Opini  

Cerita dari Pasar Banjaran yang Menghilang

Pasar Banjaran
Pasar Banjaran ketika masih dalam tahap pembangunan

Oleh Ihsan Nugraha

Malam itu, di ruang tamu sebuah rumah di Banjaran, kopi hitam mengepul perlahan menemani obrolan saya dengan seorang lelaki paruh baya. Suaranya berat, tetapi ada kelembutan yang menyelinap di setiap ucapannya. Ia adalah salah satu pedagang lama Pasar Banjaran. Sudah puluhan tahun ia berdagang di sana — jauh sebelum anak pertamanya lahir. Kini ia memiliki empat anak yang tumbuh besar dari hasil berdagang di pasar itu. Tapi malam itu, ia tak lagi punya kios.

Wajahnya menegang saat bercerita. Matanya tampak memendam perih, seperti sedang menahan sesuatu yang tak sanggup lagi dibendung.

Pasar, bagi sebagian orang, hanyalah tempat transaksi jual-beli. Tapi bagi beliau, pasar adalah ruang hidup. Di sanalah kehidupan bertumbuh: bukan hanya ekonomi, tapi juga kebersamaan. Pasar adalah ruang sosial, tempat orang saling menyapa, saling bantu, dan saling menguatkan dalam semangat kebersamaan. Namun kini, ruang itu tercerabut dalam nama revitalisasi.

Antara Modernisasi dan Penggusuran Terselubung

Revitalisasi pasar kerap dibungkus dengan narasi manis: modernisasi, peningkatan fasilitas, hingga peningkatan PAD (Pendapatan Asli Daerah). Tapi di balik semua jargon pembangunan itu, ada cerita pilu yang tak terdengar oleh kekuasaan.

Di Pasar Banjaran, sejumlah pedagang kehilangan lapaknya tanpa kejelasan alokasi ulang yang berpihak. Skema relokasi seringkali berat sebelah, menyulitkan pedagang lama untuk kembali mengakses ruang jualan mereka sendiri. Banyak dari mereka akhirnya menyerah — kalah dalam pertarungan yang tak pernah mereka mulai.

Masalahnya bukan pada modernisasi pasar — sebab tak ada yang menolak kemajuan. Tapi persoalannya adalah bagaimana pembangunan itu dilakukan. Ketika kebijakan dibuat tanpa partisipasi mereka yang terdampak, maka yang terjadi bukan revitalisasi, tapi penggusuran terselubung.

Baca Juga:  Citarum Harum Masih Bergulat dengan Sampah Ribuan Ton

Pasar sebagai Ruang Sosial

Antropolog Clifford Geertz pernah menyebut pasar tradisional sebagai tempat yang lebih dari sekadar transaksi. Dalam pasar, katanya, ada “jaringan interaksi” yang kompleks. Pasar adalah ruang tempat relasi sosial, budaya, dan ekonomi hidup berdampingan.

Pasar Banjaran selama ini bukan sekadar tempat jual-beli barang. Ia adalah tempat lahirnya jaringan sosial antar pedagang, pembeli, dan masyarakat sekitar. Di sanalah kabar baik dan kabar duka menyebar. Di sanalah gotong-royong hadir dalam bentuk paling konkret.

Dengan menghilangnya kios-kios itu, bukan hanya roda ekonomi yang terganggu, tapi juga ekosistem sosial yang hancur. Hubungan manusia yang terbangun selama puluhan tahun tercerabut begitu saja. Ini bukan semata kehilangan tempat jualan, tapi kehilangan tempat hidup.

Meninjau Ulang Cara Pandang Pembangunan

Pemerintah perlu meninjau ulang paradigma pembangunan yang top-down dan menafikan suara rakyat kecil. Revitalisasi tidak boleh berhenti pada pembangunan fisik pasar, tetapi juga harus menjamin keberlanjutan sosial dan ekonomi mereka yang hidup dari pasar.

Sudah saatnya kebijakan pembangunan lebih partisipatif — melibatkan pedagang sebagai aktor utama, bukan objek. Mereka bukan hanya pihak terdampak, tetapi pemilik sejarah pasar itu sendiri.

Ketika pembangunan mengabaikan rasa keadilan, maka yang tumbuh bukanlah kemajuan, tetapi luka sosial yang dalam.

Penutup

Udara malam Banjaran terasa tenang, tapi cerita yang saya dengar malam itu membekas dalam. Ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kehilangan kios — ada kehilangan arah, kehilangan tempat pulang.

Di tengah hiruk-pikuk pembangunan, semoga suara-suara kecil itu masih bisa terdengar. Sebab pembangunan sejati bukanlah tentang seberapa tinggi bangunan berdiri, tapi seberapa dalam ia mengakar dalam kehidupan rakyatnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *