
Oleh Nurdin Qusyaeri
Ibu,
Saat bahagia memelukku erat,
Engkau berdiri di kejauhan,
menatapku dengan senyum lembut,
tanpa pernah meminta
sepotong pun dari bahagiaku.
Namun, saat luka merenggut damai,
Ibu datang,
mengulurkan tangannya
untuk mengambil bagian dari pedihku,
seolah semua derita dunia
tak lebih berat dari pundaknya.
Ibu,
yang mencintaiku tanpa batas,
tanpa syarat,
menyelimutiku dengan doa
di setiap hela nafasnya.
Ibu,
yang mengajarkanku sabar,
saat aku ingin menyerah,
tanpa keluh,
tanpa pernah lelah.
Kini aku tahu,
cinta Ibu adalah cahaya yang tak pernah redup,
selalu ada,
bahkan ketika aku buta oleh duniaku sendiri.
Ia mencintai,
bukan hanya dalam tawa dan senyum,
tapi juga dalam luka dan air mata,
membuktikan bahwa cinta sejati
adalah miliknya,
dan aku adalah bagian dari keabadiannya.
Wallahu’alam.






