memikat.

Sebuah Cerita dalam Empat Segmen
Pertunjukan ini terbagi menjadi empat segmen yang menyampaikan kisah mahasiswa dari sudut pandang kehidupan nyata:
Segmen Satu, Awal Perjalanan
Kisah dibuka dengan kehidupan remaja SMA yang baru saja lulus. Karakter Isya, Aiman, Sandika, Fildzah, Silmi, dan Arni memperkenalkan dinamika awal perjalanan mereka menuju dunia kampus. Penutup segmen ini dimeriahkan dengan tarian koreografi khas anak SMA yang penuh semangat.
Segmen Dua, Masa Orientasi
Memasuki segmen kedua, penonton diajak melihat kehidupan mahasiswa baru yang penuh dengan adaptasi dan tantangan selama masa orientasi.
Segmen Tiga, Dilema Idealisme
Segmen ini menggambarkan dilema yang dialami oleh Isya, pemeran utama, saat melihat perubahan drastis yang terjadi pada rekan-rekan mahasiswanya.
Konflik ini diperankan oleh Ripaldi, Fawwaz, Adlan, Dina, Alya, Rani, dan Lani. Dalam proses pencariannya, Isya menemukan bahwa perubahan tersebut dipengaruhi oleh politik balas jasa, sebuah realitas yang sering mewarnai kehidupan aktivis mahasiswa.
Pada segmen ini, puisi karya Khaerul S. Abbas dan Najwa Shihab yang berjudul Mahasiswa dan Realitasnya disampaikan dengan apik oleh Yusfina, Aini, Habibah, dan Davina, menambah kedalaman makna pertunjukan.
Segmen Empat, Harapan dan Asa
Segmen terakhir adalah puncak dari pertunjukan, di mana dialog, puisi, dan musikalisasi berpadu indah. Uty, Rizal, dan Leidza menyampaikan pesan-pesan tentang harapan dan cita-cita mahasiswa.
Pertunjukan ini ditutup dengan lagu “Manusia Kuat” yang dipopulerkan oleh Tulus, dibawakan oleh pemeran utama, diikuti dengan kemunculan seluruh kru dan pemain ke atas panggung.
Kerja Tim yang Solid
Keberhasilan INTUISI tidak lepas dari kontribusi tim pendukung, termasuk tim wardrobe, tata rias, dan dekorasi yang terdiri atas Sumayyah, Dhira, Fatiya, Adel, Hyva, Rafi, dan Ozi. Dua narator hebat, Sumayyah dan Rahma, juga turut memberikan warna tersendiri pada pertunjukan ini.
Apresiasi dan Dampak
Meskipun hanya menjalani tiga sesi latihan dengan durasi rata-rata tiga jam, INTUISI mampu memukau penonton.
Salah satu pelajar dari Pesantren Persatuan Islam (PPI) mengungkapkan, “Karena teater ini, aku jadi makin mantap berkuliah di IAIPI untuk melanjutkan studi di KPI.”
Tidak hanya itu, apresiasi juga datang dari para dosen yang hadir, memberikan pengakuan atas kualitas dan pesan yang disampaikan melalui teater ini.
Theater INTUISI bukan sekadar hiburan, tetapi sebuah gerakan untuk menghidupkan kembali idealisme mahasiswa, mempertegas peran mereka sebagai agen perubahan, dan menantang pragmatisme yang kian menggerogoti dunia aktivisme.
Dengan segala keterbatasannya, INTUISI telah membuktikan bahwa seni adalah medium yang ampuh untuk menyuarakan keresahan dan membangun kesadaran bersama.
Editor: Nurdin Qusyaeri






