
Gaza, daras.id – Di pagi yang biasanya penuh takbir dan keceriaan, warga Gaza justru menyambut Idul Adha tahun ini dalam suasana duka dan kehancuran. Perang yang tak kunjung berhenti telah mengubah hari raya kurban menjadi hari ratapan.
Di Khan Younis, Jalur Gaza selatan, tak ada lagi masjid yang utuh. Warga Palestina terpaksa menggelar salat Idul Adha di atas tanah berdebu, di antara reruntuhan rumah dan masjid. Kamel Emran, salah seorang warga, menggambarkan situasi tragis ini sebagai Idul Adha terburuk yang pernah mereka alami.
“Tidak ada makanan, tidak ada tepung, tidak ada tempat tinggal, tidak ada masjid, tidak ada rumah, tidak ada kasur… Keadaannya sangat, sangat berat,” katanya dalam laporan AP News, Jumat (6/6).
Hari raya Idul Adha yang jatuh pada 10 Dzulhijjah seharusnya menjadi momen pengorbanan, syukur, dan kebersamaan. Namun bagi warga Gaza, yang kini memasuki bulan-bulan panjang pengungsian dan kelaparan, perayaan hanyalah kenangan.
Idul Adha dalam Reruntuhan Gaza
Di Kota Gaza, Sanaa Al-Ghola datang ke sebuah pemakaman yang rusak. Ia berdiri di depan makam anaknya, Mohamed al-Ghoul, yang meninggal akibat serangan udara saat hendak mengambil tepung di rumah kakeknya. Sambil menggenggam foto anaknya, ia berkata lirih: “Kami kehilangan rumah, uang, dan segalanya. Tidak ada lagi Idul Adha setelah kamu pergi, anakku.”
Laporan yang sama dari AP News mencatat, untuk tahun kedua berturut-turut, warga Gaza juga tidak bisa menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Penutupan jalur keluar dan kehancuran total membuat mereka terputus dari dunia luar.
Hari Raya Tanpa Perayaan
Di kamp pengungsian Muwasi, pemandangan tak kalah menyayat hati. Tahrir Abu Jazar, seorang ibu lima anak, hanya bisa menghidangkan lentil (kacang lentil) sisa dan nasi seadanya di dalam tenda pengungsian. Ia bahkan tak mampu menyediakan sepotong roti.
“Tidak ada perayaan Idul Adha sekarang karena tidak ada pakaian baru, tidak ada daging kurban, tidak ada hadiah uang, tidak ada kebahagiaan,” ungkapnya. Ia juga menceritakan bagaimana anaknya yang mencoba merasakan suasana hari raya justru ketakutan karena suara pesawat tempur yang melintas.
Di Gaza, perang telah mencabut bukan hanya nyawa dan tempat tinggal, tapi juga makna Idul Adha itu sendiri. Hari raya yang seharusnya menjadi simbol pengorbanan dan harapan kini menjadi penanda kepedihan kolektif.
Sampai kapan dunia membiarkan Gaza tanpa hari raya?
(San)





