Agama, Esai  

PULANG: Refleksi Sebuah Perjalanan

Pulang
Foto dokpri penulis

Oleh Parihah*

Pagi itu aku dan enam orang sahabatku menyusuri jalanan Bandung Barat, menuju sebuah desa kecil—kampung halaman salah satu sahabat kami. Dengan semangat, tawa, canda, dan obrolan hangat, kami mengantarnya pulang.

Ada perasaan hangat dalam perjalanan itu. Ada cinta, persahabatan, dan kenangan yang kami abadikan melalui ponsel-ponsel kami.

Namun di sela-sela canda dan tawa yang tertangkap kamera, sebuah pertanyaan muncul perlahan dalam benakku: Kelak, saat aku pulang ke kampung keabadian, apakah sahabat-sahabatku juga akan mengantarku dengan tawa, ataukah tangis kehilangan?

Baca Juga:  Kelly, Air Wudlu, dan Air Beras

Tafakur di Tengah Perjalanan

Pertanyaan itu seperti desir angin yang menembus dada. Tak terasa perjalanan hari itu bukan hanya sekadar mengantar seorang sahabat pulang, tapi berubah menjadi perjalanan batin—sebuah tafakur.

Karena pada hakikatnya, kita semua sedang berjalan menuju pulang yang sejati—ke kampung keabadian.

Firman Allah tentang Kepulangan

Seperti Allah yang berbisik penuh cinta dalam firman-Nya:

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”
(QS. Al-Fajr: 27–30)

Sudahkah Kita Siap Pulang?

Lalu aku bertanya dalam diam:

Apakah aku sudah siap untuk pulang?
Sudahkah aku mengemas bekal terbaik untuk kembali kepada-Nya?
Ataukah aku masih sibuk dengan dunia yang fana ini, lupa bahwa setiap detik sejatinya adalah langkah menuju titik akhir?

Kematian bukan hanya tentang akhir, ia adalah kepulangan. Tetapi berbeda dengan perjalanan dunia, kepulangan ke kampung keabadian tidak lagi disambut dengan tawa dan pelukan hangat. Tak ada grup WhatsApp yang mengabadikan momen perpisahan. Yang tersisa hanya doa dan kenangan.

Dan mungkin… kehilangan kita hanya akan terasa selama tiga hari, seminggu, dua minggu… Lalu orang-orang terdekat yang kita tinggalkan akan kembali dengan hiruk-pikuk dunia, melupakan kita. Dan semua akan terasa baik-baik saja.

Baca Juga:  Lima Unsur dalam Diri Manusia: Jalan Menuju Hidup yang Penuh Makna

Apa yang Tertinggal dari Kita?

Pertanyaannya:

Apa yang tertinggal dari kita?
Apakah mereka mengenang kita sebagai cahaya yang menuntun atau sebagai beban yang menyulitkan?
Apakah kehadiran kita selama ini sebagai pelipur lara atau justru si penggores luka?

Waktu Terbaik untuk Menyiapkan Pulang

Maka inilah waktu terbaik untuk menyiapkan pulang:

  • Menyusun bekal amal
  • Merapikan niat
  • Membersihkan hati dari iri dan dengki
  • Memeluk sahabat, kekasih, anak, saudara kandung lebih erat
  • Memaafkan yang menyakiti
  • Menjadi manusia yang keberadaannya dirindukan, bukan dilupakan

Kutipan Inspiratif

“Hidup hanya sekali. Namun jika dijalani dengan ikhlas dan penuh makna, maka sekali pun sudah cukup.”

Makna Pulang

Karena pada akhirnya, ketika kita berpulang, yang kita bawa bukanlah gelar, harta, atau popularitas. Semua itu akan sirna dengan sebutan “jenazah”. Namun yang akan tersisa hanyalah amal saleh dan jejak kebaikan yang kita tinggalkan.

Pulang bukan tentang kehilangan, tetapi tentang kembali.

Kembali kepada Sang Maha Pemilik Hidup.

Sudah siapkah kita?

Cililin, Jumat 4 Juli 2025

*Penulis adalah Mahasiswi KPI IAI Persis Bandung

Editor: San

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *