Website Berita dan Opini
Indeks

Ketika Stand-Up Menjadi Tempat Curhat Kolektif

Stand Up Comedy sebagai Curhat Kolektif
Foto: keuangannews.id

Oleh Parihah

Belakangan ini, rasanya hampir mustahil membuka Instagram, TikTok, X, atau YouTube tanpa bertemu potongan-potongan FYP stand-up comedy Panji Pragiwaksono yang bertajuk Mensrea.

Potongan-potongan itu muncul berulang: ada yang ditertawakan, ada yang dibagikan, ada pula yang diperdebatkan habis-habisan. Menariknya, satu panggung bisa melahirkan reaksi yang sangat berbeda. Ada yang merasa terwakili, ada yang lega, tetapi ada juga yang tersinggung dan marah.

Di titik ini, stand-up tak lagi sekadar hiburan. Ia berubah menjadi ruang emosi bersama.

Apa Itu Mensrea?

Lalu, sebenarnya apa yang dimaksud dengan Mensrea?

Mensrea berasal dari istilah hukum Latin mens rea, yang secara harfiah berarti guilty mind, atau niat serta kesadaran di balik sebuah tindakan. Dalam hukum pidana, istilah ini merujuk pada keadaan mental seseorang ketika melakukan suatu perbuatan: apakah ia sadar, sengaja, lalai, atau memang berniat melakukannya.

Sederhananya, hukum tidak hanya menilai apa yang dilakukan seseorang (actus reus), tetapi juga niat dan kesadaran di balik tindakan tersebut. Di situlah mens rea menjadi penting, karena ia menimbang dimensi batin manusia.

Ketika istilah ini dipilih sebagai judul pertunjukan stand-up, Mensrea seolah menegaskan bahwa humor yang disampaikan bukan tanpa maksud. Ada niat sadar di balik setiap materi. Ada kegelisahan yang sengaja dibuka, ada realitas sosial yang sengaja disorot, dan ada emosi publik yang memang ingin disentuh.

Baca Juga:  Republik yang Kehilangan Cermin

Katarsis dalam Psikologi: Mengapa Kita Perlu Meluapkan Emosi

Fenomena Mensrea menjadi semakin menarik jika dibaca melalui kacamata psikologi, khususnya konsep katarsis.

Kata katarsis berasal dari bahasa Yunani katharsis, yang berarti pemurnian atau pembersihan. Dalam psikologi, katarsis dipahami sebagai proses pelepasan emosi yang terpendam—seperti marah, kecewa, lelah, frustrasi, atau kegelisahan—yang lama tidak menemukan jalan keluar.

Psikolog klasik seperti Sigmund Freud melihat bahwa emosi yang ditekan terlalu lama tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berpindah tempat, lalu muncul dalam bentuk lain, seperti ledakan emosi, kecemasan, kelelahan mental, atau bahkan humor.

Dalam konteks ini, tawa bisa menjadi saluran katarsis yang paling aman.

Stand-up comedy bekerja persis di wilayah itu. Penonton tertawa, tetapi tawa tersebut sering kali lahir dari pengakuan batin:

“Iya ya, kok gue ngerasain hal yang sama.”
“Akhirnya ada juga yang berani ngomongin ini.”

Tawa bukan sekadar respons lucu, melainkan pelepasan emosi kolektif yang selama ini terpendam rapi di ruang publik.

Mengapa Ada yang Lega, Ada yang Tersinggung?

Namun, katarsis tidak selalu nyaman. Apa yang bagi sebagian orang terasa melegakan, bagi yang lain justru terasa mengusik. Humor sering menyentuh wilayah paling sensitif dalam diri manusia: emosi yang belum selesai.

Di titik ini, Mensrea berubah menjadi semacam ruang curhat kolektif. Ada yang merasa ditemani, ada yang merasa diserang. Reaksi itu sering kali bukan semata soal materi lelucon, melainkan tentang emosi mana yang sedang siap dilepaskan, dan emosi mana yang masih ingin disembunyikan.

Karena itu, wajar jika satu pertunjukan memunculkan tawa, perdebatan, bahkan kemarahan sekaligus. Yang disentuh bukan hanya logika, tetapi juga batin.

Tawa yang Penuh Makna

Fenomena Mensrea mengingatkan kita bahwa tawa tidak pernah benar-benar netral. Ia bisa menjadi hiburan, tetapi juga bisa menjadi sinyal bahwa ada sesuatu yang sedang kita pendam bersama.

Di balik tawa yang ramai, ada emosi yang sedang mencari jalan keluar. Seperti sebuah ungkapan sederhana namun dalam:

“Laughter is often a way of crying without tears.”

Barangkali, persoalannya bukan soal setuju atau tidak setuju dengan materi stand-up-nya. Pertanyaan yang lebih jujur adalah: emosi apa yang sebenarnya sedang kita lepaskan saat tertawa, dan emosi apa yang masih kita simpan setelah tawa itu reda

Ciaro, Nagreg, 19 Januari 2026

Penulis: Mahasiswi KPI IAI Persis Bandung

Editor: San

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *