Ketika Anak Tak Lagi Merindukan Orang Tuanya

Anak tak Merindukan Orang tuanya
Foto penulis: Seorang ibu dan anak dikala senja.

Oleh Syipa*

Perubahan zaman berjalan begitu cepat. Dari era tradisional hingga kini memasuki zaman modern, perkembangan teknologi telah membawa pengaruh besar dalam kehidupan manusia.

Segala sesuatu kini terasa lebih mudah diakses, namun pada saat yang sama, kecanggihan teknologi juga menghadirkan tantangan baru bagi orang tua dalam mendidik anak.

Salah satu bentuk teknologi yang paling akrab di masyarakat adalah handphone dan televisi. Keduanya dapat memberi manfaat positif jika digunakan dengan bijak, tetapi juga bisa membawa dampak negatif yang serius.

Banyak anak yang akhirnya kehilangan kendali emosi, menjadi temperamental, tidak patuh kepada orang tua, bahkan kecanduan gadget hingga mengganggu tumbuh kembangnya.

Kesalahan dalam Pola Asuh

Fenomena ini sering kali bermula dari pola asuh orang tua yang kurang tepat. Ada yang terlalu mudah memberikan gadget agar anak diam, ada yang sibuk dengan pekerjaannya sehingga abai terhadap pendidikan anak, dan ada pula yang merasa cukup hanya dengan memenuhi kebutuhan materi dan fasilitas teknologi.

Padahal, anak tidak hanya membutuhkan fasilitas, tetapi juga jiwa orang tuanya. Ketika gadget lebih sering menemani anak dibanding orang tua, ikatan batin (bonding) antara anak dan orang tua semakin rapuh.

Tidak sedikit anak yang merasa lebih nyaman bersama gawai ketimbang bersama ayah dan ibunya. Na’udzubillah, jangan sampai kita menjadi orang tua yang tidak dirindukan oleh anak-anak kita.

Baca Juga:  Brain Rot dan Generasi Z dalam Ancaman Konten Digital Dangkal

Tanggung Jawab Besar Orang Tua

Islam telah menegaskan bahwa orang tua memiliki tanggung jawab mendidik anak dan keluarganya. Allah SWT berfirman dalam Q.S. At-Tahrim ayat 6:

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…”

Ayat ini mengingatkan bahwa tanggung jawab orang tua mencakup pemeliharaan jiwa (akal, hati, pendidikan, pandangan, dan ilmu) serta pemeliharaan raga (fisik, kesehatan, makanan). Artinya, orang tua tidak boleh lalai dalam menanamkan nilai-nilai iman dan akhlak sejak dini.

Tujuan pendidikan anak dalam Islam bersifat ukhrawi, yakni menjaga fitrah anak agar selalu lurus dalam agama Allah. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Ar-Rum ayat 30:

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam) sesuai fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu…”

Mengapa Harus Mendidik Anak Saleh?

Mendidik anak sholeh bukan hanya demi kebaikan dunia, tetapi juga bekal akhirat. Rasulullah SAW bersabda:

“Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak sholeh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Dengan demikian, anak sholeh menjadi investasi amal yang terus mengalir pahalanya bagi orang tua. Semua usaha, pengorbanan, dan nafkah yang diberikan demi mendidik anak akan bernilai ibadah dan menjadi saksi di hadapan Allah SWT.

Peran Penting Orang Tua

Peran orang tua sangat menentukan arah kehidupan anak. Nabi SAW bersabda:

“Tidak ada seorang anak pun yang dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari)

Itu berarti, orang tua adalah faktor utama pembentuk karakter anak. Namun, selain peran orang tua, ada faktor lain yang juga memengaruhi tumbuh kembang anak, yaitu:

  1. Doa orang tua kepada Allah SWT

  2. Pendidikan yang baik (sekolah atau lembaga yang terjaga)

  3. Lingkungan yang mendukung

  4. Kondisi ekonomi keluarga

  5. Ilmu yang dimiliki

Baca Juga:  Membangun Generasi Emas: Transformasi Pendidikan Melalui 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat

Mengendalikan Teknologi, Bukan Menghindarinya

Teknologi, khususnya handphone, memang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan modern. Tetapi ia tetap bisa dikendalikan. Orang tua perlu mengawasi tontonan, penggunaan waktu, serta isi gadget anak agar tidak merusak jiwa mereka.

Di balik segala sisi negatifnya, teknologi juga bisa dimanfaatkan untuk kebaikan. Banyak konten edukasi, kisah sejarah, hingga pelajaran agama yang dikemas dengan bahasa anak-anak dapat membantu orang tua dalam mendidik generasi.

Menjadi orang tua bukan hanya soal memenuhi kebutuhan materi, tetapi lebih pada menghadirkan jiwa, kasih sayang, dan bimbingan untuk anak-anak. Jangan sampai anak lebih merindukan gadgetnya dibandingkan kehangatan orang tuanya.

Mari berdoa dan berusaha agar kita termasuk orang tua yang dirindukan, yang keberadaannya menenangkan hati anak, yang didoakan kebaikannya di dunia dan akhirat. Semoga Allah memudahkan kita dalam mendidik anak-anak menjadi generasi sholeh dan sholehah. Aamiin.

*Penulis adalah mahasiswa KPI B semester VII 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *