Website Berita dan Opini
Indeks

Rindu Indonesia

Sebuah puisi

Rindu Indonesia
Foto: Superlive.id

Oleh Nurdin Qusyaeri

Aku berhasil tidak menghubungimu,

tapi aku gagal

untuk tidak merindukanmu.

 

Aku tidak mencarimu jauh,

namun kutemukan engkau jauh ke dalam hatiku—

tempat engkau selalu menetap,

seperti cahaya yang tak pernah padam.

 

Bahagia, sedih—

hanya arus rasa

yang datang dan pergi.

Semua fana,

sementara saja.

 

Dan aku belajar…

bahwa dari sekian banyak manusia,

yang paling pantas kunasihati

adalah diriku sendiri.

Hidupku biasa saja,

dan akan tetap biasa saja.

Tak ingin bersaing dengan siapa pun.

Aku hanya ingin merangkum waktu:

menghimpun luka,

menyimpan rasa,

menenun doa.

Namun di balik rindu ini,

ada rindu yang lebih besar:

Rindu Indonesia.

Rindu tanah air yang pandai menunaikan cita-cita kemerdekaan:

mencerdaskan masyarakatnya,

mensejahterakan rakyatnya,

dan berperan mendamaikan dunia.

Indonesia raya…

namamu diteriakkan lantang,

dikumandangkan dengan dada membusung.

Namun sering kudapati engkau tanpa nyawa.

Pancasila hanya slogan,

Ketuhanan entah di mana,

Kemanusiaan tinggal judul pidato,

Keadilan terkubur di ruang gelap.

Dan rinduku padamu—

seperti rinduku pada negeri ini:

tak pernah selesai.

Aku ingin melihatmu baik-baik saja.

Aku ingin menjumpaimu benar-benar hidup.

Luka pribadi mungkin bisa kupendam,

tapi luka bangsa…

tak bisa,

karena itu luka kita semua.

Cinunuk, 24 Agustus 2025

Baca Juga:  Jalan Sunyi yang Menguatkan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *