
Daras.id – Kematian dr. Marwan al-Sultan bukan sekadar kabar duka dari medan perang. Ia adalah seorang dokter, pemimpin, dan simbol solidaritas kemanusiaan Indonesia untuk Gaza. Ketika serangan udara Israel pada 2 Juli 2025 menewaskan dr. Marwan bersama istri dan anak-anaknya di apartemen mereka, yang hancur bukan hanya sebuah keluarga—tetapi juga salah satu lambang paling nyata dari dukungan rakyat Indonesia bagi Palestina.
Serangan udara Israel pada 2 Juli malam menghantam sebuah apartemen di selatan Kota Gaza. dr. Marwan al-Sultan, seorang ahli jantung dan Direktur Rumah Sakit Indonesia di Gaza, tewas di lokasi bersama keluarganya. Media internasional dan lokal Palestina mengonfirmasi lokasi serangan berada di kawasan sipil padat.
Kementerian Luar Negeri Indonesia menyatakan duka cita mendalam dan mengecam keras serangan ini sebagai pelanggaran hukum humaniter internasional.
RS Indonesia—Monumen Solidaritas
RS Indonesia di Beit Lahiya, Gaza Utara, dibangun atas dukungan publik Indonesia melalui MER-C. Dari penggalangan dana rakyat hingga pengerahan relawan medis, rumah sakit ini adalah proyek nyata solidaritas masyarakat Indonesia untuk rakyat Palestina.
RS Indonesia menjadi salah satu dari sedikit rumah sakit rujukan di Gaza dengan layanan bedah, UGD, dan spesialisasi kardiologi. dr. Marwan adalah bagian kunci dari upaya mempertahankan layanan medis berkelanjutan di wilayah yang diblokade dan kerap diserang.
Serangan yang menewaskan dr. Marwan menghantam lebih dari nyawa individu—ia juga merusak sebuah lambang hubungan persaudaraan lintas negara.

Mengapa Tenaga Medis Menjadi Target?
WHO melaporkan lebih dari 490 tenaga medis tewas di Gaza sejak Oktober 2024. Rumah sakit, ambulans, dan klinik kerap terkena serangan. PBB menegaskan serangan terhadap fasilitas kesehatan bisa termasuk kejahatan perang jika disengaja atau dilakukan tanpa proporsionalitas.
dr. Marwan adalah salah satu dari hanya dua ahli jantung yang tersisa di Gaza. Kehilangan seperti ini bukan sekadar tragedi personal, tapi pukulan langsung ke jantung layanan kesehatan untuk lebih dari 2 juta orang di Gaza.
Antara Kecaman dan Tanggung Jawab Diplomasi
Indonesia melalui Kemlu mengecam keras serangan ini dan menyampaikan duka cita kepada keluarga korban dan rakyat Palestina. Komisi I DPR RI mendesak pemerintah untuk tidak hanya berhenti pada protes, tetapi juga mengambil langkah diplomasi lebih keras lewat PBB, OKI, dan forum internasional lainnya.
Sebagai negara yang membangun RS Indonesia di Gaza, Indonesia punya posisi unik untuk memimpin seruan penghormatan hukum humaniter internasional—terutama perlindungan tenaga medis dan fasilitas kesehatan.
Krisis Sistem Kesehatan yang Kian Memburuk
Kematian dr. Marwan memperparah krisis medis di Gaza:
- Kekurangan obat-obatan dan peralatan.
- Pemadaman listrik yang mematikan peralatan vital.
- RS penuh hingga 300% kapasitas.
- Blokade ketat membuat pasien tak bisa dirujuk ke luar.
Tanpa dokter seperti Marwan, pasien jantung bisa meninggal hanya karena tak ada layanan memadai. Ini adalah tragedi berlapis yang terus membayangi penduduk Gaza.
Solidaritas yang Layak Dipertahankan
Kematian dr. Marwan al-Sultan adalah tragedi yang melampaui statistik perang. Ia adalah simbol nyata solidaritas Indonesia yang kini diserang.
Pertanyaannya: apakah solidaritas itu cukup hanya dalam bentuk kecaman? Atau haruskah diwujudkan dalam diplomasi yang lebih kuat, bantuan yang lebih terencana, dan seruan konsisten untuk menegakkan hukum humaniter internasional?
Melindungi dokter yang bekerja tanpa memihak bukan hanya soal politik, tapi soal kemanusiaan. Jika dunia gagal di sini, kita semua gagal mempertahankan nilai paling mendasar dari kemanusiaan.
(Daras.id, Newsroom)





