
Oleh Nurdin A. Aziz
Seorang petani, sebenarnya tidak pernah benar-benar sendiri. Ia punya tanah yang menempel di telapak kakinya, langit yang ia tatap setiap paginya, dan hujan yang sesekali datang sebagai keberkahan dan kadang sebagai peringatan. Tapi ia selalu kesepian. Bukan karena tidak ada teman senasib sepenanggungan, bukan juga karena semakin banyaknya orang yang meninggalkan dunia pertanian -tetapi karena suaranya yang nyaris lebih pelan dari bisikan.
Biasanya, petani bangun sebelum matahari, berjalan melewati jalan tanah yang penuh jejak-jejak masa lalu. Sawah yang dulu luas kini menyempit, rumah-rumah beton perlahan merayap menggantikan gubuk-gubuk bambu. Di kantongnya hanya ada sisa rokok lintingan dan doa-doa yang mereka tiupkan seperti angin pagi.
Orang-orang di kota mungkin berpikir, menjadi petani itu seperti hidup di lukisan pemandangan. Langit biru, hamparan hijau, sungai kecil berkelok di kejauhan. Tapi mereka tak tahu bahwa langit biru bisa berubah kelabu karena awan berganti hujan, dan hamparan yang hijau bisa jadi cokelat kerontang dalam hitungan minggu. Mereka tak tahu bahwa sungai kecil bisa tiba-tiba meluap dan menghancurkan apa saja yang ditanam dengan susah payah.
Seorang petani tidak benar-benar memegang nasibnya sendiri. Ia harus bisa bernegosiasi dengan alam, harus pula pintar merayu Tuhan. Dan ketika menghadapi musim panen tiba, ia lebih sering diejek oleh harga pasar -yang kadang hanya permainan orang-orang berdasi.
Ia bisa bekerja sepanjang hari di bawah matahari yang menyengat, tetapi tetap harus tersenyum getir ketika tengkulak datang dengan harga yang nyaris seperti candaan.
Dalam setiap tahunnya, banyak petani yang akhirnya menyerah karena situasi yang tak kunjung membaik. Mereka menjual sawahnya, lalu merantau ke kota, dan bekerja di pabrik atau menjadi buruh bangunan. Tentu ada yang bertahan, ada juga yang binasa perlahan. Ada yang tahu caranya untuk menyerah, ada juga yang keras kepala dan menganggap bahwa sektor pertanian memiliki masa depan yang cerah.
Tentu, mereka juga menginginkan hidup yang layak, sekolah yang baik untuk anak-anak mereka, rumah yang tidak bocor saat hujan turun deras. Tapi mereka tahu, mimpi-mimpi itu seperti padi yang masih hijau—harus bersabar sampai menguning sebelum bisa dituai, dan bahkan setelah itu masih ada resiko hama atau badai yang bisa membuat semuanya lenyap dalam semalam.
Jalan yang mereka tempuh sunyi, bukan karena tak ada yang berjalan di sana, tetapi karena suara mereka jarang didengar. Di balik meja-meja restoran mewah, di antara rak-rak supermarket yang penuh dengan hasil panen mereka, tak ada yang benar-benar bertanya: bagaimana kabar mereka yang menanam ini semua?
Seorang petani berjalan dalam kesunyian, tetapi ia tetap berjalan. Mungkin suatu hari, seseorang akan benar-benar melihatnya. Mungkin suatu hari, suara mereka akan terdengar.
Atau mungkin, mereka akan tetap menjadi bayangan di kaca jendela mobil yang melaju, sementara dunia terus berputar tanpa benar-benar menoleh.






