Verbal Jurnalising dalam Islam: Terapi Jiwa dan Kesehatan Mental

 

Jurnalisasi Verbal
Foto: Ilustrasi Canva, Verbal – Jurnalising

 

Oleh Popi Sri Mulyani 

Mengungkapkan Isi Hati Lewat Lisan, Menyehatkan Mental dan Menguatkan Iman 

Di tengah semakin tingginya kasus gangguan mental, berbagai metode terapi berkembang untuk membantu manusia menata hati dan pikirannya.

Salah satu metode yang belakangan banyak dibicarakan adalah verbal journaling atau verbal journalising—yakni kebiasaan mengungkapkan isi hati, pikiran, dan perasaan melalui ucapan, bukan hanya tulisan. Menariknya, konsep ini ternyata sudah lama dikenal dalam ajaran Islam, bahkan memiliki dimensi spiritual yang lebih dalam.

Apa itu Verbal Journalising?

Penjurnalan verbal adalah proses menuangkan pikiran, perasaan, keluh kesah, rasa syukur, atau doa secara lisan—baik diucapkan kepada diri sendiri, kepada Allah, atau direkam untuk refleksi diri. Jika penjurnalan konvensional dilakukan dengan menulis di buku harian, penjurnalan verbal dilakukan dengan berbicara. Tujuannya sama: membantu seseorang mengenali emosinya, merapikan pikirannya, dan menemukan ketenangan batin.

Manfaat Verbal Journalising secara Psikologis

Secara psikologis, verbal journalising memiliki beberapa manfaat:

1. Melepaskan tekanan emosi – Mengungkapkan perasaan melalui kata-kata mencegah emosi terpendam yang bisa menjadi sumber stres dan kecemasan.

2.Membantu memahami diri sendiri – Saat berbicara, seseorang terdorong untuk merangkai pikiran dengan jelas, sehingga lebih mudah memahami masalah yang dihadapi.

3. Meningkatkan rasa syukur dan optimisme – Jika diisi dengan ucapan syukur, jurnal verbal membantu otak membangun pola berpikir positif.

4. Mengurangi gejala gangguan mental ringan – Studi modern menunjukkan bahwa berbicara tentang perasaan dapat menurunkan kadar hormon stres dan meningkatkan keseimbangan emosi.

Tinjauan Islam tentang Verbal Journalising

Dalam Islam, kebiasaan mengungkapkan isi hati secara lisan sudah lama diajarkan, terutama dalam bentuk doa, dzikir, dan munajat di waktu-waktu mustajab. Rasulullah ﷺ menyiapkan umatnya untuk berdoa pada segmen malam terakhir, suatu waktu yang penuh keberkahan dan menjadi momen paling tepat untuk menyampaikan isi hati kepada Allah.

Baca Juga:  People Pleaser: Ketika Ingin Disukai Justru Membuat Kita Kehilangan Diri

Allah berfirman:

“Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS.Ghafir [40]: 60)

Dengan kata lain, Allah telah menyediakan “wadah” khusus setiap hari sebelum matahari terbit —waktu tahajud—bagi hamba-Nya untuk meluapkan isi hati. Inilah bentuk jurnal verbal dalam Islam: bukan sekadar terapi mental, tetapi juga ibadah dan sarana mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Bagaimana Verbal Journalising Membantu Kesehatan Mental?

Ketika seseorang terbangun di suatu malam, lalu melafalkan doa, menceritakan keresahan hatinya, dan memohon pertolongan Allah, ia melakukan proses penyembuhan batin. Hatinya menjadi lebih ringan, pikiran lebih jernih, dan emosinya lebih stabil. Secara spiritual, ia merasa tidak sendirian menghadapi masalah hidup.

Maka , Inilah rahasia Islam: berbicara kepada Allah bukan hanya memperkuat iman, tetapi juga menyehatkan mental. Penjurnalan verbal yang dilakukan dalam bentuk doa malam, bisa menjadi “detoksifikasi jiwa” —mengeluarkan beban pikiran, lalu mengisinya kembali dengan energi positif dan keyakinan.

Jadi, penjurnalan verbal dalam perspektif Islam bukan sekedar tren psikologi modern. Ia adalah yang mengajarkan manusia untuk terus berkomunikasi dengan Tuhannya, terutama di waktu-waktu sunyi yang penuh keberkahan.

Dengan menjadikan doa dan munajat sebagai bentuk jurnal verbal, seorang muslim tidak hanya menjaga kesehatan mental, tetapi juga memperkuat ikatan ruhani dengan Allah.

Wallahu’alam

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *