Website Berita dan Opini
Indeks
Esai  

Menonton Gaza Hayya 3 – Lebih dari Sekadar Film, Ini tentang Kemanusiaan

Gaza Hayya 3
Foto saat menonton film Gaza Hayya 3 (dokpri)

Oleh Parihah*

Siang itu langit Cigantri terasa agak panas, walau tak sepanas ketika kita mendengar gebetan ditikung orang, hehe.

Serombongan emak-emak militan berhamburan keluar dari masjid selepas melaksanakan salat Zuhur di masjid kampus. Aura ketenangan dan keteduhan terpancar dari wajah-wajah mereka yang penuh dengan ghiroh.

Mereka berkumpul dengan mengenakan dress putih lengkap dengan atribut Palestina: hijab, syal, bros, bahkan ada yang memakai sorban suaminya—entah sudah izin atau belum. Orang-orang Palestina biasa menyebutnya kafiyeh, bukan kopeah.

Apakah mereka akan melaksanakan aksi damai bela Palestina? Ternyata bukan. Emak-emak militan itu adalah serombongan mahasiswi KPI B semester 6 dan 8 yang akan menonton film Gaza Hayya 3 di bioskop XXI Transmart Bojongsoang, ditemani oleh Ibu Dekan tercinta, Ibu Hj. Nunung Nurhasanah, selaku “emak pengasuh” kami.

Dengan semangat ’70 (rata-rata tahun kelahiran kami), kami berboncengan motor menuju bioskop Transmart, persis seperti bapak-bapak pensiunan yang sedang menikmati sunmori-nya.

Baca Juga:  Perjalanan Menuju Ilmu, Menembus Jalanan dan Pengorbanan

Tapi tenang saja, seperti informasi yang sudah kami dapatkan sebelumnya dari rekan yang lebih dulu menonton, untuk film ini tidak perlu membawa tisu banyak-banyak. Hayya 3 bukan tipe film yang sepenuhnya menguras air mata. Namun bukan berarti hati kami tidak terguncang.

Justru film ini menyuguhkan narasi kemanusiaan yang kuat, dengan pendekatan yang membangkitkan rasa empati sekaligus membangun kesadaran kolektif.

Lebih dari Sekadar Film

Yang paling menyentuh bagi kami bukan hanya adegan-adegan di layar, melainkan pesan besar di balik produksi film ini. Ternyata 40% dari keuntungan film ini akan didonasikan langsung untuk rakyat Gaza. Sebuah langkah nyata yang menunjukkan bahwa menonton pun bisa menjadi bentuk kepedulian.

Film besutan Jastis Arimba dan ditulis oleh penulis ternama kebanggaan Indonesia, Asma Nadia, serta dibintangi oleh Oki Setiana Dewi, Azamy Syauqi, dan sederet artis ibu kota lainnya, membawa tema persahabatan, kehilangan, trauma, harapan, dan ujian saat sebuah insiden kembali mengancam keselamatan mereka.

Film ini mengingatkan kami bahwa Gaza bukan hanya cerita lama yang terus diulang, melainkan luka yang masih menganga dan dunia tidak boleh berpaling. Gaza bukan hanya tentang perang dan penderitaan, tetapi juga tentang harapan, keteguhan iman, dan perjuangan yang tak pernah padam.

Pesan Kemanusiaan yang Menggugah

Melalui Gaza Hayya 3, kami diajak untuk tidak hanya menonton, tapi juga menjadi bagian dari gerakan solidaritas. Film ini adalah ajakan diam-diam untuk bertindak: berdonasi, menyuarakan, mendoakan, dan memboikot produk-produk yang terafiliasi dengan negara sekutu pendukung zionis, semampu kita.

Mungkin hari ini kami hanya menonton, tetapi semoga langkah kecil ini bisa berarti besar di mata Allah dan bermanfaat bagi saudara-saudara kita di Palestina.

Terima kasih untuk tim produksi yang telah menyuguhkan kisah ini dengan kuat dan penuh makna. Semoga semakin banyak film yang bukan hanya menyentuh rasa, tetapi juga menggugah nurani.

Baca Juga:  Serangan Israel di Gaza Adalah Teror yang Diabaikan

Penutup Reflektif

Karena pada akhirnya, setiap langkah kecil menuju kebaikan—termasuk menonton film yang membawa pesan kemanusiaan seperti Gaza Hayya 3—adalah bagian dari amal di sisi-Nya.

Kita mungkin merasa tak banyak yang bisa kita lakukan untuk Gaza, tapi Allah melihat niat yang tulus dari setiap bentuk kepedulian.

Allah SWT berfirman:

“Barang siapa memberi pertolongan kepada suatu kebaikan, maka baginya pahala seperti orang yang melakukannya.” (QS. An-Nisa: 85)

Dan Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa yang tidak peduli terhadap urusan kaum Muslimin, maka ia bukan termasuk golongan mereka.” (HR. Thabrani)

Mari terus peduli. Mari terus menyuarakan, terus memboikot. Karena saudara-saudara kita di Gaza tidak butuh kita menangis untuk mereka—mereka hanya butuh kita berdiri bersama mereka, walau dengan hal kecil yang bisa kita lakukan hari ini.

*Penulis Mahasiswa KPI IAI Persis Bandung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *