Website Berita dan Opini
Indeks

Guru yang Selalu Dikenang Namun Jarang Dihargai

Guru selalu dikenang namun kurang dihargai
Guru honorer sedang unjuk rasa menuntut hak mereka.

 

Oleh Nurdin Qusyaeri

Di balik pujian dan gelar mulia sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa,” ada kenyataan pahit yang harus dihadapi guru-guru honorer di Indonesia.

Mereka dengan penuh dedikasi menjadi lentera dalam kegelapan, justru hidup dalam bayang-bayang ketidakpastian. Masih terhitung banyak guru honorer baik di kota maupun di pelosok-pelosok  yang telah mengabdikan dirinya selama belasan bahkan puluhan tahun.

Setiap hari, menghabiskan 7,5 jam di kelas, mengajar lima hari dalam sepekan. Sebuah rutinitas yang penuh semangat, meski hanya dihargai Rp. 350 ribu per bulan, diterima setiap tiga bulan sekali.

Sembari menjalani rutinitasnya, guru-guru itu terus berdoa dan berharap, hadirnya keberpihakan melalui program PPG dan P3K.

Terdengar kabar bahwa guru PNS akan mendapatkan tunjangan tambahan Rp2 juta per bulan, hal ini malah menambah  sayatan luka di hati. Ternyata tunjangan dan sertifikasi hanya untuk mereka yang PNS, sementara gaji kecil honorer tetap tak dilirik. Apakah pengabdian itu diukur dari status kepegawaian?

 

Ironi dalam Puja-Puji

Guru-guru honorer seperti Ai adalah saksi nyata ketidakadilan ini. Mereka yang menjadi tulang punggung pendidikan bangsa, hanya dihargai dengan kata-kata indah dalam pidato atau puisi. “Pahlawan tanpa tanda jasa,” kata mereka. Tapi bagaimana seorang pahlawan bisa bertahan hidup dengan Rp350 ribu? Sementara di negara lain, seperti Luxembourg, guru pemula saja mendapatkan Rp1,1 miliar setahun.

Di pelosok desa, guru-guru mengayuh sepeda, melewati jalan berlumpur, menuju sekolah yang bangkunya reyot. Mereka menyambut murid dengan senyum yang menyembunyikan beban hidup. Senyum itu adalah doa dalam wujud lain, doa agar dapur tetap mengepul meski minyak goreng hampir habis.

Sementara itu, janji kenaikan gaji selalu terdengar. Tapi janji tinggal janji. “Supaya tepat sasaran,” alasan yang selalu diulang-ulang, meski sasarannya sudah terlalu lelah menunggu.

Baca Juga:  Muhammad Hoerudin Amin: Pemerintah Harus Perioritaskan Guru yang Telah Lama Mengabdi

 

Hidup dengan Pengorbanan Tanpa Akhir

Guru seperti Ai tidak pernah menyerah. Meski gaji mereka lebih kecil dari uang jajan anak-anak milenial, mereka tetap mengajar. Mereka sadar, menjadi guru bukanlah jalan pintas menuju kekayaan, melainkan panggilan untuk mendidik generasi penerus bangsa.

Namun, sampai kapan panggilan jiwa ini harus berjuang sendirian? Sampai kapan guru honorer hidup dalam filosofi “asal cukup untuk bertahan”? Apakah ini cerminan dari bangsa yang menghargai pendidiknya?

 

Menatap Indonesia Emas 2045

Ai dan ribuan guru honorer lainnya adalah penjaga masa depan bangsa. Mereka tidak hanya mengajar, tetapi juga membentuk karakter dan impian generasi berikutnya. Namun, jika ketidakadilan ini terus berlanjut, bagaimana kita bisa menyongsong Indonesia Emas 2045?

Guru bukan hanya simbol. Mereka adalah kunci. Dan bangsa yang tidak menghargai gurunya, sedang menggali lubang bagi masa depannya sendiri.

Jika kita ingin Indonesia berjaya, sudah saatnya kita memastikan bahwa semua guru, tanpa terkecuali, mendapatkan penghargaan yang layak. Sebab, kemajuan bangsa dimulai dari penghormatan terhadap mereka yang mengajarkan huruf pertama kita. Wallahu’alam

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *