
Gaza, daras.id – Serangan Israel dekat lokasi bantuan di Gaza yang dilancarkan oleh militer Israel pada Selasa malam (waktu setempat) menghantam area distribusi bantuan kemanusiaan di Gaza tengah, menewaskan sedikitnya 41 orang dan melukai puluhan lainnya. Serangan ini terjadi di dekat pusat logistik yang dikelola oleh organisasi Gaza Humanitarian Foundation (GHF), tempat ratusan warga Palestina mengantre untuk mendapatkan pasokan makanan dan obat-obatan.
Menurut laporan dari The Guardian, sejumlah saksi mata menyebutkan bahwa drone dan tank Israel menembaki kerumunan warga sipil yang tidak bersenjata, termasuk anak-anak dan perempuan, yang tengah menunggu jatah bantuan di kota Deir al-Balah.
Respons Global dan Tuduhan Pelanggaran HAM
Organisasi Médecins du Monde yang turut menyalurkan bantuan menyatakan bahwa salah satu kantor mereka terkena imbas serangan. Mereka menyebut insiden ini sebagai “pelanggaran terang-terangan terhadap hukum humaniter internasional”.
Militer Israel dalam pernyataan resminya mengklaim telah “melepaskan tembakan peringatan kepada individu mencurigakan” yang dianggap mendekati zona militer aktif. Namun, klaim ini dibantah keras oleh beberapa LSM dan pengamat independen, yang menyebut tidak ada indikasi aktivitas bersenjata di sekitar lokasi kejadian.
Reaksi keras datang dari berbagai penjuru dunia. Beberapa negara Eropa, termasuk Irlandia dan Spanyol, menyerukan penyelidikan independen atas kemungkinan kejahatan perang dalam serangan Israel dekat lokasi bantuan di Gaza. Dewan Keamanan PBB dijadwalkan menggelar sidang darurat malam ini untuk membahas eskalasi kekerasan terbaru di Jalur Gaza.

Kapal Madleen Disita, Aktivis Dipulangkan
Di tengah kekacauan kemanusiaan yang terus memburuk, kabar lain datang dari Laut Tengah. Kapal bantuan Madleen, yang merupakan bagian dari Freedom Flotilla Coalition, dicegat oleh angkatan laut Israel saat mencoba mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Gaza melalui laut. Kapal tersebut disita di perairan internasional dan dibawa ke Pelabuhan Ashdod. Di atas kapal terdapat aktivis dari berbagai negara, termasuk Greta Thunberg.
Para aktivis ditahan selama lebih dari 36 jam dan dipulangkan secara paksa. Greta Thunberg, dalam pernyataannya kepada media, menyebut penahanan tersebut sebagai “penyanderaan politik” dan menyebut bahwa “genosida terhadap rakyat Palestina sedang berlangsung di depan mata dunia.” Israel membalas tuduhan itu dengan menyatakan bahwa kapal tersebut “berusaha masuk secara ilegal” dan bahwa “bantuan harus disalurkan melalui jalur yang sah”.
Penahanan kapal Madleen dan pembunuhan warga sipil di lokasi bantuan hanya menambah daftar panjang tragedi kemanusiaan yang menimpa Gaza sejak serangan besar-besaran Israel dimulai beberapa bulan terakhir.





