
Oleh Popi Sri Mulyani*
Bukan…
titik terendah bukan saat dunia runtuh menghimpit dada,
bukan saat kehilangan orang tercinta merobek jiwa,
bukan saat usaha hancur berkeping seperti kaca,
bukan pula ketika prestasi tak lagi bersinar seperti biasa.
Bukan saat rencana gagal total,
bukan pula saat hidup tak sesuai harapan.
Semua itu menyakitkan, ya…
tapi bukan itu palung terdalam dari sebuah kehidupan.
Titik terendah…
adalah saat hati mengering seperti padang gersang,
tak ada lagi embun doa yang membasahi malam,
saat tangan tak lagi terangkat,
lisan bungkam dalam keluh tanpa nama Tuhan.
Titik terendah…
adalah ketika kita merasa mampu,
merasa kuat,
berjalan sendiri
tanpa cahaya dari langit,
merasa tak perlu berlutut lagi dalam sujud,
padahal setiap napas pun bukan milik kita sendiri.
Saat itulah,
perlahan tapi pasti,
jiwa kehilangan arah,
seperti kapal tanpa nakhoda,
melaju… tapi menuju kehampaan,
hidup… tapi tanpa ruh.
Dan celakanya,
kita tak sadar sedang tenggelam
dalam kesibukan yang menjauhkan dari-Nya,
dalam ambisi yang membuat kita lupa
bahwa kita hanya debu
di bawah langit kekuasaan-Nya.
Titik terendah…
bukan saat dunia menjauh,
tapi saat Sang Pencipta tak ingin bertemu,
karena kita telah lebih dulu menjauh dari-Nya.
Maka menangislah…
bukan karena gagal,
bukan karena kecewa,
tapi karena rindu,
karena kita ingin kembali dipeluk oleh cinta yang Maha Agung.
Kembali…
bukan sekadar ritual yang hampa,
tapi dengan hati yang pasrah,
dengan jiwa yang tunduk,
dan air mata yang jatuh karena merasa terlalu lama pergi.
Itulah puncak kebangkitan,
dari titik terendah menuju cahaya,
karena sejatinya…
titik balik itu dimulai dari sebuah kesadaran:
kita tak pernah bisa tanpa-Nya.
*Penulis Mahasiswi KPI IAI Persis Bandung






