Website Berita dan Opini
Indeks

Ibu, Anak dan Kisah yang Tak Terlupakan

Ibu, Anak, dan Kisah yang Tak Terlupakan
Foto dibuat nenk Meta

 

Oleh Iim Marlina*

Aku adalah seorang ibu rumah tangga yang tengah menjalani peran mulia membesarkan seorang putri kecil bernama Humaira. Ia adalah denyut hidupku, sumber cahaya dalam keseharianku. Sejak kehadirannya dalam hidupku, naluriku sebagai ibu tumbuh begitu kuat.

Aku menjadi jauh lebih peka, terlebih terhadap kabar-kabar memilukan yang melibatkan anak-anak—terutama kasus kekerasan dan pelecehan. Setiap kali mendengar atau membaca berita semacam itu, hatiku seolah tersayat dan pikiranku selalu terlempar kembali ke masa lalu—pada sebuah peristiwa yang hingga kini masih membekas dan membayangi ingatan.

Kisah ini terjadi ketika aku masih kecil, sekitar kelas tiga sekolah dasar. Suatu siang, aku berjalan pulang bersama seorang teman, kita sebut saja namanya Meti. Demi memangkas jarak, kami memilih melewati jalan pintas, meskipun jalur itu sepi dan jarang dilalui orang. Area tersebut dikenal sebagai tempat pembuangan sampah oleh warga sekitar.

Di sana juga terdapat bekas kolam ikan yang tak lagi digunakan, dan sebuah pohon beringin besar yang konon sering dipakai untuk kegiatan ritual. Di masa itu, unsur mistis masih sangat lekat dalam kehidupan masyarakat kami.

Sebenarnya ada rute lain yang lebih aman, tetapi jalurnya jauh dan memakan waktu lebih lama. Transportasi pada masa itu belum semudah sekarang—anak-anak jarang diantar menggunakan kendaraan, berbeda dengan anak-anak zaman kini yang hampir selalu naik motor atau mobil kemanapun pergi.

Kami dulu terbiasa berjalan kaki, menapaki jalan-jalan kampung meskipun tinggal di kota. Lingkungan pun masih asri; kebun dan lapangan luas menjadi tempat bermain favorit kami, sesuatu yang kini telah tergantikan oleh deretan rumah dan gawai digital.

Hari itu seharusnya menjadi hari biasa bagi kami—bermain, tertawa, merasakan kebebasan masa kecil. Namun semuanya berubah dalam sekejap. Seorang pria asing tiba-tiba menghadang langkah kami. Awalnya kami tidak merasa curiga; kami pikir dia hanya orang dewasa yang mungkin tersesat atau hendak bertanya. Tapi ternyata kami keliru.

Baca Juga:  Raja Emas vs Raja Getah

Tanpa berkata apa-apa, pria itu melakukan sesuatu yang mengerikan—ia membuka celananya dan memperlihatkan bagian tubuh yang tidak seharusnya dilihat oleh anak-anak. Aku terdiam, membeku. Begitu pula Meti. Kami tak paham apa yang sedang terjadi, kami hanya merasakan ketakutan yang luar biasa.

Tanpa berpikir panjang, kami berlari sekuat tenaga menjauh dari tempat itu. Nafasku terengah-engah, jantungku berdetak kencang, seolah hendak meloncat dari dada. Kami terus berlari hingga merasa cukup jauh untuk merasa aman. Setelah berhenti, aku hanya bisa menangis, diliputi perasaan bingung dan ketakutan yang tak mampu dijelaskan dengan kata-kata.

Kini, ketika aku telah menjadi seorang ibu, aku baru benar-benar memahami arti dari pengalaman itu. Aku menyadari betapa pentingnya melindungi anak-anak, betapa luka kecil yang tampak sepele di mata orang dewasa, bisa menjadi trauma mendalam yang menetap dalam jiwa seorang anak hingga dewasa.

Aku tidak ingin Humaira mengalami hal seperti itu. Karena itulah, aku selalu berusaha menanamkan nilai-nilai keberanian, kesadaran untuk menjaga diri, dan keyakinan untuk selalu memohon perlindungan kepada Allah SWT, dimanapun ia berada.

Pengalaman ini menjadi pengingat bahwa dunia tidak selalu ramah bagi anak-anak. Tanggung jawab kita sebagai orang tua, sebagai anggota masyarakat, adalah menjaga mereka dari segala bentuk ancaman. Waspada terhadap lingkungan sekitar bukan sekadar kewaspadaan biasa, melainkan bentuk cinta dan perlindungan nyata terhadap generasi masa depan.

*Penulis adalah mahasiswi KPI B semester VI 

Editor Nurdin Qusyaeri

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *