
Oleh Muhammad Rizal*
Di era informasi global saat ini, media menjadi aktor utama dalam membentuk opini publik, memengaruhi kebijakan, bahkan mengarahkan kesadaran masyarakat. Namun, di tengah pusaran kepentingan politik, ekonomi, dan ideologi yang melekat, jurnalisme sering kali kehilangan idealismenya, terjebak dalam kompromi dengan elit-elit para pemangku kekuasaan.
Bagi saya Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) hadir, menawarkan paradigma baru jurnalisme yang berlandaskan nilai-nilai Islam, menjadikan mahasiswa tidak hanya sekadar komunikator, tetapi juga penjaga nurani umat yang berpihak pada kejujuran, keadilan, dan keberanian moral.
Pembelajaran Komunikasi Dari Kelas ke Lapangan
Selama 3 semester ini saya menjadi mahasiswa KPI saya banyak dibekali pemahaman mendalam tentang komunikasi modern, penyiaran, media digital, dimana pembelajaran ini tidak hanya belajar menyampaikan fakta, tetapi juga bagaimana fakta tersebut harus berpijak pada amar ma’ruf nahi munkar.
Alhasil pembelajaran Jurnalisme Islam di jurusan KPI adalah jurnalisme profetik, berani mengkritik penindasan, menyuarakan kaum tertindas (mustadh’afin), sekaligus menghadirkan harapan dengan pesan-pesan dakwah yang mencerahkan.
saya merasa ketika saya ingin menjadi seorang jurnalis dan kemudian belajar di KPI berarti siap menjadi jurnalis Muslim yang berani:
- Berani Mengungkap kebenaran tanpa takut tekanan kekuasaan.
- Berani Menjadi kontrol sosial di tengah masyarakat.
- Berani menggunakan media sebagai sarana dakwah, pencerahan, dan perjuangan keadilan.
Jurnalisme Islam Sebagai Propaganda Keadilan
Istilah propaganda sering dipandang negatif. Namun di KPI, mahasiswa diajarkan untuk memahami propaganda dalam makna positif untuk sebuah strategi komunikasi yang terarah untuk menegakkan nilai Islam, Memberitakan yang Jujur sesuai realita, melawan kezaliman, dan membela keadilan.
Dengan keterampilan menulis, berbicara, dan mengelola media, mahasiswa KPI dilatih untuk menjadi agen perubahan yang membawa suara kebenaran ke tengah masyarakat.
Belajar dari Tokoh Muhammad Alwi Dahlan
Belajar dari Tokoh komunikasi Favorit saya, Muhammad Alwi Dahlan, pernah menegaskan bahwa pers harus kritis, tetapi tetap bermoral. Prinsip ini saya dapatkan pembelajaran nya di KPI. jurnalis Muslim tidak boleh sekadar menjadi pencatat peristiwa, tetapi juga pelaku sejarah yang ikut menentukan arah bangsa.
Keberpihakan Media Islam Gerakan Moral dan Sosial
Indonesia masih dihantui oleh masalah korupsi, ketimpangan sosial, dan lemahnya akuntabilitas. Melalui jurusan KPI, mahasiswa diarahkan untuk menjadikan media sebagai gerakan moral bukan sekadar bisnis informasi.
Media Islam harus hadir sebagai suara kenabian di tengah kekacauan moral. Dituntut juga menyuarakan kebenaran, membela yang lemah, dan menantang kezaliman dengan keberanian moral, bukan dengan kebencian.
Mengapa Memilih KPI?
- Saya ingin menekuni Belajar kepenulisan, teori komunikasi dan jurnalistik sekaligus praktik lapangan.
- Ingin Memahami media konvensional dan digital dari perspektif Islam.
- Dan ini yang menjadi alasan saya masuk KPI Menjadi jurnalis Muslim, penyiar, penulis, content creator, dan aktivis media yang berintegritas.
Ayo Ber – KPI!
Jika Anda Memiliki cita-cita yang sama seperti saya, ingin menjadi seorang jurnalis Muslim yang kritis, bermoral, dan berani menyuarakan kebenaran, maka Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam adalah jalan yang tepat. Dari ruang kelas hingga ruang redaksi, dari pena hingga kamera, mari jadikan media sebagai ladang dakwah dan perjuangan untuk menegakkan kebenaran.
Komunikasi dan Penyiaran Islam Mencetak Jurnalis Muslim, Penjaga Nurani, dan Pejuang Keadilan.
*Penulis adalah mahasiswa KPI semester III





