Belajar Melambat di Perjalanan Menuju Pasir Jawa, Kamojang

Catatan reflektif dari perjalanan menuju Pasir Jawa, Kamojang

Pasir Jawa Kamojang
Pemandangan pegunungan di kawasan Pasir Jawa, Kamojang, Ibun. (San/Daras.id)

Oleh Ihsan Nugraha

Pagi itu, matahari belum terlalu tinggi ketika saya memulai perjalanan kaki menuju Pasir Jawa, Kamojang. Sekitar pukul setengah delapan, udara masih terasa dingin meski cahaya matahari mulai menembus sela-sela pepohonan. Dingin yang menggigit berpadu dengan semangat untuk menapaki langkah demi langkah menuju perbukitan di kawasan panas bumi itu.

Perjalanan ini bisa dibilang hiking ringan. Jalur yang saya lalui menanjak perlahan, melewati jalan setapak dengan pemandangan alam yang masih asri. Di beberapa titik, tubuh mulai berkeringat. Udara dingin tak lagi mampu menahan panas dari dalam tubuh. Keringat mengalir bersamaan dengan rasa lelah yang justru menenangkan.

Di perjalanan menuju Pasir Jawa, Kamojang. Pipa-pipa besar pembawa panas bumi tampak berkelok mengikuti kontur bukit. Bau belerang sesekali tercium, mengingatkan bahwa saya sedang melintasi kawasan energi Kamojang yang sudah lama menjadi saksi hubungan manusia dengan alam. Dalam diam, saya merasakan bahwa setiap langkah kecil ini menyambung dengan sesuatu yang lebih besar: ritme bumi itu sendiri.

Baca Juga:  PULANG: Refleksi Sebuah Perjalanan

Menjelang pertengahan jalan, seekor babi hutan melintas di kejauhan. Ia tidak mengganggu, hanya lewat dengan tenangnya, seolah ingin menunjukkan bahwa tempat ini bukan sepenuhnya milik manusia. Momen singkat itu justru membuat saya menunduk — bukan karena takut, tetapi karena merasa diingatkan bahwa alam punya tata cara dan penghuni yang mesti dihormati.

Berjalan kaki di jalur menuju Pasir Jawa, Kamojang membuat saya belajar satu hal penting: melambat bukan berarti berhenti. Dalam dunia yang serba cepat, kita sering lupa merasakan udara, memperhatikan suara dedaunan, atau sekadar mendengar detak langkah sendiri. Melalui perjalanan ini, saya menemukan bahwa melambat adalah cara tubuh dan pikiran menyatu kembali dengan waktu.

Sesampainya di titik akhir, saya tidak merasa seperti mencapai puncak. Tidak ada euforia berlebihan, tidak pula rasa ingin segera pulang. Yang ada hanyalah rasa cukup — cukup berjalan, cukup bernapas, cukup hadir.

Mungkin di situlah makna belajar melambat: memahami bahwa setiap langkah kecil memiliki nilai, bahwa perjalanan tak selalu tentang sampai, tetapi tentang bagaimana kita berjalan.

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *