Website Berita dan Opini
Indeks
Agama  

Musibah dan Keimanan

Musibah dan Keimanan
Foto Anadolu Ajansi

Oleh Dede KS*

Setiap orang yang beriman pasti akan diuji keimanannya. Baik dengan kesenangan, maupun penderitaan. Dalam konteks ketika ujian itu berupa penderitaan, umumnya manusia akan memandangnya sebagai musibah. Berkenaan dengan musibah, di dalam Al-Qur’an Allah Swt. berfirman:

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At-Taghabun: 11)

Secara umum, istilah “musibah” dalam Al-Qur’an memiliki makna yang netral, artinya, tidak selalu negatif maupun positif. Namun dalam konteks ayat ini, musibah yang dimaksud adalah sesuatu yang tidak diinginkan.

Ayat ini mengandung 3 pelajaran yang sangat penting.

Pertama, musibah adalah takdir. Dalam ayat lain Allah Swt. berfirman:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الأرْضِ وَلا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا, لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آَتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al-Hadid: 22-23)

Demikian pula Rasulullah Saw. memberikan penegasan, beliau bersabda:

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Allah telah menetapkan takdir semua makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi.”

Artinya setiap musibah yang menimpa dalam hidup harus disikapi dengan keimanan, yaitu iman kepada takdir.

Disamping mengimani setiap musibah adalah takdir, kita juga harus meyakini bahwa setiap takdir Allah Swt. adalah baik. Rasulullah Saw. bersabda:

عَجِبْتُ لِلْمُؤْمِنِ، إِنَّ اللهَ لاَ يَقْضِي لِلْمُؤْمِنِ قَضَاءً إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ

Aku merasa takjub terhadap orang mukmin, sesungguhnya Allah tidak menetapkan suatu ketetapan bagi seorang mukmin kecuali pasti itu baik baginya.” (HR. Ahmad)

Baca Juga:  Dinamika Dakwah Logika Mistika: Menyatukan Rasio dan Spiritualitas dalam Pemahaman Islam

Kedua, dengan sikap tersebut, yaitu mengimani musibah sebagai takdir, mengembalikan setiap perkara kepada Allah, dan menyatakan di dalam hati serta lisan:

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Sesungguhnya kami milik Allah, dan kepada-Nya lah kami akan kembali.”

Maka Allah akan memberikan petunjuk kepada kita dalam menghadapi musibah. Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “pasti Allah memberi petunjuk pada hatinya” adalah bahwa orang tersebut akan diberi kesabaran dan sikap ridha.

Dengan dua sikap tersebut maka kita akan merasakan ketenangan. Tidak gelisah, tidak khawatir, dan tidak pula menyalahkan takdir, sebaliknya, justru semakin mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Ketiga, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, termasuk hikmah di balik setiap musibah. Allah mengetahui setiap takdir yang telah ditetapkan-Nya bagi hamba-hamba-Nya. Dalam Al-Qur’an, Allah Swt. berfirman:

وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 216)

Sebagaimana telah disebutkan bahwa Allah tidak akan menetapkan satu takdir pun kepada sesorang kecuali di dalamnya terdapat kebaikan. Adapun yang paling mengetahui bentuk kebaikan itu tentu saja hanya Allah Swt. Tugas kita adalah berbaik sangka (husnudzan) kepada-Nya dan menerimanya dengan keimanan.

Kita harus meyakini bahwa setiap ujian dari Allah Swt. bukan untuk menghinakan, tetapi justru untuk mengangkat derajat hamba-Nya. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, dan dalam setiap musibah selalu terdapat kebaikan yang tersembunyi.

Ada orang yang diuji dengan kesulitan, lalu karenanya dia menjadi lebih dekat kepada Allah. Ada juga orang yang diuji dengan kehilangan harta, namun justru dari situlah Allah membuka pintu rezeki yang lebih luas dari arah yang tidak disangka-sangka. Sekali lagi, kita harus meyakini bahwa ada hikmah disebalik ujian atau musibah. Oleh karena itu, jangan berputus asa, sebab ujian adalah jalan untuk menuju kebaikan yang lebih besar dalam hidup kita.

Wallahu a’lam.

Cihampelas, 15/06/2025

*Penulis adalah ketua prodi Ilmu Hadis IAI PERSIS Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *