Website Berita dan Opini
Indeks

Jejak Perjalanan yang Menguatkan, Silaturahmi yang Menyatukan

Persembahan untuk Ibu-ibu KPI B yang Lulus 15 November 2025

Jejak perjalanan yang menguatkan dan Silaturahim yang menyatukan
Para dosen KPI dan kelas alumni Tamhied KPI B IAI PERSIS Bandung tahun 2025 (Foto panitia)

Ada perjalanan yang diabadikan oleh kamera, ada perjalanan yang diabadikan oleh catatan sejarah, dan ada perjalanan yang hanya diabadikan oleh dada—karena terlalu perih, terlalu indah, terlalu manusiawi untuk ditulis dengan tinta biasa. Perjalanan ibu-ibu KPI B termasuk yang terakhir itu.

Sejak kuliah dimulai, langkah-langkah mereka hadir bukan dengan pameran kemewahan, tapi dengan parade ketulusan. Bukan dengan fasilitas mewah, tapi dengan tekad yang mengalahkan banyak orang yang katanya “mapan”. Kadang ada datang dari rumah dengan ongkos pas-pasan, tapi untuk urunan membeli snack makanan dan minuman bagi dosennya—entah bagaimana—kantong mereka tiba-tiba terasa lebih lapang daripada kas negara di awal tahun anggaran.

Kemarin siang, 26 November itu, semuanya berpuncak: sebuah acara perpisahan yang lebih mirip reuni keluarga besar daripada seremoni akademik.

Mahasiswa KPI yang diwisuda 15 November kembali berkumpul dengan para dosen; namun kali ini bukan sebagai pengajar dan pembelajar, melainkan sebagai keluarga yang hendak mengucapkan “terima kasih” dengan cara terbaik yang mereka bisa.

Acara berlangsung santai, lucu, cair, dan hangat—sehangat kehangatan ibu-ibu KPI B. Ada kuis receh tapi meriah, ada tebak-tebakan yang membuat perut mules karena tawa, ada pesan dan kesan yang membuat banyak kepala menunduk menahan haru, dan ada tausiyah dari muballigh kondang Dr. Ahmad Humaedi, yang suaranya menenangkan seperti ayat-ayat yang turun di tengah malam.

Monolog yang Menggetarkan Ruangan

Dan ketika suasana sudah terasa bulat, lembut, dan nyaris sempurna…

hadirin dibuat terpaku oleh satu momen yang seperti diberi garis bawah oleh takdir:

Monolog “Jejak Perjalanan yang Menguatkan dan Silaturahim yang Menyatukan” yang dibawakan oleh Popi Sri Mulyani.

Popi berdiri di depan ruangan, suaranya pelan tapi tajam, seperti seseorang yang mengisahkan luka yang telah sembuh tapi masih terasa denyutnya. Kata-katanya merembes perlahan, namun menohok.

Dan sebelum monolog itu selesai…

Banyak yang menunduk.

Banyak yang menyeka sudut mata.

Baca Juga:  Penyatuan Kampus PERSIS, Solusi Cerdas atau Masalah Baru

Banyak yang menatap kosong ke depan, mencoba menahan sesuatu yang tak tertahan.

Ia juga seolah mewakili para ibu KPI B mengucapkan terima kasih kepada para dosen—dengan kalimat yang sederhana tapi mematikan pertahanan:

Terima kasih atas ilmu.

Terima kasih atas bimbingan.

Terima kasih atas kesabaran.

Terima kasih atas kebaikan-kebaikan  yang sering tidak terlihat, tapi benar-benar dirasakan.

Setelah itu, para wisudawati memberikan bingkisan-bingkisan tak terduga kepada para dosen. Hadiah yang dibungkus cinta, rasa hormat, dan kehangatan yang sangat tulus—jenis hadiah yang membuat para dosen tersenyum sambil menahan napas.

Lalu ruangan semakin cair ketika masuk sesi makan bersama dan nyanyi-nyanyian dari “artis yang tak sempat rekaman”—untuk alasan yang sangat jelas: suara mereka tekor sejak lahir. Tapi indahnya, mereka tetap bernyanyi, dan kami tetap tertawa, karena malam itu bukan tentang suara; tapi tentang suara hati yang bertemu.

