Website Berita dan Opini
Indeks
Opini  

Brain Rot dan Generasi Z dalam Ancaman Konten Digital Dangkal

Konsumsi konten digital dangkal kian merajalela, menyebabkan penurunan daya pikir, fokus, dan nalar kritis generasi muda.

brain rot generasi Z
Gambar Ilustrasi

Oleh Ihsan Nugraha

Fenomena brain rot kini tak lagi dianggap lelucon di jagat maya. Istilah yang awalnya digunakan secara guyon oleh generasi Z untuk menyebut konsumsi konten receh, kini telah berkembang menjadi sebuah kekhawatiran kolektif lintas disiplin. Brain rot generasi Z bukan sekadar metafora; ia nyata, serius, dan meluas—didukung data, pengakuan pakar, dan pengalaman masyarakat.

Laporan Harian Kompas edisi April dan Juni 2025 membuka tabir ini lewat wawancara dengan 17 pakar dari berbagai bidang: psikiatri, psikologi, filsafat, komunikasi, hingga antropologi digital. Hasilnya mencemaskan—sebanyak 81,8% pakar sepakat bahwa brain rot merupakan istilah populer yang mewakili kemunduran fungsi kognitif akibat konsumsi konten digital yang cepat, pendek, dan dangkal.

Paparan Konten Dangkal: Menyerang Otak, Menurunkan Nalar

Konten cepat dan singkat seperti Reels, TikTok, meme instan, hingga video viral absurd, seperti Skibidi Toilet atau Tralalero Tralala, ternyata bukan sekadar hiburan. Di balik gelak tawa singkat yang mereka hadirkan, terselip bahaya: pemicu adiksi digital.

Neurosaint Kristiana Siste Kurniasanti dari RS Cipto Mangunkusumo menjelaskan bahwa penggunaan media sosial berlebih menyebabkan hipoaktivasi otak—kondisi di mana bagian otak yang mengatur fokus, konsentrasi, dan pengambilan keputusan melemah. Ini diperburuk oleh sekresi dopamin berlebihan yang memicu kecanduan.

Psikolog Jati Ariati bahkan menyebutnya sebagai bentuk intellectual deficiency atau penurunan intelektual akibat konsumsi konten dangkal yang membuat otak malas berpikir mendalam. Ketika konten semacam ini mendominasi konsumsi harian, fungsi-fungsi penting seperti pemecahan masalah, pengendalian diri, dan daya kritis melemah drastis.

Baca Juga:  Mengapa Literasi Digital Anak Perlu Dimulai Sejak Dini

Gangguan Kognitif dan Psikis Meluas

Jajak pendapat Litbang Kompas terhadap 510 responden di 54 kota menunjukkan bahwa sebanyak 53,5% warga pernah mengalami gangguan fisik dan psikis akibat terlalu lama menatap layar. Dari jumlah itu, 13,6% mengaku mengalami kecemasan, sulit tidur, dan stres.

Bahkan 5,17% responden merasa enggan bersosialisasi. Selain itu, 39,6% mengalami gangguan fisik seperti gangguan mata, pola makan, dan kecenderungan hidup sedenter. Data ini memperkuat temuan para pakar: bahwa konsumsi konten digital bukan sekadar soal preferensi, melainkan telah memengaruhi keseimbangan psikis dan kognitif secara sistemik.

Brain Rot dan Generasi Z: Kelompok Paling Rentan

Sebanyak 84% pakar menyebut bahwa generasi Z (lahir 1995–2012) dan generasi alfa (2013–2025) adalah kelompok paling terdampak. Generasi muda yang lahir di tengah revolusi digital kerap menjadikan gawai sebagai bagian tak terpisahkan dari aktivitas sehari-hari—baik belajar, berinteraksi, maupun mencari hiburan.

Namun, akses bebas tanpa literasi digital yang memadai membuat mereka terperangkap dalam konten hiburan yang dangkal. Mereka terbiasa dengan stimulus cepat dan instan, sehingga menurunkan kemampuan otak untuk menyerap informasi mendalam dan berpikir reflektif.

Firman Kurniawan, pakar budaya digital dari Universitas Indonesia, menyatakan bahwa dampak brain rot lebih parah terjadi pada kelompok kelas menengah ke bawah. Rendahnya literasi digital dan terbatasnya akses hiburan alternatif di luar gawai membuat generasi muda dari kalangan ini lebih rentan terhadap konten impulsif.

Baca Juga:  Literasi Media Bagi Kalangan Pelajar dan Pemuda

Algoritma, Pola Asuh, dan Budaya Instan: Kombinasi Berbahaya

Brain rot generasi Z bukan terjadi secara kebetulan. Terdapat tiga penyebab utama menurut para pakar: rendahnya literasi digital dan lemahnya pola asuh, pola konsumsi masyarakat yang impulsif, serta algoritma digital yang sengaja dirancang untuk mempertahankan perhatian.

Banyak orangtua menyerahkan pengasuhan anak kepada gawai tanpa pendampingan yang bijak. Di sisi lain, algoritma media sosial—yang kini makin canggih karena didukung kecerdasan buatan—terus menyajikan konten yang dirancang untuk membuat pengguna betah berlama-lama, bukan menjadi lebih cerdas.

Dokumen internal TikTok yang dibocorkan ke The New York Times mengonfirmasi hal ini. Algoritma platform tersebut dirancang untuk mempertahankan durasi tonton maksimal, bukan untuk menyajikan konten berkualitas. Meta pun diketahui menyadari dampak negatif Instagram terhadap kesehatan mental remaja perempuan, namun tetap membiarkannya berjalan.

Ika Karlina Idris, pakar media digital dari Monash University Indonesia, menyebut bahwa tidak ada niat baik dari industri platform ini, kecuali jika ada tekanan hukum atau ekonomi. Ruang digital telah berubah menjadi ladang industri atensi yang menjadikan pengguna sebagai obyek kapitalisme data.

Mengembalikan Ruang Digital yang Bernalar

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Digital kini mulai merespons. Menteri Meutya Hafid telah mengesahkan PP Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas). Regulasi ini mengatur fitur khusus anak dan batas usia akses, dengan prinsip safety by default dan best interest of the child.

Kebijakan ini melarang praktik profiling terhadap anak serta mendorong platform untuk menyediakan konten yang lebih edukatif dan bertanggung jawab.

Beberapa platform mulai merespons. TikTok meluncurkan fitur “waktu tenang” untuk remaja di bawah 16 tahun, sementara Meta membatasi siaran langsung dan memburamkan konten sensitif. Namun, langkah ini masih jauh dari cukup.

Diperlukan perubahan dari tiga arah: regulasi tegas dari pemerintah, tanggung jawab moral dari industri platform, dan literasi kritis dari masyarakat.

Membangun Kembali Nalar Generasi Digital

Fenomena brain rot generasi Z merupakan alarm serius. Kita tak bisa lagi menertawakannya sebagai guyonan semata. Di era ketika informasi lebih mudah diakses daripada sebelumnya, justru nalar kritis, kedalaman berpikir, dan kesehatan mental menjadi lebih rapuh.

Sebagaimana disampaikan Menteri Meutya Hafid, ruang digital seharusnya menumbuhkan nalar, empati, dan karakter bangsa—bukan justru mengikisnya. Tugas ini adalah tanggung jawab kolektif, dari negara, platform, pendidik, hingga pengguna itu sendiri.

Karena jika generasi muda kehilangan daya kritisnya hari ini, kita semua yang akan membayar mahal di masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *