Ijazah sebagai Syahadah: Merenungkan Kembali Hakikat Pendidikan

Ijazah sebagai Syahadah
Foto Penulis (dokpri)

Oleh Herdiana*

Di tengah hiruk-pikuk dunia pendidikan Indonesia, ijazah kerap dianggap sebagai puncak tertinggi dari perjalanan akademik seseorang. Bagi banyak siswa dan mahasiswa, ijazah bukan sekadar bukti kelulusan, tetapi tujuan akhir yang diidamkan. Tak jarang, proses belajar seolah menjadi nomor dua dibandingkan dengan selembar kertas tersebut. Fenomena ini mengundang pertanyaan mendasar: apakah benar pendidikan hanya tentang memperoleh ijazah?

Ijazah dalam Perspektif Bahasa

Dalam khazanah bahasa Arab, ijazah memiliki padanan yang sarat makna: syahadah. Secara linguistik, ijazah (إجازة) berarti izin atau otorisasi dari seorang guru kepada murid untuk mengajarkan kembali ilmu yang telah dipelajarinya. Sedangkan syahadah (شهادة) bermakna kesaksian. Dalam konteks Islam, syahadah merupakan kesaksian tertinggi atas kebenaran tauhid. Menariknya, di banyak negara Muslim, ijazah akademik disebut juga sebagai syahadah. Hal ini menyiratkan bahwa memperoleh ijazah bukan hanya soal administratif, melainkan sebuah pengakuan bahwa pemiliknya telah menjadi saksi atas kebenaran ilmu yang telah dialami dan dipahami.

Dengan cara pandang ini, ijazah sebagai syahadah dapat dimaknai sebagai deklarasi moral dan spiritual. Ijazah tidak hanya menjadi alat mobilitas sosial atau syarat masuk dunia kerja, melainkan bukti bahwa seseorang telah menjalani proses pencarian, perenungan, dan pembuktian terhadap kebenaran—baik secara ilmiah maupun eksistensial.

Baca Juga:  Tak Ada Usia Tua Melainkan Fisik yang Tak Muda – Semangat Belajar Sepanjang Hayat

Pendidikan yang Terjebak dalam Orientasi Hasil

Sayangnya, sistem pendidikan modern, termasuk di Indonesia, lebih sering menitikberatkan pada hasil akhir ketimbang proses. Paulo Freire, pedagog asal Brasil, menyebut model ini sebagai banking model of education, di mana guru sekadar “menyetor” pengetahuan ke dalam diri siswa yang dipandang pasif seperti rekening kosong. Dalam sistem semacam ini, siswa kehilangan agensi. Ijazah pun tereduksi menjadi stempel kelulusan, bukan kesaksian terhadap transformasi diri.

Kritik tajam juga disampaikan oleh Ivan Illich dalam Deschooling Society. Ia menggarisbawahi kegagalan institusi pendidikan formal dalam menghadirkan makna sejati dari belajar. Pendidikan, menurut Illich, telah menjadi industri, dan ijazah menjelma menjadi komoditas. Dalam konteks ini, sangat jauh dari makna ijazah sebagai syahadah yang sakral dan filosofis.

Sebaliknya, Ki Hadjar Dewantara, pendiri pendidikan nasional Indonesia, memiliki pandangan yang jauh lebih holistik. Baginya, pendidikan adalah usaha untuk menuntun segala kekuatan kodrat anak agar mereka tumbuh menjadi manusia yang selamat dan bahagia, baik sebagai individu maupun anggota masyarakat. Dalam kerangka pemikiran ini, ijazah bukan hanya bukti capaian akademik, melainkan tanda telah tumbuhnya pribadi yang merdeka dalam berpikir, merasa, dan bertindak.

Menghidupkan Kembali Makna Ijazah sebagai Syahadah

Mengembalikan makna ijazah sebagai syahadah berarti menghidupkan kembali kesadaran akan tujuan luhur pendidikan. Pertanyaannya, apakah proses belajar kita selama ini cukup dalam untuk menghasilkan kesaksian? Apakah guru masih memerankan diri sebagai pembimbing dan saksi pembentukan pribadi? Apakah siswa mengalami pendidikan sebagai perjalanan mencari makna, atau sekadar ajang mengejar nilai dan gelar?

Baca Juga:  Yo, Gen Z! Kuliah di IAI Persis Bandung Bikin Hidup Lo Epic Tanpa Cringe!

Untuk itu, perlu ada perubahan paradigma dalam pendidikan kita. Penilaian pendidikan harus menekankan pada proses dan transformasi, bukan hanya hasil. Guru perlu mendapatkan dukungan untuk mendampingi siswa secara menyeluruh—tidak hanya kognitif, tapi juga afektif dan spiritual. Kurikulum pun perlu disusun agar memfasilitasi penemuan diri dan pemaknaan hidup, bukan sekadar pencapaian angka dan target administratif.

Akhirnya, ijazah sebagai syahadah adalah panggilan moral bagi seluruh ekosistem pendidikan. Ia mengingatkan bahwa pendidikan sejatinya adalah perjalanan spiritual dan intelektual menuju kebenaran, bukan perlombaan menuju status sosial. Maka, marilah kita jalani proses pendidikan ini bukan hanya demi selembar kertas, tetapi demi menjadi saksi atas kebenaran yang telah kita temui, pelajari, dan hayati.

*Pengajar dan Aktivis Sosial

Editor: San

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *