Skripsi yang Tak Pernah Selesai

Skripsi yang tak pernah selesai
Foto internet

 

Oleh Bramantyo

Ia datang dengan kertas penuh coretan. Bukan hanya skripsi yang tak rapi, tapi hidup yang mulai lelah ia pahami.

Namanya Ratih. Usianya tak muda, tapi semangatnya melampaui para mahasiswa semester akhir yang malas merevisi. Ratihpun termasuk mahasiswi yang berparas cantik sekaligus cerdas.

Di ruang kecil Fakultas, tempat lampu sering redup dan AC kadang mati, ia bertemu Rangga—dosen pembimbing yang senyumnya sering datang sebelum kalimat pertama.

“Pembahasanmu tajam,” katanya di suatu sore. “Tapi masih perlu disisir sedikit… seperti rambutmu yang tergerai acak-acakan itu.”

Ratih tersenyum. Ia tak biasa dipuji. Apalagi oleh seorang pria yang tiap masuk kelas selalu membawa aroma kopi dan tatapan yang seperti ingin membaca lebih dari sekadar bab dua.

Bimbingan jadi alasan. Sore jadi waktu favorit. Mereka bicara tentang teori, metodologi, hingga filsafat yang katanya tak berguna—tapi mampu membakar jiwa.

Mereka makin dekat, tapi juga makin rumit. Pernah, dalam obrolan yang lebih seperti pengakuan dosa ketimbang diskusi akademik, Ratih berkata lirih:

“Aku linglung, Rangga. Pikiranku tak bisa menghilangkan bayanganmu. Setiap jam, aku lihat WA… berharap itu darimu. Walau aku sadar, hal ini tuh gak boleh. Dosa.”

Ia menunduk, menggenggam tisu yang tak cukup menampung gelombang perasaannya.

“Kamu itu racun, yang bikin aku kelimpungan,” tambahnya, separuh gemetar, separuh menyerah.

Rangga terdiam. Tatapannya kosong menembus jendela ruang bimbingan, seolah sedang mencari alasan untuk menyangkal, namun tak mampu.

“Iya, Ratih. Aku pun mengalami hal yang sama. Tapi kita harus selamat… dunia akhirat. Ini rasa yang tepat, tapi di waktu yang salah.”

Diam menyergap. Lalu Ratih berbisik, seperti doa yang takut terdengar oleh langit:

Baca Juga:  Kabut Gas di Tamansari: Ketika Kampus Jadi Korban

“Kita harus segera mengakhiri perjalanan ini, Rangga. Insya Allah kita bisa. Harus bisa”

Rangga mengangguk. Ada air yang tak tumpah, tapi membasahi jiwanya.

“Iya, Ratih. Insya Allah kita akan masuk surga, karena menahan gejolak cinta yang membuncah… hanya demi menjaga kesucian cinta masing-masing, agar tidak terjerumus ke jalan yang gelap.”

“Betul, Rangga…” jawab Ratih sambil berderai air mata.

Air matanya jatuh tak hanya karena kehilangan, tapi juga karena kekuatan menolak rasa yang begitu besar, namun tak punya takdir.

Beberapa minggu setelah itu, Ratih tak lagi datang ke ruang bimbingan. Skripsinya stagnan, tapi hati mereka perlahan sembuh. Tak ada kabar, tak ada pesan, kecuali senyap yang disepakati.

Sampai pada suatu malam, di sebuah kafe kecil, Rangga bercerita pada temannya yang sudah lama tak ditemui.

“Aku jatuh cinta, Bro… Rasanya jujur tapi rumit. Aku bahkan sempat ingin menikah dengannya.”

“Siapa?” tanya temannya dengan penasaran.

“Mahasiswa bimbinganku… Ratih.”

“Astaga… Gimana keluarganya? Menyetujui?”

Rangga meneguk kopi yang mulai dingin. Tersenyum samar.

“Keluarganya keberatan.”

“Siapa? Ayah dan ibunya?”

Rangga tertawa kecil.

“Bukan. Ayah dan ibunya malah mendukung penuh.”

“Lantas siapa?”

Rangga menatap lurus, matanya jauh seperti menyeberangi masa lalu.

“Suaminya… dan anak-anaknya.”

Dan begitulah, cinta mereka tak selesai. Tapi seperti skripsi yang tak diwisuda, mereka berdua justru lulus dari ujian yang tak diberi nilai: menjaga cinta yang suci, agar tak menjadi aib yang abadi.

Kadang, bagian paling indah dari cinta bukanlah memilikinya—melainkan melepaskannya, agar tetap layak disebut cinta.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *