Website Berita dan Opini
Indeks

Jangan Paksa Ijazah Kita Menjadi “Palsu” – Refleksi Kritis atas Makna Ijazah

Makna Ijazah
Gambar Ilustrasi

Oleh Herdiana*

Di antara berkas-berkas formal yang kita koleksi sepanjang hidup, mungkin tak ada yang lebih sering kita banggakan selain ijazah. Ia kita bingkai, kita fotokopi berkali-kali, bahkan kita bawa saat melamar pekerjaan, seolah menjadi satu-satunya bukti bahwa kita telah “dididik”.

Namun kini, saat perayaan akhir tahun ajaran atau yang di banyak tempat disebut “samen”, menjadi ajang rutin tahunan—saat anak-anak berpakaian terbaik, panggung dipersiapkan, dan ijazah dibagikan—kita patut bertanya: Benarkah ijazah ini lahir dari proses pendidikan yang utuh, yang sah secara ruhani dan sosial? Atau hanya sekadar simbol yang mengesahkan rutinitas administratif tanpa makna mendalam?

Makna Ijazah dalam Tradisi Islam

Secara etimologis, ijazah berasal dari kata ijāzah (Arab) yang berarti “izin” atau “otorisasi”. Dalam khazanah keilmuan Islam klasik, seorang murid tidak bisa mengklaim penguasaan ilmu tanpa ada ijazah dari gurunya—yang disertai syahadah (kesaksian) atas kesungguhan dan akhlaknya dalam menuntut ilmu. Dengan kata lain, ijazah adalah bentuk penghormatan terhadap proses, bukan sekadar hasil.

Sayangnya, makna syahadah ini semakin hilang dalam praktik pendidikan kita hari ini. Ijazah diberikan tanpa kesaksian ruhani, bahkan kadang tanpa hubungan personal antara guru dan murid. Ijazah menjadi lembaran kosong—resmi secara hukum, tapi miskin substansi.

Baca Juga:  Ijazah sebagai Syahadah: Merenungkan Kembali Hakikat Pendidikan

Momentum samen seharusnya bukan sekadar seremoni, melainkan momen tafakur atas perjalanan yang telah ditempuh. Ini seharusnya menjadi waktu ketika anak, orang tua, guru, dan lembaga saling bertanya: Apakah perjalanan ini telah membentuk manusia? Atau hanya sekadar memenuhi jadwal pelajaran?

Samen sering kali lebih fokus pada dekorasi panggung, hasil ujian, dan daftar juara. Tapi pendidikan tidak berhenti di situ. Samen seharusnya adalah awal yang baru, titik tolak untuk membenahi apa yang kurang dan merancang kembali jalan yang lebih bermakna.

Ali Syariati dan Gagasan Pendidikan yang Membebaskan

Ali Syariati, intelektual revolusioner dari Iran, menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar mencetak manusia yang siap kerja, tapi menciptakan manusia yang sadar dan merdeka. Pendidikan harus melahirkan manusia yang bertanggung jawab atas sejarahnya—bukan hanya menjadi korban sistem.

Dalam pandangannya, pendidikan adalah alat transformasi. Ia tidak hanya membentuk kemampuan teknis, tapi juga kesadaran etik, spiritual, dan sosial. Maka ijazah bukan tujuan, melainkan efek samping dari proses pembebasan itu sendiri.

Menolak Budaya Ijazah Palsu secara Makna

Jika kita masih menganggap samen hanya sebagai “selesainya sekolah”, dan ijazah sebagai “produk utama”, maka kita telah memalsukan makna pendidikan. Kita telah menjauh dari ruh ilmu, dan mendekat pada industri ijazah.

Untuk itu, kita perlu: Menghidupkan kembali makna “syahadah” dalam pendidikan—kesaksian atas proses ruhani dan intelektual. Memandang samen sebagai momen evaluasi, bukan sekadar seremoni. Menolak budaya ijazah palsu secara makna. Menjadikan guru sebagai pembimbing ruhani (murabbi), bukan sekadar operator kurikulum. Menyusun ulang kurikulum yang membentuk kesadaran, bukan hanya kompetensi.

Jika samen hanya menjadi tanda tamat, maka kita kehilangan arah. Tapi jika samen kita posisikan sebagai syahadah kolektif atas perjalanan membentuk manusia, maka kita punya harapan.

Samen adalah saat paling tepat untuk memulai lagi. Untuk menata ulang relasi pendidikan, memperbaiki substansi kurikulum, dan membangun budaya belajar yang jujur, adil, dan membebaskan. Karena ijazah yang tidak berakar pada proses yang sah dan bermakna, adalah bentuk lain dari kepalsuan yang dilegalkan.

Dan kita—guru, orang tua, siswa, lembaga, dan negara—memiliki tanggung jawab untuk tidak memalsukannya.

Tulisan ini merupakan refleksi atas praktik pendidikan kita hari ini. Semoga menjadi bahan perenungan bersama di tengah riuh rendah perayaan samen yang indah, namun juga penuh tanggung jawab moral.

*Penulis adalah Pengajar & Aktivis Sosial

Editor: San

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *