
Oleh Popi Sri Mulyani
Setiap tanggal 2 Mei , bangsa ini memperingati Hari Pendidikan Nasional —sebuah momen untuk mengenang perjuangan Ki Hajar Dewantara, sosok yang membuka jalan pendidikan bagi seluruh rakyat Indonesia, tanpa memandang status sosial.
Ia hidup di zaman yang keras. Dimana belajar bukan hak semua orang. Dimana sekolah adalah kemewahan.
Namun justru dari keterbatasan itu, lahirlah semangat juang yang luar biasa.
Lalu hari ini …..kita di zaman yang jauh berbeda. Pendidikan ada di mana-mana. Buku bisa dibaca dalam hitungan detik. Ilmu hadir di layar, di genggam, di setiap waktu.
Semua terasa mudah. Semua terasa dekat.
Namun ….. justru disitulah masalahnya.
Kemudahan yang perlahan Melumpuhkan
Dulu, orang rela berjalan jauh hanya untuk belajar membaca. Hari ini, banyak yang tak mampu bertahan fokus lima menit tanpa membuka hal lain.
Dulu, satu buku bisa dibaca berulang kali hingga usang. Hari ini, ratusan bacaan tersedia —tapi jarang yang benar-benar terselesaikan.
Dulu, rasa enggan melahirkan ketergantungan. Kini, kemudahan sering melahirkan kelalaian.
Kita tidak kekurangan akses. Kami tidak kekurangan fasilitas. Yang mulai langka adalah…. kesungguhan.
Ilmu yang melimpah, Makna yang Menghilang
Kita hidup di zaman yang aneh. Informasinya melimpah, tapi pemahamannya dangkal. Banyak yang tahu, tapi sedikit yang benar-benar mengerti. Banyak yang bicara, tapi sedikit yang berpikir.
Belajar kini sering menjadi aktivitas sekilas —dilihat, dibaca, lalu dilupakan. Tanpa proses. Tanpa kedalaman. Tanpa perjuangan.
Padahal, ilmu sejati tidak pernah hadir dari kemudahan semata. Ia lahir dari kesabaran, ketekunan, dan rasa lapar yang tak pernah puas.
Apakah Kita Masih Mewarisi Semangat Itu?
Hari ini, pertanyaannya bukan lagi: “Apakah pendidikan mudah diakses?” Tapi : “Apakah kita masih punya semangat untuk mencarinya?”
Karena jika kita jujur, mungkin definisinya mulai menghina. Kita lebih cepat menyerah. Lebih mudah terdistraksi. Lebih sering memilih yang instan daripada yang bermakna.
Kita hidup di zaman serba cepat —tapi kehilangan daya tahan untuk berproses.
Hardiknas: Cermin yang Tak Selalu Nyaman
Hari Pendidikan Nasional seharusnya bukan sekedar seremoni. Ia adalah cermin. Dan tidak semua orang siap melihat pantulan dirinya sendiri.
Kita mungkin telah mewarisi kemudahan dari perjuangan Ki Hadjar Dewantara. Namun…….apakah kita juga mewarisi semangat juangnya? Atau justru kita menikmati hasil perjuangan itu tanpa pernah benar-benar menghargainya?
Menyalakan Kembali Api yang Mulai Redup
Pendidikan bukan tentang teknologi. Bukan tentang fasilitas. Bukan tentang seberapa mudah aksesnya. Ia tentang niat. Tentang ketekunan. Tentang kesungguhan hati dalam belajar. Dan mungkin, yang perlu kita lakukan hari ini sederhana…. tapi tidak mudah:
Kembali belajar dengan sungguh-sungguh. Kembali menghargai proses. Kembali merasa bahwa ilmu adalah kebutuhan,bukan sekedar pilihan.
Karena jika semangat itu benar-benar hilang…. maka yang kita hadapi bukan lagi kemajuan, tapi kemunduran yang dibungkus kemodernan.
Wassalamu’alaikum






