sumber gambar dibuat oleh AI ChatGPT
Oleh Ustadz Iwan Ridwan
Rasulullah Saw merupakan role model. Adalah seseorang yang perilakunya, sikapnya, atau prestasinya patut ditiru dan dijadikan inspirasi, baik dalam kehidupan pribadi, profesional, maupun organisasi.
Allah SWT berfirman ;
لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا
” Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan bagi kalian yang baik bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
(QS. Al-Ahzab (33): Ayat 21).
Role model Rasulullah dalam menghadapi ibadah Shaum Ramadan, dibagi 3 bagian. Sebelum, saat ramadan dan sesudah.
1. Sebelum Ramadan
Tidak ada yang lebih faham aktifitas harian seorang suami kecuali istrinya, demikian juga sebaliknya. (kalau tidak faham berarti ada masalah fokus lain dalam berumah tangganya.) Padahal Nabi SAW bersabda, nikah itu setengah dari Agama. Inilah Role model (uswah hasanah) Nabi SAW bersabda ;
إِذَا تَزَوَّجَ العَبْدُ فَقَدْ كَمَّلَ نَصْفَ الدِّيْنِ ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ البَاقِي
“Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya.” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 625).
Aisyah ra sebagai rujukan para sahabat tatkala para sahabat ingin mengetahui aktifitas harian Nabi Saw. bulan sya’ban adalah bulan kedelapan, antara rajab dan ramadan. Beliau mengatakan ;
Ini beberapa hadits shahih tentang puasa di bulan Sya’ban:
Rasulullah paling banyak puasa di bulan Sya’ban
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ: لَا يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ: لَا يَصُومُ، فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ“Rasulullah SAW berpuasa sampai kami berkata beliau tidak pernah berbuka. Dan beliau berbuka sampai kami berkata beliau tidak pernah puasa. Aku tidak pernah melihat Rasulullah menyempurnakan puasa sebulan penuh kecuali Ramadan. Dan aku tidak pernah melihat beliau paling banyak puasa selain di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969, Muslim no. 1156)
Puasa disini adalah puasa sunnah biasa seperti Nabi Saw lakukan diluar bulan sya’ban. akan tetapi, di bulan sya’ban volume shaumnya ditingkatkan. Sebagai pengkondisian tubuh dan pola makan sebelum ramadan. Tak ubahnya seperti sebuah mesin, tatkala dinyalakan tidak langsung dihaneutan heula (dikondisikan dulu).
Sangat berbeda dengan budaya umat Islam, saat sya’ban padat dengan program botram dari mulai botram alumni TK sampai botram teman kerja, dll.
2. Saat Ramadan
Di awal ramadan, Nabi Saw tidak langsung tancap gas dalam ibadah shaum maupun dalam ibadah lainnya. Beliau menganjurkan diakhirkan sahur dan disegerakan buka. Setiap malam beliau bertadarus Al Qur’an dengan malaikat, masuk 10 hari terakhir baru tancap gas.
istrinya Aisyah RA, berkata : “Rasulullah SAW biasa ketika memasuki 10 Ramadhan terakhir, beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan keluarganya” (Muttaqin ‘alaih)
3. Sesudah Ramadan
Tak ubahnya seperti mesin, tatkala kondisi full panas, tidak baik jika diberhentikan langsung dengan mendadak. Demikian juga tubuh manusia.
Role model Nabi setelah ramadan adalah shaum syawal di enam hari syawalnya.
Ini pengkondisian tubuh ke setelan awal
Ini hadits shahih tentang puasa 6 hari di bulan Syawal:
Hadits pokoknya:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
Artinya:
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian mengikutinya dengan 6 hari dari bulan Syawal, maka itu seperti puasa setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164)
Penjelasan kenapa dihitung setahun:
Karena 1 kebaikan dibalas 10 kali lipat.
Ramadhan 30 hari × 10 = 300 hari
Syawal 6 hari × 10 = 60 hari
Total 360 hari = setahun penuh
Insya Allah kalau Role model Nabi Saw ini dilakukan, maka shaum kita selain mendapatkan pahala, juga akan sehat. Sebagaimana disebutkan dalam hadits dha’if.
صوموا تصِحُّوا [يعني حديث: اغزوا تغنَموا، وصوموا تَصِحُّوا، وسافروا تستَغْنوا]
الراوي: أبو هريرة • العراقي، تخريج الإحياء للعراقي (٣/١٠٨) • إسناده ضعيف • أخرجه العقيلي في ((الضعفاء الكبير)) (٢/٩٢)، والطبراني في ((المعجم الأوسط)) (٨٣١٢) مطولاً، وأبو نعيم في ((الطب النبوي)) (١١٣) واللفظ له
Haditsnya:
صُومُوا تَصِحُّوا [يعني حديث: اغْزُوا تَغْنَمُوا، وَصُومُوا تَصِحُّوا، وَسَافِرُوا تَسْتَغْنُوا]
“Berpuasalah maka kalian akan sehat”
[Maksudnya hadits: Berperanglah maka kalian akan mendapat harta rampasan, berpuasalah maka kalian akan sehat, dan bersafarlah maka kalian akan menjadi kaya]
Keterangan sanad:
Perawi: Abu Hurairah • Al-Iraqi dalam Takhrij Al-Ihya (3/108) • Sanadnya dha’if/lemah • Diriwayatkan oleh Al-‘Uqaili dalam Adh-Dhu’afa Al-Kabir (2/92), Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Awsath (8312) secara panjang, dan Abu Nu’aim dalam Ath-Thibb An-Nabawi (113) dan ini lafaznya.
Catatan penting:
Hadits ini derajatnya dha’if alias lemah. Jadi tidak bisa dijadikan hujjah untuk hukum syariat. Tapi maknanya secara medis memang banyak yang membenarkan: puasa itu baik untuk kesehatan.
الله اعلم






