Antara Kultus dan Kampus: Saat Mahasiswa Lupa Berpikir

Saat Mahasiswa Lupa Berpikir
Gambar Ilustrasi

Oleh M Abdul Karim Ulumuddin*

Di lingkungan akademik—tempat ideal untuk menguji ide dan mengasah nalar kritis—justru muncul fenomena yang mengkhawatirkan: pengkultusan individu. Ironisnya, bukan terhadap tokoh besar atau ilmuwan legendaris, melainkan sesama mahasiswa yang dielu-elukan, dibela mati-matian, bahkan dijadikan standar kebenaran seolah bebas dari cela. Padahal, mahasiswa idealnya setara dalam posisi keilmuan dan pemikiran.

Kondisi ini menjadi salah satu gambaran saat mahasiswa lupa berpikir. Padahal, mahasiswa bukan sekadar penghafal atau pengikut, melainkan pemikir. Mahasiswa dituntut berpikir kritis, rasional, dan objektif—bukan menjadi bagian dari kerumunan yang membela berdasarkan rasa kagum, loyalitas buta, atau perasaan personal.

Baca Juga:  Diam Itu Nyaman, Tapi Perubahan Butuh Suara

Ketika seseorang lebih dipercaya hanya karena “dia yang bilang”, tanpa proses verifikasi, telaah ulang, dan pengujian konsistensi logis, maka nalar akademik sedang ditinggalkan. Bahkan lebih parah, mahasiswa yang seharusnya menjunjung tinggi tabayyun dan sikap ilmiah, tergelincir dalam pola pikir emosional: membenarkan apa yang disukai dan menyalahkan apa yang tidak disukai.

Inilah potret saat mahasiswa lupa berpikir secara mandiri dan rasional. Mereka terjebak dalam kultus individu yang justru bertolak belakang dengan semangat keilmuan.

Bukankah kampus adalah ruang bebas berpikir, bukan tempat membangun altar pemujaan?

Dalam Islam, Nabi SAW pun telah mengingatkan agar kita tidak langsung mempercayai setiap informasi yang didengar, karena hal itu bisa menyebabkan ketidakadilan tanpa disadari. Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah (tabayyun)…” (QS. Al-Hujurat: 6)

Lalu, di mana letak intelektualitas seorang mahasiswa jika nalar digantikan oleh perasaan, dan kebenaran hanya ditimbang lewat tokoh favorit—bukan melalui argumen dan data?

Sudah saatnya kita mengingat kembali: mahasiswa adalah pejuang akal, bukan penjaga nama. Setiap orang bisa salah. Kebenaran tidak mengenal status, jabatan, atau popularitas. Yang kita cari di kampus ini bukan sosok untuk dikultuskan, melainkan pikiran yang bisa dipertanggungjawabkan.

*Penulis Mahasiswa KPI IAI Persis Bandung

Editor: San

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *