Website Berita dan Opini
Indeks
Agama  

Sejarah Kesombongan: Dari Iblis hingga Era Digital

Sejarah Kesombongan
Ilustrasi (Pinterest)

Oleh Hendi Rustandi*

Kesombongan bukan sekadar sikap buruk dalam pergaulan. Ia adalah penyakit hati paling tua yang pernah ada. Dari zaman Iblis hingga era media sosial, kesombongan selalu hadir dengan berbagai wajah dan membawa akibat yang sama: kehancuran.

Awal Mula Kesombongan

Sejarah kesombongan bermula ketika Allah memerintahkan para malaikat untuk sujud kepada Nabi Adam. Semua malaikat patuh, kecuali Iblis. Ia menolak dengan alasan merasa lebih mulia—diciptakan dari api, sedangkan Adam dari tanah. Sejak itu, kesombongan menjadi pintu kekufuran sekaligus sumber segala petaka.

Qabil dan Habil

Setelah manusia turun ke bumi, kisah kesombongan berlanjut pada anak-anak Adam. Qabil iri kepada Habil, merasa lebih berhak atas sesuatu yang Allah anugerahkan. Perasaan sombong itu berubah menjadi amarah, hingga berakhir dengan pembunuhan pertama dalam sejarah manusia. Semua bermula dari kesombongan hati.

Baca Juga:  Main Gadget: Nikmat Waktu atau Penyesalan di Hari Akhir?

Kaum yang Runtuh karena Kesombongan

Banyak umat terdahulu binasa karena kesombongan.

  • Kaum Nabi Nuh menolak kebenaran karena menganggap pengikut beliau hanyalah orang-orang hina.
  • Kaum ‘Ād dan Tsamūd bangga dengan kekuatan fisik serta teknologi bangunan mereka, hingga melupakan Tuhan.
  • Firaun mencapai puncak kesombongan politik dengan mengaku sebagai tuhan, yang akhirnya binasa di Laut Merah.
  • Qarun dengan kekayaannya merasa semua hasil usaha sendiri, lalu ditelan bumi.

Pola sejarah selalu sama: kesombongan menutup hati dari kebenaran dan berakhir dengan kehancuran.

Kesombongan di Zaman Modern

Kesombongan tidak berhenti di masa para nabi. Ia hanya berganti rupa.

Kolonialisme lahir dari bangsa yang merasa lebih tinggi lalu menindas bangsa lain. Rasisme tumbuh dari kesombongan etnis. Ideologi besar yang memicu perang pun sering berawal dari arogansi politik. Bahkan, kesombongan manusia terhadap alam kini melahirkan krisis iklim yang kita rasakan bersama.

Wajah Baru Kesombongan di Era Digital

Di era media sosial, kesombongan menemukan panggung baru.

  • Ada yang sibuk pamer prestasi atau gaya hidup.
  • Ada yang merasa paling pintar dan meremehkan orang lain.
  • Bahkan muncul kesombongan spiritual: merasa paling dekat dengan Tuhan sehingga merendahkan sesama.

Rasulullah SAW mengingatkan:

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar biji sawi.” (HR. Muslim).

*Penulis: Dosen dan Mahasiswa Doktoral

Editor: San

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *