
Oleh Yuyun Asymiawati*
Pena itu kini terbaring diam, di pojok laci yang nyaris dilupakan. Dulu, ia begitu diagungkan—dipakai mencatat mimpi, mengguratkan cinta, bahkan menyusun peradaban. Tapi sekarang? Ia kalah pamor dari jempol yang sibuk mengetik komentar tanpa pikir panjang.
Padahal, Tuhan pernah bersumpah atas namanya:
“Nun. Demi pena dan apa yang mereka tulis.” (QS. Al-Qalam: 1)
Bukan sumpah biasa, karena tidak semua hal dijadikan bahan sumpah oleh-Nya. Namun hari ini, manusia lebih percaya pada suara keras daripada tulisan jernih. Lebih sibuk membuat konten viral daripada menyusun kalimat yang bermakna.
Menulis kini dianggap sebagai kerjaan ‘sok bijak’, padahal dulu ia adalah tanda hidupnya akal. Pena bukan hanya alat, ia adalah saksi—saksi atas ilmu yang diwariskan, luka yang disembuhkan, dan iman yang dikuatkan.
Menulis sebagai Jalan Sunyi yang Mulia
Jika hari ini kita masih bisa menulis, itu bukan kelebihan, tapi anugerah. Maka menulislah, meski tak ada yang memberi ‘like’. Sebab bisa jadi, tulisanmu bukan untuk hari ini, tapi untuk seseorang yang sedang mencari cahaya esok hari.
Lucunya, saat ini orang berlomba-lomba menjadi konten kreator, tapi tak sempat mencipta isi yang otentik. Lebih banyak mengulang, menyadur, lalu memolesnya dengan suara latar dan caption penuh emosi. Bukan salah platform-nya, tentu. Hanya saja, kadang kita lupa: tidak semua yang ramai itu bernilai, dan tidak semua yang tenang itu layak diabaikan.
Pena tahu diri. Ia tidak pernah mengklaim trending. Tapi sejarah membuktikan:
- Para nabi membawa risalah yang ditulis, bukan diviralkan.
- Para ulama merumuskan ilmu dalam lembaran, bukan dalam durasi 30 detik.
- Bahkan cinta terdalam dulu diungkap lewat surat panjang, bukan emoji api dan hati berwarna-warni.
Pena juga tahu, menulis itu berat. Perlu berpikir. Perlu jujur. Perlu mengakui bahwa otak ini kadang kosong, dan hati ini belum tentu bersih. Mungkin itu sebabnya, banyak yang lebih suka bicara cepat daripada menulis pelan-pelan. Karena bicara bisa dibela dengan, “Cuma seloroh.” Tapi tulisan? Ia jadi saksi. Dan saksi tak bisa ditarik kembali semudah story 24 jam.
Saat Tulisan Menjadi Amal yang Mengalir
Namun justru di situlah letak kemuliaannya. Allah tak akan bersumpah atas hal yang remeh. Maka saat pena disebut di awal Surah Al-Qalam, itu sinyal bagi siapa saja yang masih mau berpikir: bahwa menulis adalah ibadah. Bahkan bisa menjadi amal jariyah, jika yang ditulis adalah kebaikan yang menular.
Maka mari kita buka kembali laci itu. Pegang pena yang sudah lama menunggu. Atau buka laptop, ponsel, kertas lusuh—apa pun medianya. Jangan takut salah. Jangan tunggu sempurna.
Dunia ini sudah terlalu bising oleh suara, dan butuh diselamatkan oleh kata yang tertulis dengan kesadaran.
Menulislah.
Sebab siapa tahu, tulisan kecilmu hari ini adalah jawaban dari doa panjang seseorang di tempat yang tak kamu kenal. Atau setidaknya, menjadi bukti bahwa kamu pernah berpikir—dan tidak sekadar ikut arus yang berlalu begitu saja.
*Penulis Mahasiswi KPI IAI Persis Bandung






