
Oleh Nurdin Qusyaeri
Dalam perjalanan hidup kaum muda, musuh terbesar sering kali bukanlah sistem, bukan keadaan, bahkan bukan orang lain.
Musuh itu bernama diri sendiri—ketika kita membacanya dari arah yang keliru.
Kemalasan membunuh ambisi
Allah mengingatkan bahwa perubahan tidak akan datang jika manusia enggan bergerak.
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Kemarahan membunuh kebijaksanaan
Rasulullah ﷺ tidak memuliakan orang yang kuat fisiknya, tetapi yang mampu menahan amarah.
“Bukanlah orang kuat itu yang menang dalam bergulat, tetapi yang mampu menahan amarahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ketakutan membunuh mimpi
Takut gagal sering kali membuat kita gagal sebelum memulai. Padahal Allah menjanjikan pertolongan bagi mereka yang berani melangkah.
“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.” (QS. At-Thalaq: 3)
Ego membunuh pertumbuhan
Ego menutup telinga dari nasihat dan menutup hati dari ilmu.
“Di atas setiap orang berilmu masih ada yang lebih berilmu.” (QS. Yusuf: 76)
Kecemburuan membunuh kedamaian
Hasad menggerogoti amal dan ketenangan batin.
“Janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian yang lain.” (QS. An-Nisa: 32)
Keraguan membunuh kepercayaan diri
Padahal Allah telah memuliakan manusia dengan potensi dan kehormatan.
“Sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam.” (QS. Al-Isra: 70)
Namun Islam mengajarkan: hidup bisa dibaca dari arah yang lain—arah kebangkitan.
Kepercayaan diri membunuh keraguan
Yakin pada diri adalah bagian dari yakin pada takdir Allah.
Kedamaian membunuh kecemburuan
Hati yang qana’ tidak sibuk membandingkan, karena ia sibuk bersyukur.
Pertumbuhan membunuh ego
Semakin berilmu, semakin rendah hati.
Mimpi membunuh ketakutan
Cita-cita yang lurus karena Allah melahirkan keberanian yang jujur.
Kebijaksanaan membunuh kemarahan
Orang beriman memilih akhlak, bukan luapan emosi.
Ambisi membunuh kemalasan
Ambisi yang bernilai ibadah melahirkan etos kerja dan daya juang.
Reflektif
Mahasiswa dan pemuda tidak dituntut sempurna, tetapi dituntut sadar dan mau bertumbuh.
Jika hari ini kita masih kalah oleh kemalasan, ego, dan ketakutan, jangan putus asa.
Cukup balikkan cara membaca hidup—kuatkan yang positif, maka yang negatif akan runtuh dengan sendirinya.
Karena iman yang hidup akan melahirkan mimpi, dan mimpi yang benar akan melahirkan peradaban.
Wallahu’alam





