
Nurdin Qusyaeri, DARAS.ID
Ada luka yang tak bisa dijelaskan. Luka itu tak bersuara, tak pernah bisa kau letakkan dalam kata-kata. Ia hanya berdiam dalam dada, tapi selalu Allah pahami.
Ada air mata yang jatuh diam-diam, yang tak sempat kau ceritakan kepada siapa pun, tapi Allah tetap melihatnya—tanpa terlewat satu pun.
Kau mungkin tak kuat, kau merasa remuk oleh beban yang tak pernah berhenti menghantam, tapi Allah… Dia-lah yang Maha Menguatkan. Sepelik apa pun jalanmu hari ini, percayalah: ada hikmah yang sedang disusun rapi.
Luka, air mata, rasa rapuh—semua itu bukan untuk menghancurkanmu, tapi untuk menyiapkan ruang agar engkau lebih lapang menerima cahaya.
Luka mengajari kita arti bertahan.
Air mata mengajari kita arti ikhlas.
Hening mengajari kita cara berdialog dengan doa.
Dan doa, pada akhirnya, adalah bahasa yang paling tulus yang dimengerti langit.
Ada banyak hal dalam hidup yang tak harus dipertanyakan. Ada banyak cerita yang hanya bisa kita terima tanpa bisa menggugat. Bukankah kita ini hanyalah semesta kecil, yang dicipta untuk belajar menerima segala yang tak bisa kita kendalikan?
Indah sekali bila luka yang kau simpan, kau jadikan rahasia hanya dengan Allah. Sebab cinta sejati bukan hanya menggenggam tangan seseorang di dunia, tapi juga menuntun jiwa menuju-Nya.
Yakinlah, ada sesuatu yang menantimu setelah sekian banyak kesabaran yang sudah kau jalani. Sesuatu yang akan membuatmu sangat bahagia—sampai engkau lupa betapa pedihnya rasa sakit yang selama ini menghujam.
Kadang rasa itu menenggelamkan, membuat dada sesak seakan tak bisa bernapas. Ada cinta yang menyeruak ke dalam sukma, ada rindu yang tak bisa dijinakkan.
Yang aku tahu, ada gelora yang tak bisa kupuisikan. Ia meronta kacau, menyebut satu nama, satu wajah, satu kenangan yang telah lama terkubur.
Aku, termangu—lara. Tapi dalam lara itu, aku belajar. Belajar bahwa tidak semua kehilangan adalah musibah, tidak semua luka adalah hukuman. Kadang, ia hanya jalan sunyi yang Allah ciptakan untuk menuntunku pulang.
Dan ketika bahagia itu tiba—ya, ia akan tiba—kau akan tersadar: semua rasa sakit hanyalah jalan sunyi yang menguatkanmu. Tak ada luka yang sia-sia. Semua hanya sedang menyiapkan ruang agar bahagia bisa tinggal lebih lama dalam hidupmu.
Maka biarkan luka mengasahmu. Biarkan air mata menyucikanmu. Biarkan doa menguatkanmu.
Karena kelak, kau akan berterima kasih pada setiap sakit yang dulu pernah kau benci—sebab dari sanalah kau akhirnya belajar, apa arti cinta, apa arti sabar, apa arti hidup yang sesungguhnya.
Wallahu’alam






