
Oleh Nurdin Qusyaeri
Muqaddimah: Ironi di Bulan Suci
Hari keenam belas. Separuh lebih Ramadhan telah kita lewati. Secara spiritual, kita sedang berada di puncak pendakian. Tapi secara sosial, mari kita lihat ke sekeliling: apa yang sebenarnya terjadi di masyarakat saat bulan puasa?
Fenomena yang tak terbantahkan: harga-harga melambung. Sembako naik. Takjil yang biasanya lima ribu, jadi sepuluh ribu. Lauk pauk yang biasa, jadi mewah. Di pasar-pasar, ibu-ibu menghela napas panjang menghadapi gejolak harga. Di sisi lain, mal-mal penuh sesak dengan orang-orang yang berbelanja baju baru (orang lembur nyebutnya “baju dulag”), sepatu baru, perlengkapan Lebaran yang serba baru.
Di sinilah ironi Ramadhan tampak begitu nyata. Bulan yang seharusnya melatih kita hidup sederhana, justru menjadi bulan konsumtif. Bulan yang seharusnya menumbuhkan empati pada kaum miskin, justru sering membuat kita lupa pada mereka karena sibuk dengan hidangan berbuka yang berlimpah.
Hikmah Puasa yang Terlupakan
Seorang ulama Nusantara, Kiai Ahmad Abdul Hamid dari Kendal, dalam kitabnya Risalah As-Shaum, mencatat satu hikmah puasa yang sering terlupakan: ngirangi ongkos belanja—mengurangi biaya belanja.
Dalam bahasa Jawa yang lugas, beliau menjelaskan bahwa dengan puasa, porsi makan berkurang, pengeluaran menurun, dan kelebihan harta itu bisa disalurkan untuk menolong fakir miskin atau membangun masjid dan madrasah. Logikanya sederhana: jika kita makan lebih sedikit, kita belanja lebih hemat, dan sisanya bisa untuk mereka yang kekurangan.
Tapi realitas berkata lain. Yang terjadi justru sebaliknya. Data inflasi di Indonesia setiap tahun menunjukkan pola yang sama: harga pangan melonjak menjelang Ramadhan dan Idul Fitri. Daya beli masyarakat meningkat tajam, bukan menurun. Meja makan yang biasanya sederhana, tiba-tiba dijejali berbagai hidangan istimewa yang tidak hadir di bulan-bulan biasa.
Peringatan atas Makan Berlebihan
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin mengingatkan bahwa puasa yang benar adalah yang mampu mengekang syahwat, bukan justru melampiaskannya di waktu berbuka. Beliau menulis dengan nada prihatin:
“Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi ketika berbuka ia makan berlebihan sehingga perutnya penuh seperti tempat sampah. Ia tidak mendapatkan hikmah puasa, hanya berganti dari lapar ke kenyang yang menyiksa.”
Al-Ghazali, sang Hujjatul Islam, memahami betul bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tapi juga melatih pengendalian diri secara total. Dan pengendalian diri itu tidak berhenti saat maghrib tiba, justru harus terus berlanjut.
Dalam kitabnya yang lain, beliau membagi puasa dalam tiga tingkatan:
Tingkatan Puasa
Puasa Awam: Sekadar menahan lapar dan haus
Puasa Khusus: Menahan seluruh anggota tubuh dari dosa
Puasa Khususul Khusus: Puasa hati dari segala keinginan rendah, termasuk keinginan berlebihan pada makanan dan harta
Tingkatan ketiga inilah yang melahirkan kepedulian sosial sejati. Karena hati yang bersih dari kecintaan berlebihan pada dunia akan lebih mudah berbagi dengan sesama.
Empati sebagai Tujuan Sosial Puasa
Syekh Ali Ahmad Al-Jurjawi, ulama dan pemikir Islam yang dikenal melalui karyanya Hikmah al-Tasyri’ wa Falsafatuhu, menjelaskan secara mendalam tentang dimensi filosofis puasa.
Menurutnya, salah satu hikmah terbesar puasa adalah memupuk rasa empati terhadap fakir miskin. Ia menulis:
“Seseorang tatkala berpuasa dan merasakan dahsyatnya lapar, maka akan tumbuh dalam dirinya rasa empati dan kasih sayang kepada fakir miskin yang mana mereka tidak memiliki makanan yang mencegah mereka dari kematian.”
Al-Jurjawi bahkan mengutip riwayat bahwa Nabi Yusuf AS tidak pernah makan kecuali setelah merasakan lapar yang pedih, semata-mata untuk merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang fakir.
