Website Berita dan Opini
Indeks

Hilangnya Bahasa Ibu

Hilangnya Bahasa Sunda
Foto dibuatkan Meta

 

Oleh Beni Ahmad Nurbaeni

Sebagai ‘urang Sunda’ terasa berat untuk berbahasa Sunda dengan benar dan baik. Selain karena jarang digunakan, juga agak susah bertemu dengan orang-orang Sunda yang menggunakan bahasa Sunda dengan baik dan benar.

Seorang penyanyi tenar berbahasa Sunda saja, ada kesalahan kata yang terselip dalam lagunya. Dalam hal ini, terlepas dari, apakah yang menulisnya beliau atau bukan, tapi kesalahan kata tersebut sudah tersebar dengan boomingnya lagu tersebut, saya lupa judulnya namun kalimatnya berbunyi begini: “Ulah ‘bangga’ bisa gunta-ganti jalu, komo jeung poho dibaju”.

Kata “bangga” dalam kalimat tersebut, jika kita lihat artinya dari Kamus Umum Basa Sunda LBSS (Lembaga Basa jeung Sastra Sunda) halaman 47, artinya: “Hésé kacida” yang dalam bahasa Indonesia artinya sangat susah. Padahal mungkin maksud beliau adalah “Reueus” yang dalam bahasa Indonesianya “Bangga”.

Sehingga bagi sebagian ‘urang Sunda’ yang faham, kalimat “Ulah bangga bisa gunta-ganti jalu” tersebut, merupakan ajakan kepada para wanita Sunda untuk gonta-ganti pasangan, karena kalau kita translit ke bahasa Indonesia akan jadi begini kalimatnya: “Jangan susah untuk gonta-ganti laki-laki”.

Tidak hanya kasus di atas saja, ‘urang Sunda’ sendiri banyak sekali yang kesulitan menempatkan kata yang tepat ketika berbicara dengan yang lebih tua, orang yang dihormati atau juga dengan sesama. Sekali waktu, saya meminta ijin kepada pimpinan saya yang notabéné orang Sunda untuk menjenguk ibu saya yang sedang sakit.

Karena beliau sedang di luar kota, saya texting beliau via Whatsapp begini: “Kang, punten abdi moal lebet damel, pun biang teu damang” (Bang, maaf saya tidak masuk kerja, ibu saya sakit). Setelah saya berada di rumah ibu saya, tiba-tiba beliau texting saya begini: “Kumaha pun biang téh? Teu damang naon?” Pertanyaan yang sulit dijawab, karena menanyakan ibunya dia sakit apa. Seharusnya kalimatnya bukan “Kumaha pun biang téh?” tapi “Kumaha tuang ibu téh?”

Baca Juga:  Your Words Change the World

Dalam bahasa Sunda, jika ada kata “pun” (Pun biang, pun bapa, pun adi, pun lanceuk, pun bojo) itu artinya (Ibu saya, bapak saya, adik saya, kakak/suami saya, istri saya). Kalau bertanya tentang ibu/bapak/adik/kakak atau istri orang yang lain atau orang yang kita ajak ngobrol, kata “pun” berubah menjadi “tuang” (Pun biang jadi tuang ibu, pun bapa jadi tuang rama dst)

Dengan melihat dan mengalami kejadian-kejadian tersebut di atas, sebagai orang Sunda, saya rasa wajib punya kamus bahasa Sunda serta buku-buku yang menjelaskan kata yang tepat untuk orang yang diajak bicara/orang lain dan untuk kita sendiri. Dan menjauhkan kita menjadi bagian dari orang-orang yang salah dalam menggunakan bahasa Ibu, sehingga menjadi bagian dari orang-orang yang menghilangkan bahasa Ibu.

Wallahu a’lam.

 

Jalancagak, 01/05/2025.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *