
Oleh Soeryawan Masangang*
Sebelum secara resmi dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto telah berulang kali menegaskan kepada publik bahwa pemberantasan kemiskinan akan menjadi prioritas utama dalam pemerintahannya. Komitmen ini bukan sekadar janji kampanye atau retorika politik untuk menarik simpati publik.
Sebaliknya, ini adalah bagian dari visi besar Prabowo dalam membangun Indonesia yang berkeadilan sosial dan menjunjung tinggi kesejahteraan seluruh rakyat, sebagaimana termaktub dalam Pancasila dan UUD 1945.
Setelah resmi memegang amanah sebagai kepala negara, Presiden Prabowo bergerak cepat dan tepat. Salah satu langkah awalnya adalah membentuk Badan Pemberantasan Kemiskinan Nasional di bawah kepemimpinan Budiman Sudjatmiko—sebuah lembaga yang bersifat strategis dan lintas sektor untuk memastikan pelaksanaan kebijakan pengentasan kemiskinan berjalan terukur dan sistematis.
Tak hanya itu, Presiden Prabowo merancang dan meluncurkan tiga program unggulan yang menjadi poros utama dalam strategi pengentasan kemiskinan.
Ketiganya menyasar sektor fundamental yang selama ini menjadi akar kemiskinan struktural di Indonesia: kesehatan, pendidikan, dan ekonomi kerakyatan.
1. Program Cek Kesehatan Gratis: Investasi Kesehatan sejak Dini
Program ini menyasar pelajar di tingkat SD, SMP, dan SMA atau sederajat. Pemeriksaan kesehatan yang dilakukan mencakup organ vital seperti gigi, hidung, telinga, dan mata, serta tekanan darah, kondisi mental, dan skrining penyakit TBC.
Pendekatan ini bukan sekadar layanan medis, melainkan strategi negara dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak usia dini. Dengan kesehatan yang terjaga, anak-anak Indonesia akan tumbuh menjadi generasi produktif dan kompeten, mampu bersaing secara global. Pemberantasan kemiskinan tak bisa dilepaskan dari kualitas kesehatan rakyatnya.
2. Sekolah Rakyat: Pendidikan untuk Keluar dari Kemiskinan Ekstrem
Sekolah Rakyat dirancang untuk menampung anak-anak dari keluarga miskin ekstrem yang selama ini luput dari sistem pendidikan formal, meski sekolah-sekolah negeri telah digratiskan.
Sekolah ini berbasis asrama dan menyediakan makan gratis tiga kali sehari. Negara benar-benar mengambil alih tanggung jawab pendidikan anak-anak dari kelompok paling rentan, sekaligus memutus mata rantai kemiskinan antar-generasi.
Dengan kurikulum nasional dan fasilitas terbaik, Sekolah Rakyat bukan hanya tempat belajar, tapi juga ruang pembinaan karakter dan pemberdayaan sosial. Ini adalah bentuk nyata negara hadir untuk melindungi warganya yang paling lemah.
3. Koperasi Merah Putih: Menggerakkan Ekonomi Rakyat Berbasis Pasal 33 UUD 1945
Mengacu pada semangat Pasal 33 UUD 1945, Presiden Prabowo menggagas lahirnya Koperasi Merah Putih sebagai kendaraan utama ekonomi kerakyatan.
Koperasi ini bertujuan memberdayakan masyarakat, khususnya yang berada di pedesaan dan kelompok rentan, melalui akses terhadap sumber daya ekonomi dan pembiayaan. Koperasi ini akan dibangun di lebih dari 80.000 desa dan kelurahan di seluruh Indonesia.
Lebih dari sekadar koperasi konvensional, Koperasi Merah Putih akan didukung infrastruktur ekonomi strategis seperti gudang, cold storage, gerai sembako, apotek, kendaraan logistik, serta akses pinjaman super mikro.
Pembiayaan koperasi ini dijamin negara melalui dukungan bank-bank BUMN yang menggelontorkan dana awal sebesar 3–5 miliar rupiah per koperasi per tahun, lengkap dengan pendampingan manajemen dari sektor perbankan.
Koperasi ini bukan hanya simbol gotong royong, tapi juga instrumen konkret dalam mempercepat pembangunan ekonomi nasional yang inklusif, adil, dan berkelanjutan.
Di sinilah wajah negara benar-benar hadir di tengah rakyat—bukan sekadar mengatur dari atas, tetapi mendampingi langsung dari bawah.
Prabowo dan Jalan Menuju Negara Sejahtera
Langkah-langkah yang diambil Presiden Prabowo menunjukkan keberpihakan yang jelas pada rakyat kecil. Ia tidak hanya merancang kebijakan makro, tetapi juga membumikan solusi mikro yang menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat.
Dengan pendekatan multi-sektor dan terintegrasi melalui program kesehatan, pendidikan, dan ekonomi kerakyatan, Prabowo meletakkan fondasi kuat bagi Indonesia yang bebas dari kemiskinan.
Inilah wajah kepemimpinan yang transformatif: berpikir strategis, bertindak cepat, dan mengeksekusi dengan tepat.
Jika konsistensi ini terus dijaga, bukan tidak mungkin, di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto, Indonesia akan melangkah lebih cepat menuju cita-cita keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya.
*Penulis Sekretaris Jenderal Gaspro (Gerakan Nasional Masyarakat Pro Prabowo)