Ini adalah teladan luar biasa tentang bagaimana seorang nabi, yang punya kekuasaan dan kelimpahan, justru memilih untuk merasakan lapar agar hatinya tetap tersambung dengan mereka yang kekurangan.
Dampak Sosial Puasa
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Zadul Ma’ad menjelaskan bahwa puasa memiliki dampak sosial yang sangat kuat. Ketika orang kaya merasakan lapar, ia akan tergerak untuk berbagi dengan orang miskin.
Ketika orang berada merasakan susahnya menahan dahaga, ia akan lebih mudah berempati pada mereka yang setiap hari kekurangan air bersih.
Inilah fungsi sosial puasa yang sering dilupakan. Puasa bukan hanya hubungan vertikal antara hamba dan Tuhan, tapi juga hubungan horizontal antara sesama manusia.
Ibnu Qayyim juga mengingatkan bahwa banyak penyakit mental dan spiritual yang berakar dari makanan berlebihan. Beliau menulis:
“Telah menjadi kebiasaan para tabib bahwa makan berlebihan adalah penyebab segala penyakit. Dan telah menjadi keyakinan para ulama bahwa syahwat berlebihan adalah sumber segala dosa.”
Resepnya sederhana: “Perut yang lapar adalah obat. Perut yang kenyang adalah sumber penyakit. Maka, biasakanlah lapar, niscaya tubuhmu sehat dan jiwamu tenang.”
Kapitalisme dan Komodifikasi Ramadhan
Tapi yang terjadi sekarang, kapitalisme telah mengubah Ramadhan menjadi lahan subur untuk meraup keuntungan. Industri makanan, fashion, dan pariwisata berlomba-lomba menciptakan tren baru:
- Buka puasa eksklusif di hotel berbintang
- Promo belanja berbasis spiritual
- Hampers mewah dengan harga selangit
- Paket wisata religi dengan fasilitas premium
- Takjil kekinian yang harganya lima kali lipat dari harga normal
Para psikolog menyebut fenomena ini sebagai compensatory consumption—konsumsi kompensasi. Orang yang seharian menahan diri cenderung “balas dendam” saat berbuka. Mereka makan lebih banyak, lebih mahal, lebih beragam, sebagai kompensasi atas pengorbanan di siang hari.
Padahal, jika direnungkan, ini justru mengingkari esensi puasa itu sendiri. Bulan puasa yang idealnya menjadi ruang latihan menahan nafsu, justru menjelma sebagai peluang kapitalisasi religi.
Puasa dan Keikhlasan
Syekh Hasan Al-Masyath, ulama besar kelahiran Makkah yang dijuluki Syaikhul ‘Ulama (gurunya para ulama), dalam kitabnya Is’afu Ahlil Iman bi Wadza’if Syahri Ramadhan menjelaskan bahwa puasa adalah ibadah yang paling sulit terkena riya’. Karena puasa tidak terlihat secara gerakan, tidak seperti shalat atau sedekah yang bisa dipamerkan.
Tapi di era media sosial, ironisnya, orang justru bisa “pamer puasa” melalui foto-foto sahur dan berbuka. Yang dipamerkan bukan puasanya, tapi makanannya. Yang ditampilkan bukan pengendalian diri, justru kenikmatan duniawi.
Dalam hadis qudsi, Allah berfirman:
“Setiap amalan anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari)
Syekh Al-Masyath menjelaskan bahwa keistimewaan ini salah satunya karena puasa mampu mengekang syahwat. Syahwat adalah pintu utama setan. Dengan menahan syahwat melalui puasa, manusia membuktikan pengabdiannya kepada Allah.
Nah, jika di bulan puasa kita justru tenggelam dalam syahwat konsumsi, di mana letak keistimewaan itu? Jika setelah seharian berpuasa kita malah makan berlebihan, bukankah kita hanya memindahkan syahwat dari siang ke malam?
Lapar yang Hakiki
Jalaluddin Rumi, sang penyair cinta, dalam Matsnawi -nya melukiskan dengan indah:
“Hai jiwa, jangan kau kira puasa hanya menahan lapar.
Ia adalah menahan diri dari segala yang bukan Dia.
Jika kau hanya lapar, hewan pun lapar.
Tapi jika kau lapar karena Allah, malaikat pun iri.”
Rumi mengajarkan bahwa lapar fisik itu bisa dirasakan siapa saja, bahkan hewan. Tapi lapar spiritual—lapar yang mengantarkan pada kedekatan dengan Tuhan—hanya bisa dirasakan oleh mereka yang memahami hakikat puasa.
Dan salah satu buah dari lapar spiritual adalah kepedulian pada sesama. Ketika kita benar-benar lapar karena Allah, kita tidak akan tega melihat orang lain kelaparan. Ketika kita benar-benar haus karena Allah, kita tidak akan bisa tidur nyenyak mengetahui ada saudara yang kekurangan air bersih.
Ekonomi Islam dan Redistribusi Kekayaan
Para ahli ekonomi Islam menjelaskan bahwa puasa seharusnya mendorong redistribusi kekayaan. Dengan menahan konsumsi, orang kaya memiliki kelebihan harta yang bisa disalurkan pada yang miskin. Zakat fitrah di akhir Ramadhan adalah instrumen redistribusi itu.
Tapi jika selama Ramadhan konsumsi justru membengkak, redistribusi yang terjadi malah sebaliknya: uang mengalir dari kantong umat ke kantong pengusaha, bukan dari orang kaya ke orang miskin.
Data menunjukkan bahwa:
- Konsumsi rumah tangga meningkat 20-30% selama Ramadhan
- Inflasi bahan pangan mencapai titik tertinggi di tahun tersebut
- Hutang konsumtif masyarakat melonjak menjelang Lebaran
- Setelah Lebaran, banyak keluarga yang justru kekurangan karena kehabisan uang untuk belanja
Inilah ironi yang perlu kita renungkan bersama.
Refleksi: Evaluasi Pola Konsumsi Kita
Maka, di hari keenam belas ini, mari kita evaluasi pola konsumsi kita:
- Apakah kita termasuk orang yang berbelanja berlebihan di bulan puasa?
- Apakah kita lebih banyak menghabiskan uang untuk hidangan berbuka yang mewah?
- Ataukah kita bisa menahan diri, hidup sederhana, dan menyisihkan lebih banyak untuk mereka yang membutuhkan?
Puasa adalah madrasah sosial. Ia mengajarkan bahwa makanan yang kita makan setiap hari adalah nikmat besar yang sering tidak kita syukuri. Ia mengingatkan bahwa di luar sana ada saudara-saudara kita yang setiap hari merasakan lapar tanpa punya makanan untuk berbuka. Ia melatih kita untuk berbagi, bukan menumpuk.
Catatan Humor yang Menohok
Abu Nawas, dengan kelicikan khasnya, pernah melihat seorang pejabat yang sibuk membagikan sembako di depan kamera. Setiap hari ada foto baru di koran: pejabat itu tersenyum di tengah warga yang menerima bingkisan.
Abu Nawas mendekat dan bertanya, “Wahai Tuan, saya lihat Tuan sangat rajin berbagi. Apakah Tuan juga rajin berpuasa?”
Pejabat itu tersenyum bangga. “Tentu saja! Saya puasa full, bahkan kadang puasa sunnah juga.”
“Bagus,” kata Abu Nawas. “Tapi saya ingin tanya: di luar Ramadhan, apakah Tuan juga rajin berbagi? Atau bagi-bagi takjil ini hanya karena kamera?”
Pejabat itu tersipu.
Abu Nawas melanjutkan, “Puasa itu bukan tentang bagi-bagi takjil 30 hari, Tuan. Tapi tentang memastikan rakyat bisa makan 365 hari. Puasa melatih kita merasakan lapar rakyat miskin. Jangan sampai kita hanya merasakan lapar di bulan puasa, tapi lupa pada mereka yang lapar setiap hari.”
Pamungkas: Menemukan Kembali Esensi
Syekh Ali Ahmad Al-Jurjawi menutup pembahasannya tentang hikmah puasa dengan sebuah rangkuman indah. Menurutnya, puasa itu:
- Menguatkan kemauan
- Menundukkan syahwat
- Menumbuhkan rasa malu kepada Allah
- Memupuk empati pada fakir miskin
- Mengakui nikmat dengan benar
- Mengakui kelemahan manusia di hadapan Tuhan
Semua itu bermuara pada satu hal: menjadikan manusia pribadi yang saleh secara individu dan saleh secara sosial.
Maka, di sisa Ramadhan ini, mari kita kembalikan puasa pada esensinya. Bukan sekadar menahan lapar, tapi juga menahan nafsu konsumtif. Bukan sekadar merasakan lapar, tapi juga mengelola kelebihan harta untuk mereka yang kelaparan. Bukan sekadar ibadah individual, tapi juga kepedulian sosial.
Karena pada akhirnya, puasa yang benar adalah yang mampu mengubah kita menjadi pribadi yang lebih peka, lebih peduli, dan lebih dermawan—bukan hanya di bulan Ramadhan, tapi sepanjang tahun.
Wallahu a’lam bish-shawab.