Manajemen Kesetiaan ala Ibu-Ibu

Dan tetap, di balik semua cerita itu, ada sosok yang tidak boleh dilupakan:

Ibu Ade Setia Lesmana, S.Sos, sang ketua kosma yang manajemennya lebih rapi dari neraca kementerian.

Prinsip Bu Ade melebihi slogan organisasi mana pun:

“Kita masuk bersama, kita keluar bersama. Tidak ada yang tertinggal.”

Ujian? Semua ikut.

Sidang? Semua ikut.

Wisuda? Wajib barengan.

Kalau ada yang kurang biaya?

Cari bail out yang cair lebih cepat dari bansos menjelang pemilu.

Mahasiswi lain mengakui peran Bu Ade bukan sekadar krusial, tetapi vital.

Ia berwatak dan bersikap tegas, dan kadang nampak otoriter. Namun dia adalah tulang punggung di balik ketegasan administrasi, dan dada yang selalu siap menopang kekurangan teman-temannya.

Tanpa dia, perjalanan ini tidak akan mulus seperti yang Tuhan takdirkan.

Ibu-Ibu yang Luar Biasa, Yang Tidak Sadar Betapa Luar Biasanya Mereka

Beberapa ibu ada yang harus naik angkutan umum empat kali, sampai  kadang jam 10 malam, menempuh puluhan kilometer—dan tetap hadir besoknya dengan senyum.

Baca Juga:  IAI PERSIS Bandung dan PW PERSIS Jabar Perkuat Sinergi Dakwah dan Pendidikan Berbasis Jam’iyah

Ada tugas yang menumpuk, pekerjaan rumah yang tak pernah selesai, anak-anak yang menunggu, suami yang bergantung, dan kehidupan yang terus bergerak tanpa ampun…

namun mereka tetap terus melangkah.

Ambu Tatin bahkan menyebut diri mereka sebagai “ibu-ibu ajaib”—karena rasanya seperti mimpi bisa menyelesaikan kuliah dengan segala beban-beban di pundak itu.

Namun prinsip mereka hanya satu seperti yang ditanamkan ketua Prodi KPI, pak Hendi Rustandi:

“Ibu-ibu kuliah di KPI ini Yang penting bahagia!”

Dan memang, dari mereka kami belajar bahwa kebahagiaan adalah kekuatan yang bisa mengubah langkah kecil menjadi perjalanan besar.

Pesan dari Para Dosen: Dari Hati Kami untuk Kalian

Di tengah kebersamaan ini, izinkan kami, para dosen, jujur untuk sekali ini:

Maafkan kami:

Jika ada materi kami yang kurang jelas,

Jika ada kata kami yang kurang pantas,

Jika ada pertemuan yang membosankan,

Jika ada kekurangan-kekurangan yang membuat kalian kesulitan.

Kami sangat mungkin tidak sempurna dalam mengajar…

Tapi kalian sempurna dalam bersikap, dalam menghargai, dalam mencintai ilmu.

Dan ketahuilah satu hal yang akan kami simpan dalam ingatan:

Kami bangga dan sangat mengagumi kalian.

Kalian bukan hanya mahasiswa; kalian adalah guru kehidupan kami.

Kalian mengajarkan apa itu keteguhan, kebersamaan, ketulusan, dan harga diri.

Dan Ini Bukan Akhir

Para wisudawati berkata dengan penuh keyakinan:

“InsyaAllah setelah tamat ini, kami tidak akan melupakan para dosen. Kami akan terus menjalin silaturahmi. Akan ada acara-acara yang akan terus dibangun.”

Dan kami percaya.

Karena perjalanan yang dibangun dengan air mata, tawa, doa, dan persaudaraan… tidak pernah benar-benar selesai.

Terima kasih, Ibu-ibu KPI B.

Jejak perjalanan kalian menguatkan kami.

Silaturahmi kalian menyatukan kami.

Dan cinta kalian…

akan kami simpan sebagai salah satu anugerah terindah dalam hidup mengajar kami.

Wallahu’alam

Tim DARAS.ID

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *