Website Berita dan Opini
Indeks
Sastra  

Perpisahan itu Tak Pernah Ada

Perpisahan itu Tak Pernah Ada
(Foto LPM Visi) Dua orang manusia yang memilih jalan masing-masing untuk sebuah pegangan yaitu kebaikan.

 

Oleh Nurdin Qusyaeri

Perpisahan, kata itu sering hadir sebagai pedang bermata dua. Ia menggores daging, merobek jarak, menyisakan ruang kosong yang terlampau sunyi.

Namun, benarkah perpisahan itu nyata? Atau hanya ilusi bagi mereka yang mencintai dengan mata?

Lihatlah mereka yang mencintai dengan pandangan semata. Cinta yang terpaut pada wujud, terjebak dalam rupa, dan terpaku pada hadapan. Ketika kelopak mata tertutup, ketika tubuh berlalu, cinta itu pun memudar. Ia luntur bersama bayang, menghilang bersama waktu.

Tapi bagi mereka yang mencintai dengan hati dan jiwa, seperti yang diungkapkan Jalaluddin Rumi, perpisahan hanyalah fatamorgana. Cinta yang tumbuh di dasar kalbu tak pernah benar-benar pergi. Ia bersemayam, mengakar dalam keheningan yang tak terjangkau kata-kata.

Ketika raga terpisah, hati tetap berbicara. Dalam desah napas malam yang lirih, dalam gemuruh hujan yang menyentuh jendela, dalam angin yang berbisik di sela dedaunan — engkau masih di sini. Di dalam diriku. Tak pernah benar-benar pergi.

Perpisahan, dalam cinta yang sejati, adalah jembatan. Ia bukan dinding yang memisah, melainkan lorong yang mempertemukan dalam keabadian.

Sebab cinta yang berakar dalam jiwa, tak terikat ruang dan waktu. Ia adalah nyala yang terus menyala, bahkan ketika malam menelan cahaya.

Lihatlah bintang yang jatuh di langit malam. Ia tampak pergi, menghilang di pelupuk mata. Namun cahaya yang dipancarkannya, telah menempuh ribuan tahun cahaya sebelum sampai padamu.

Begitu pula cinta yang lahir dari hati. Ia terus bersinar, melampaui batas usia dan kematian.

Maka, jika aku harus pergi, jangan tangisi kepergianku. Sebab aku tidak benar-benar meninggalkanmu. Aku ada dalam setiap bait doa yang kau bisikkan, dalam setiap kenangan yang kau simpan, dalam setiap desir angin yang membelai wajahmu.

Baca Juga:  Cinta Ibu: Luka yang Ia Bagi, Bahagia yang Ia Relakan"

Cinta yang sejati tak mengenal perpisahan.

Karena seperti kata Jalaluddin Rumi, “Bagi mereka yang mencintai dengan hati dan jiwa, perpisahan takkan pernah ada.” Wallahu’alam

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *