
Internasional, daras.id — Pasukan Israel menembaki warga sipil yang sedang menuju lokasi distribusi bantuan di Gaza pada Selasa (3/6), menewaskan sedikitnya 27 orang, menurut pejabat kesehatan Palestina dan saksi mata. Insiden ini merupakan penembakan ketiga dalam tiga hari terakhir terhadap warga yang mencari bantuan kemanusiaan.
Militer Israel mengklaim pihaknya menembak “ke arah beberapa tersangka individu” yang keluar dari jalur aman yang ditentukan, mendekati pasukan mereka, dan mengabaikan tembakan peringatan. “Militer menembak untuk mengusir tersangka,” ujar juru bicara militer Effie Defrin dalam pernyataannya, seraya menyebut jumlah korban yang diumumkan Hamas sebagai sesuatu yang “dibesar-besarkan.” Namun, ia menyatakan insiden ini sedang diselidiki.
Penembakan terhadap warga sipil ini terjadi setelah dibentuknya titik distribusi bantuan oleh Yayasan Kemanusiaan Gaza (Gaza Humanitarian Foundation/GHF), sebuah lembaga yang didukung oleh Israel dan Amerika Serikat. Titik distribusi tersebut didirikan di dalam zona militer Israel, dengan klaim sebagai upaya untuk mencegah penguasaan bantuan oleh Hamas.
Namun, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menolak sistem distribusi tersebut, dengan alasan tidak menyelesaikan krisis kelaparan di Gaza dan justru memberi peluang bagi Israel untuk menggunakan bantuan sebagai alat tekanan. “Rakyat Palestina dihadapkan pada pilihan paling suram: mati karena kelaparan atau ditembak saat mencoba mengakses makanan yang tersedia melalui mekanisme bantuan militer Israel,” kata Komisaris Tinggi HAM PBB, Volker Türk, dalam pernyataannya yang dikutip dari AP News.

GHF menyatakan tidak ada kekerasan yang terjadi di lokasi distribusi, namun mengakui bahwa militer Israel sedang menyelidiki apakah warga sipil terluka setelah melintasi batas koridor aman dan masuk ke zona militer tertutup. “Kami berduka atas informasi bahwa sejumlah warga sipil terluka dan terbunuh setelah keluar dari koridor aman yang telah ditentukan,” ujar juru bicara yayasan tersebut.
“Lebih Baik Mati”
Saksi mata mengatakan seluruh penembakan terjadi di sekitar Bundaran Bendera (Flag Roundabout), sekitar satu kilometer dari titik distribusi bantuan GHF di Rafah, kota yang kini sebagian besar tidak berpenghuni dan berada dalam zona militer Israel. Jurnalis tidak memiliki akses bebas ke wilayah ini tanpa pengawalan dan izin militer Israel.
Yasser Abu Lubda (50), pengungsi dari Rafah, menyebut penembakan dimulai sekitar pukul 4 pagi. Ia menyaksikan sejumlah orang tewas dan terluka.
Neima al-Aaraj, perempuan dari Khan Younis, mengatakan tembakan dilakukan secara “indiscriminatif.” Ketika berhasil mencapai titik distribusi, bantuan sudah habis. “Setelah para syuhada dan yang terluka, saya tidak akan kembali,” ujarnya. “Bagaimanapun juga kami akan mati.”

Saksi lain, Rasha al-Nahal, mengaku melihat lebih dari selusin jenazah dan banyak korban luka di jalan. Ia pun kembali dengan tangan kosong, hanya sempat mengumpulkan pasta dari tanah dan mengambil sisa beras yang tercecer dan terinjak-injak. “Kami lebih memilih mati daripada menghadapi ini,” katanya.
Rumah Sakit Dipenuhi Korban Luka
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sedikitnya 27 warga Gaza tewas akibat penembakan tersebut. Juru bicara Palang Merah Internasional, Hisham Mhanna, mengonfirmasi jumlah korban, menyebut rumah sakit lapangan mereka di Rafah menerima 184 korban luka, 19 di antaranya meninggal saat tiba, dan delapan lainnya meninggal saat dirawat.
Jenazah para korban dipindahkan ke Rumah Sakit Nasser di Khan Younis. Menurut kepala perawat rumah sakit, Mohammed Saqr, di antara korban terdapat tiga anak dan dua perempuan. Direktur rumah sakit, Atef al-Hout, mengatakan mayoritas korban mengalami luka tembak.
Seorang jurnalis Associated Press yang berada di lokasi melaporkan bahwa banyak warga kembali dari titik distribusi dalam kondisi kosong tangan, sementara kantong-kantong tepung kosong yang berlumuran darah tergeletak di tanah.
PBB menyebutkan pihaknya juga memiliki informasi bahwa 27 warga Gaza tewas dalam insiden tersebut.
Tentara Israel Tewas di Gaza Utara
Di tempat lain, militer Israel mengumumkan tiga tentaranya tewas di Gaza utara dalam insiden yang disebut sebagai serangan paling mematikan terhadap pasukan Israel sejak gencatan senjata dengan Hamas berakhir pada Maret lalu. Ketiga prajurit, berusia awal 20-an, dilaporkan tewas dalam ledakan di daerah Jabaliya.
Israel memutuskan mengakhiri gencatan senjata setelah Hamas menolak perubahan kesepakatan pembebasan sandera. Sejak itu, ribuan warga Palestina telah tewas akibat serangan udara Israel, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.
Israel mengklaim sistem distribusi bantuan saat ini dirancang untuk mencegah Hamas mencuri bantuan. Namun, PBB menyebut tidak menemukan bukti adanya pengalihan bantuan secara sistematis oleh Hamas. PBB juga menyoroti bagaimana distribusi bantuan kini terhambat oleh pembatasan dari Israel, kekacauan hukum, dan penjarahan.






