
Oleh Nisa Gustiani*
Hawa panas menyambut kedatanganku di Jalan Lembong, Kota Bandung. Di sana, kulihat seseorang mengenakan almamater Universitas Persis Islam (UNIPI), tampak tengah menanti. Aku menyapanya, dan kami pun berjalan bersama menuju lobi Hotel Crowne Plaza. Bangunan itu berdiri megah di tengah hiruk-pikuk kota—bagaikan istana modern yang menyimpan banyak kemungkinan. Namun, di balik kemegahannya, aku merasa asing. Aku datang sendiri, tanpa kawan, dan suasana terasa canggung.
Kucoba menyapa seseorang di sebelahku, namun ia menjawab dingin, seolah enggan berbincang. Saat itu, aku belajar bahwa tidak semua sapaan akan langsung disambut hangat. Tapi aku tak ingin menyerah. Seperti bunga yang menunggu musimnya, aku tahu waktuku akan datang.
Lalu, seseorang datang bersama temannya. Aku bertanya ringan, “Ikut seminar juga, Teh?” Dan kali ini, sambutan itu hangat. Kami pun berbincang dengan akrab, dan satu pertanyaan kecil itu membuka jalan panjang menuju pertemanan baru. Rasanya seperti menemukan celah cahaya dalam ruang gelap—cukup untuk melihat bahwa aku tidak sendiri.
Kami naik lift menuju lantai dua. Di dalam lift, mereka saling menyapa, tampak akrab satu sama lain. Aku kembali diam, sedikit terasing. Begitu pintu lift terbuka, kami menuju meja registrasi. Aku berdiri paling belakang. Sempat terpikir bahwa mereka akan pergi duluan dan aku akan masuk sendiri.
Dua menit berlalu untuk menulis identitas dan menerima tas seminar dari panitia Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Saat itu, aku berkata dalam hati, “Mereka pasti sudah masuk. Tak apa.” Tapi dugaanku keliru. Mereka menungguku. Satu sikap sederhana itu begitu berarti. Aku merasa diterima. Dihargai.
Ini adalah kali pertama aku menghadiri seminar yang begitu mewah. Ruangan luas ber-AC, lampu-lampu indah, meja dan kursi tertata rapi, serta hidangan tersedia. Tapi bukan itu yang membuatku terkesan.
Yang paling membekas bukanlah kemewahan acaranya, melainkan hangatnya manusia.
Hari itu, tanpa kusadari, aku sedang berjalan dari kegugupan menuju koneksi. Satu demi satu, rasa asing mulai mencair menjadi obrolan ringan, tawa kecil, dan kehadiran yang berarti.
Dalam pertemuan itu, aku belajar:
- Bahwa menyapa butuh keberanian, tapi hasilnya bisa membuka pintu yang tak terduga.
- Bahwa menjadi asing adalah bagian dari setiap awal, dan tidak apa-apa untuk merasa tidak nyaman.
- Bahwa di tengah ruang besar yang asing, satu sambutan hangat bisa menjadi jangkar rasa aman.
Aku tak tahu siapa mereka yang pertama kali kujumpai hari itu. Tapi mereka telah mengajarkanku pelajaran kecil yang besar: ilmu tak hanya didapat dari podium, tapi juga dari perjumpaan dan keberanian untuk hadir sepenuhnya.
Bagi siapa pun yang pernah merasa canggung di tempat baru: mungkin, seperti aku, kamu hanya perlu satu langkah kecil—satu senyuman, satu sapaan—untuk memulai perjalanan dari kegugupan menuju koneksi.
*Penulis Mahasiswi KPI IAI Persis Bandung





