Website Berita dan Opini
Indeks

Antara Kritik dan Sentimen: Cermin Nalar Mahasiswa

Antara Kritik dan Sentimen
Gambar ilustrasi (AI)

Oleh Gilang Herdiansyah*

Kampus adalah ruang bebas bernalar. Di dalamnya, ide seharusnya tumbuh subur, bukan justru layu karena tekanan opini. Di sinilah mahasiswa, yang disebut sebagai agent of change, diuji bukan hanya lewat nilai di kelas, tetapi juga lewat cara mereka bersuara. Sayangnya, semakin hari, perbedaan antara kritik dan sentimen semakin kabur di lingkungan mahasiswa itu sendiri.

Kritik Mahasiswa: Napas Demokrasi Kampus

Antara kritik dan sentimen adalah persoalan yang penting dipahami bersama. Kritik mahasiswa adalah napas demokrasi kampus. Ia lahir dari kepedulian terhadap kebijakan yang pincang, pelayanan yang lemah, atau kepemimpinan yang stagnan. Kritik disampaikan dengan argumen, disertai data, dan diajukan dengan tujuan memperbaiki. Mahasiswa yang kritis bukan berarti mahasiswa yang membenci, tetapi justru mahasiswa yang peduli.

Namun kini, tidak sedikit mahasiswa yang terjebak dalam sentimen. Alih-alih membedah masalah, mereka lebih senang menyerang personal. Alih-alih menawarkan solusi, mereka memilih menyalakan emosi.

Baca Juga:  Antara Kultus dan Kampus: Saat Mahasiswa Lupa Berpikir

Di media sosial kampus, dalam forum-forum, kalimat-kalimat yang seharusnya membangun justru berubah menjadi ejekan, sindiran, bahkan fitnah. Lebih berbahaya lagi ketika sentimen dibungkus dengan bahasa seolah-olah “kritis”. Padahal tidak ada telaah, tidak ada argumen, hanya kemarahan yang dipoles rapi.

Inilah yang membuat banyak pihak—baik dosen, birokrasi kampus, bahkan sesama mahasiswa—menjadi defensif. Kritik yang sehat jadi tertolak karena terlalu sering disamakan dengan serangan personal.

Menjadi Mahasiswa Kritis yang Dewasa

Antara kritik dan sentimen sebenarnya memiliki batas yang jelas. Kritik sejati menuntut intelektualitas dan kedewasaan. Ia tidak bersembunyi di balik akun anonim, tidak meledak-ledak tanpa dasar, dan tidak menjatuhkan tanpa arah. Mahasiswa yang kritis tahu kapan harus berbicara, dan bagaimana berbicara. Ia bisa marah, tetapi marahnya rasional.

Maka penting bagi kita, mahasiswa, untuk selalu bertanya: Apakah yang kita sampaikan ini kritik yang jernih atau hanya sentimen yang dibungkus opini? Apakah kita ingin membangun iklim kampus yang sehat atau sekadar melampiaskan rasa tidak suka?

Baca Juga:  Langit Perubahan, di Tangan Mahasiswa

Menjaga Kampus sebagai Taman Gagasan

Kampus harus tetap menjadi taman gagasan, bukan arena kebencian. Kritik perlu terus dijaga, tetapi sentimen harus dikendalikan. Karena hanya dengan itu kita benar-benar layak disebut sebagai insan akademik—bukan hanya karena status, tetapi karena cara berpikir.

*Penulis Mahasiswa PAI IAI Persis Bandung

Editor: San

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *