
Oleh Hendi Rustandi*
Pagi itu, udara masih segar. Di luar jendela, matahari baru saja naik, menyingkap kabut tipis yang masih enggan beranjak. Sambil menyeruput teh yang mulai dingin, jemariku meraih ponsel. Ada satu nama yang terlintas di layar kontak—anak perempuanku, kini sudah duduk di bangku kuliah.
Aku tekan tombol panggil. Suara berdering, lalu terdengar sapaan ceria dari seberang sana.
“Assalamu’alaikum, Bapak…”
“Wa’alaikumussalam, Teteh. Lagi apa?”
Aku tersenyum. Sambil mendengar suaranya, aku merasa waktu berjalan begitu cepat. Rasanya baru kemarin aku menggandeng tangannya menuju sekolah dasar, kini dia sudah belajar menata mimpi di dunia kampus.
Setelah berbasa-basi sebentar, aku mulai menyampaikan pesan.
“Teteh, Bapak cuma mau bilang satu hal. Ingatlah bahwa kesuksesan itu 99% anugerah dari Allah, dan hanya 1% dari perjuangan kamu sendiri.”
Ada keheningan sebentar di seberang. Lalu terdengar helaan napas pelan, seakan ia sedang mencerna kata-kata itu.
Aku lanjutkan dengan nada lebih lembut,
“Makanya, jangan terlalu percaya diri pada otak atau kerja keras. Semua itu memang penting, tapi tanpa izin Allah, tak ada satu pun yang berhasil. Hidup ini harus lebih dominan dengan religius. Kalau langkahmu ditemani doa, kalau setiap ikhtiarmu diiringi ibadah, insyaAllah jalanmu akan dimudahkan. Sukses itu bukan karena kita kuat, tapi karena Allah yang memudahkan.”
Aku berhenti sebentar, lalu menambahkan dengan tegas,
“Dan ingat, sikap ketuhananmu harus lebih kentara. Bukan hanya dalam doa dan ibadah, tapi juga dalam cara kamu menjaga hati. Salah satunya dengan selalu ingat kepada Bapak dan Ibu. Hormati, doakan, dan bahagiakan orang tuamu. Karena ridha Allah itu sejalan dengan ridha kedua orang tua. Jadi, jangan pernah jauh dari doa kami, dan jangan biarkan hatimu jauh dari kami.”
Aku coba memberi ilustrasi agar pesannya lebih melekat.
“Bayangkan kamu naik kapal di lautan luas. Kamu bisa belajar cara mengemudi kapal, tahu arah angin, paham peta lautan. Tapi tetap saja, kalau ombak besar datang, hanya Allah yang bisa menolongmu. Dan di tengah perjalanan itu, jangan lupa, doa orang tua adalah angin baik yang bisa mengantarmu lebih cepat sampai ke tujuan.”
Di seberang sana, Teteh hanya berujar lirih,
“Iya, Pak…” suaranya lembut tapi sarat makna.
Telepon itu tak lama. Hanya beberapa menit. Tapi aku berharap kata-kata singkat itu akan jadi bekal panjang untuknya. Sebab aku percaya, orang tua tidak selalu bisa hadir di setiap langkah anaknya. Namun doa, nasihat, dan pengingat untuk kembali kepada Allah serta mengingat orang tua, bisa menjadi cahaya yang menemaninya sepanjang perjalanan hidup.
*Penulis: Dosen dan Mahasiswa Doktoral






