
Ada luapan amarah saat kuminta ia bersabar.
Padahal bisikku hanya:
“Jangan kau cabut akar-akar kisah kita
Sebelum bumi menyelesaikan putaran wajibnya.”
Ada empat musim yang harus dilalui dengan jujur,
Bukan demi aku yang kau anggap mempertahankan ego tak merelakan takdir menyapih —
Tapi untuk mengembalikan semua rindu yang terserak
Kepada langit yang meminjamkannya.
Agar ketika kau berlabuh di teluk lain,
Layarmu tak dikutuk bayangan masa lalu.
Tapi kau terjun ke samudra asing
Saat badai dalam daratmu belum reda.
Kau rangkul gelombang-gelombang palsu
Sebelum hujan membersihkan jejak kaki di pasir.
Sadarkah kau?
Kesabaran itu ibarat sungai bawah tanah—
Mengalir sunyi membersihkan luka,
Menghanyutkan duri-duri nafsu ke laut lepas.
Tapi kau memilih menjadi kilat
Yang menyambar kapal sendiri.
Kini kau tuduh aku egois?
Dengarkan:
Aku hanya berdoa pada rembulan:
“Jangan biarkan ia menanam benih baru
Di tanah yang masih dipupuk duka.”
Ini bukan tentang mencintaimu.
Ini tentang menghormati hukum rotasi jiwa—
Di mana setiap perhentian punya orbit sucinya sendiri.
Tentang menyimpan kehormatan rahim yang pernah menumbuhkan cinta,
Agar tak jadi kuburan benih yang terinjak-injak.
Dan hari ini…
Saat puisimu tentang kenangan abadi menghampiri,
Kubungkus dengan daun gugur, lalu kukubur di peradaban musim:
“Di sini terbaring Sebuah Musim Cinta.
Dilahirkan: Saat dua sungai bertemu.
Dimakamkan: Saat salah satunya meluap sebelum waktunya.
Nisannya: Empat musim yang tak sempat disucikan.” Wallahu’alam.
*Tulisan ini adalah fragmen perenungan tentang menghormati waktu transisi dalam hubungan manusia.






