
Oleh Nurdin A. Aziz
Ada keheningan yang tidak bisa dibeli oleh kota, dan ada pelajaran yang tak bisa dibayar oleh gelar. Di sini, di antara benih dan lumpur, hidup menjadi lebih jujur.
Menjadi petani bukan hanya tentang menanam dan menunggu panen. Tapi tentang bagaimana kami mempercayai sesuatu yang tak kelihatan tumbuh di bawah tanah.
Petani tidak butuh perpustakaan untuk tahu bahwa hidup ini bukan soal siapa yang paling cepat, tapi siapa yang paling sabar. Biji-biji kecil yang ia tanam adalah doa-doa panjang, dan tanah adalah kitabnya yang paling suci.
Di kota, waktu terasa seperti lomba: siapa lebih sukses, siapa lebih kaya, siapa lebih dulu. Tapi di ladang, waktu berjalan dengan cara yang lebih bijak. Ia tahu kapan harus diam, kapan harus memberi, dan kapan harus mengambil.
Kami tahu, tidak semua yang ditanam akan tumbuh, tapi itu bukan alasan untuk berhenti menanam. Sebab petani hidup bukan hanya dari hasil, tapi dari keyakinan.
Kami tahu, tanah tidak selalu ramah, cuaca tidak selalu bersahabat, dan pasar tidak selalu adil. Tapi kami tetap kembali ke ladang, dengan cangkul dan kesetiaan.
Tanah tidak bisa ditundukkan dengan ambisi, hanya bisa disentuh dengan kesabaran. Alam tidak bisa dikuasai, hanya bisa dijalani.
Petani yang sesungguhnya mengajari bahwa menjadi manusia justru dimulai ketika kita rela menanam sesuatu yang hasilnya tak sempat kita nikmati.





